Azyumardi Azra | Daan Yahya | Republika

Kabar Utama

Istiqamah untuk Keilmuan Islam

Kepakaran Azyumardi di bidang sejarah Islam telah menempatkannya sebagai ahli sejarah Islam kawasan Asia Tenggara yang sangat berpengaruh.

OLEH ROSSI HANDAYANI, MEILIZA LAVEDA

Indonesia kehilangan sosok cendekiawan Muslim, Prof Azyumardi Azra. Ketua Dewan Pers periode 2022-2025 tersebut meninggal di Rumah Sakit Kedah, Selangor, Malaysia pada usia 67 tahun, Ahad (18/9).  

Wafatnya sejarawan Islam yang akrab disapa Prof Azra merupakan kehilangan besar bagi Indonesia. Hingga akhir hayatnya, Prof Azra tetap istiqamah di jalur keilmuan dengan menyumbangkan pemikiran-pemikirannya demi kemajuan Islam dan negara. Pemikirannya itu juga secara rutin ia tuangkan dalam tulisan di kolom "Resonansi" Harian Republika.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Haedar Nashir turut kehilangan atas wafatnya Azra di Malaysia. Menurut Haedar, perjalanan Prof Azra ke negeri tetangga termasuk kategori syahid karena akan berbagi ilmu.

"Beliau adalah cendekiawan Muslim dan intelektual bangsa yang maqamnya sudah begawan atau ar-rasih fil-ilmi. Pemikirannya senantiasa jernih dan komprehensif, yang menggambarkan kedalaman dan keluasan ilmu, khususnya ilmu keislaman yang terkoneksi dengan berbagai aspek kehidupan," kata Haedar, Ahad (18/9).

Haedar mengatakan, almarhum merupakan sosok yang rendah hati, meskipun berada di puncak posisi sebagai intelektual ternama di tingkat regional dan global. Menurut Haedar, generasi muda Indonesia harus berguru dan mengambil banyak mozaik dari pemikiran-pemikiran Prof Azra yang mencerdaskan dan mencerahkan.

 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Persyarikatan Muhammadiyah (lensamu)

Azyumardi Azra meninggal dunia setelah sempat dirawat sejak Jumat (16/9). Sempat diisukan terinfeksi Covid-19,  tapi surat kematian yang dikeluarkan pihak rumah sakit menyatakan bahwa mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu meninggal karena serangan jantung.

Ia sedianya menjadi narasumber Konferensi Internasional Kosmopolitan Islam di Selangor, Malaysia, pada Sabtu (17/9), yang diselenggarakan Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM). Namun, Prof Azra mengalami sesak napas dalam penebangan menuju Kuala Lumpur.

Mantan menteri agama Lukman Hakim Saifuddin menilai, Prof Azra adalah satu dari sedikit cendekiawan yang diakui dunia, yang paling otoritatif berbicara tentang Islam di Asia Tenggara. "Pengetahuan keislamannya mengakar pada sumber-sumber klasik yang sangat kaya dan mendalam, baik sumber Arab maupun Nusantara. Banyak karya ilmiahnya menjadi rujukan dunia," kata dia, kemarin.

Lukman menuturkan, Prof Azra juga akademisi yang amat produktif menulis dan sosok teramat penting di balik transformasi IAIN menjadi UIN yang hingga kini terus tumbuh dan berkembang di banyak daerah di Indonesia. "Pada masa ia menjadi Rektor UIN Jakarta, jurnal ilmiah tingkat fakultas dan tingkat jurusan jadi semacam jamur di musim hujan," kata dia.

photo
Pemberantasan Korupsi. Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra memberikan paparan saat diskusi di Gedung Joeang, Jakarta. - (Republika/ Wihdan)

Saat almarhum memimpin pascasarjana, lanjut Lukman, terjadi pergeseran paradigma berpikir yang signifikan dari semula paradigma normatif-teologis gaya Harun Nasution, ke paradigma sosio-historis khas gayanya. Kajian-kajian yang di zaman Harun berbau dunia Islam pada umumnya dan dunia Arab pada khususnya, pada masa Azra diarahkan pada kajian-kajian Islam Nusantara atau kajian Islam Asia Tenggara.

"Banyak pertanyaan tentangnya diajukan, mengapa selama hayatnya tak berkarier di birokrasi atau tak menduduki jabatan penting di organisasi sosial politik dan ormas keagamaan? Ia memang teruji tak tergoda ke dalam aktivitas politik praktis. Namun, justru di situlah konsistensinya sebagai ilmuwan tulen. Ia akademisi sejati, pengembara yang soliter," terang Lukman.

Meski demikian, Prof Azra sama sekali bukan sosok yang apolitis. Keahliannya sebagai seorang sejarawan Islam tidak menghentikannya terlibat dalam wacana kontemporer, khususnya demokrasi, politik, hukum, dan sosial keagamaan.

"Sampai dengan Allah memanggilnya pulang, ia tetap menjaga jarak dengan kekuasaan, terus menjadi intelektual terkemuka yang paling vokal dalam menyuarakan aspirasi publik," ujarnya.

Ketua Umum Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Pdt Gomar Gultom turut berduka cita atas meninggalnya Prof Azra. "Beliau seorang cendekiawan Minang, yang kepakarannya diakui dunia dan sangat banyak memberikan sumbangan pemikiran bagi perdamaian dunia," ujar dia dalam pesan teks yang diterima Republika.

photo
Jelang World Culture Forum.SC World Culture Forum (WCF) 2016 Azyumardi Azra saat konferensi pers di Kemendikbud, Jakarta, Selasa (4/10/2016). - (Republika/ Wihdan Hidayat)

Oleh karena itu, kata dia, tak heran Kaisar Jepang menganugerahinya "The Order of the Rising Sun: Gold and Silver Star". Sementara dari Ratu Inggris, almarhum mendapatkan gelar kehormatan "Commander of the Order of the Bristush Empire (CBE)", dan berbagai penghargaan internasional lainnya.

Menurut Gultom, Azra merupakan seorang pemikir independen. Kedekatannya dengan Pemerintahan Joko Widodo tidak menghilangkan kemandiriannya untuk menyampaikan pandangan-pandangan kristis atas kebijakan yang ditempuh oleh Jokowi.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Prof Azra yang merupakan intelektual Islam Indonesia. Prof Azra, kata Menag, merupakan tipologi ilmuwan organik dan akademisi yang membumi. Sebagai intelektual, almarhum sangat responsif dan kontributif terhadap dinamika perkembangan zaman.

Sebelum mengenal Prof Azra, Menag mengaku sudah lebih dulu mengenal almarhum dari karya akademis dan karya sosialnya. "Beliau sangat produktif menulis, baik dalam bentuk buku, artikel jurnal dan tulisan-tulisan populernya di media massa. Tepat kalau beliau dijuluki sebagai cendekiawan yang konsisten dengan dunia akademik dan selalu berpikir dengan tangannya," ujar Menag.

Makalah terakhir 

Azyumardi Azra semula direncanakan menjadi narasumber Konferensi Internasional Kosmopolitan Islam di Selangor, Malaysia, pada 17 September 2022, yang diselenggarakan oleh Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM). Guru Besar Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga sudah menyiapkan bahan yang akan dipersentasikan dalam konferensi tersebut.

Dikutip dari makalah persidangan yang diterima, Prof Azra sudah menuliskan bahan makalah presentasi berjudul "Nusantara untuk Kebangkitan Peradaban: Memperkuat Optimisme dan Peran Umat Muslim Asia Tenggara". Dalam poin-poin yang tertuang dalam makalah tersebut, almarhum menyampaikan optimisme penduduk Muslim di Asia Tenggara yang mayoritas berjumlah besar di Indonesia dan Malaysia yang berpotensi besar menjadi pusat peradaban dunia.

Menurut Azyumardi, berbagai indikator mendukung optimisme tersebut. Antara lain, AS dan Eropa yang mengalami kemunduran bahkan krisis ekonomi yang berkelanjutan. Sedangkan, berbagai negara Asia, seperti Jepang dan Korea Selatan, tetap bertahan. Pada saat yang sama, sejumlah negara Asia tengah bangkit, mulai dari China, India, Indonesia, Malaysia, Iran, Singapura, dan Thailand.

Di sisi lain, kemajuan ekonomi cukup fenomenal terjadi di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim Indonesia dan Malaysia yang mendorong peningkatan kualitas pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan living condition masyarakat.

Azyumardi juga menuliskan tentang fenomena suara dari Asia Tenggara yang berisi harapan pemerintahan berbagai Muslim di Asia Barat dan Asia Selatan kepada kaum Muslim Asia Tenggara. Ini menempatkan harapan agar Indonesia dan Malaysia sebagai penduduk Muslim terbesar untuk memainkan peran lebih proaktif dalam membantu berbagai masalah dunia.

photo
Peluncuran Buku Naik Haji Azyumardi Azra menjadi pembicara saat peluncuran buku Naik Haji di Masa Silam dan Kakawin Sumanasintaka di Perpustakaan Nasional, Jakarta. - (Republika/Agung Supriyanto)

"Indonesia dan Malaysia yang berpenduduk mayoritas Muslim—di tengah keragaman sosial-budaya dan keagamaan dan politik demokratis yang terus berkembang, dalam pandangan orang luar sekali lagi, telah menjadi contoh baik bagi masyarakat internasional. Masalahnya kini, apakah kita mau memenuhi harapan itu atau kita masih saja berusaha memenuhi harapan itu seadanya saja, tanpa upaya serius untuk lebih meningkatkannya," demikian dikutip dari makalah persidangan acara Konferensi Internasional Kosmopolitan Islam.

Azyumardi juga menyinggung tantangan yang dihadapi kebangkitan peradaban Muslim atau kebangkitan Islam dalam empat dasawarsa terakhir. Meskipun, jumlah kaum Muslimin meningkat secara signifikan pada tingkat internasional, tetapi potensi itu belum bisa diwujudkan karena kebanyakan penduduk Muslim tinggal di negara berkembang dan terbelakang.

Azyumardi berharap Muslim lebih menumbuhkan orientasi ke depan daripada romantisme tentang kejayaan peradaban Muslim di masa silam. Dia menilai pentingnya kaum Muslimin lebih mengkonsentrasikan diri pada upaya-upaya kreatif dan produktif. Untuk itu, pendidikan merupakan prasyarat mutlak bagi kebangkitan peradaban Islam.

Pendidikan Islam

Cendekiawan Muslim Prof Azyumardi Azra yang wafat pada Ahad (18/9) meninggalkan warisan berharga bagi institusi pendidikan Islam. Azyumardi merupakan sosok penting di balik transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 
Prof Azra melakukan perubahan penting dalam mendorong kemajuan kualitas pendidikan yang ditawarkan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) sehingga bisa lebih kompetetif.
 
 

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Amany Lubis mengatakan, wafatnya Prof Azra menyisakan duka mendalam seluruh sivitas akademi UIN Jakarta. Prof Azra adalah Rektor UIN Jakarta periode 1998-2000. Sepanjang masa kepemimpinannya, Prof Azra telah memimpin pengembangan universitas dengan ide-ide konstruktif dan penuh dedikasi.

Menurut dia, Azyumardi telah menorehkan banyak karya penting yang perlu diteladani. Salah satunya, Prof Azra melakukan perubahan penting dalam mendorong kemajuan kualitas pendidikan yang ditawarkan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) sehingga bisa lebih kompetitif. Juga memberikan peluang luas bagi lulusan madrasah, pesantren, maupun sekolah lainnya dalam meraih cita-cita.

Perubahan yang dimaksud adalah mendorong transformasi IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di masa kepemimpinannya sebagai rektor, IAIN Jakarta berhasil beralih status menjadi UIN Jakarta dengan terbitnya Keputusan Presiden RI No 031 Tanggal 20 Mei 2002 sekaligus menempatkan UIN Jakarta sebagai PTKIN berstatus UIN pertama.

Melalui transformasi ini, kata dia, UIN Jakarta bisa mengembangkan banyak fakultas dan program studi berbasis integrasi ilmu. Hal ini ditandai dengan hadirnya fakultas-fakultas di era UIN, seperti Fakultas Psikologi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Kesehatan, dan Fakultas Kedokteran.

"UIN Jakarta terus memperkuat fakultas dan program studi berbasis keislaman era IAIN Jakarta. Di antaranya, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Ilmu Komunikasi, dan Fakultas Dirasat Islamiyah," kata Amany, Ahad (18/9).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (nahdlatululama)

Tidak hanya mendorong pengembangan UIN Jakarta, transformasi tersebut pada akhirnya menginspirasi sejumlah PTKIN lain untuk berubah dari STAIN atau IAIN menjadi UIN. Total kini terdapat 29 PTKIN dengan status UIN dengan bertambahnya empat UIN pada 2022, yaitu UIN Mahmud Yunus Batusangkar, UIN Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi, UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan, dan UIN Salatiga.

Amany mengatakan, sebagai seorang guru, Prof Azra juga merupakan sosok guru yang bijak, pendidik yang amanah, serta lebih banyak mengedepankan kemajuan ilmu pengetahuan. Ia juga memberikan teladan sangat positif bagi para akademisi untuk berpegang teguh pada rasionalitas dalam nuansa spiritual yang kental.

"Untuk itu, kami di UIN Jakarta merasa sangat kehilangan atas wafatnya Profesor Azumardi Azra," kata dia.

Sebagai akademisi, Prof Azra merupakan salah satu Guru Besar Sejarah Islam di UIN Jakarta. Selain mengajar di Fakultas Adab dan Humaniora, ia juga tercatat mengajar dan membimbing mahasiswa program doktor di Program Doktor Pengkajian Islam di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.

Sebagai seorang guru besar sejarah, kepakaran Azyumardi di bidang sejarah Islam telah menempatkannya sebagai ahli sejarah Islam kawasan Asia Tenggara yang sangat berpengaruh. Disertasinya yang berjudul "The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay-Indonesian 'Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries", belakangan diterbitkan menjadi Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Ini menginspirasi para sarjana untuk menekuni studi sejarah Islam dan masyarakat Muslim di kawasan Nusantara.

 
Sebagai seorang guru besar sejarah, kepakarannya Azyumardi di bidang sejarah Islam telah menempatkannya sebagai ahli sejarah Islam kawasan Asia Tenggara yang sangat berpengaruh.
 
 

Atas kiprah akademik dan sosialnya yang luar biasa, Prof Azra tercatat menerima banyak penghargaan dari berbagai institusi dalam dan luar negeri. Di antaranya, penghargaan sebagai Penulis Paling Produktif dari Penerbit Mizan (2002), Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (2017), Order of Rising Sun: Gold and Silver Star dari Kaisar Jepang (2017), dan yang paling utama penghargaan Commander of the Most Excellent Order of the British Empire (CBE) dari Kerajaan Britania Raya (2010).

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mengatakan, Prof Azra dikenal sebagai ilmuwan yang sangat berkelas, tidak hanya dalam skala nasional, tetapi juga dunia. Almarhum sering diundang sebagai pembicara di forum-forum ilmiah, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di berbagai forum dan kampus terkenal di mancanegara.

"Pandangan-pandangannya sangat dihormati dan banyak dijadikan rujukan. Bahkan boleh dikatakan tidak ada tokoh dan cendekiawan dunia yang menjadikan Indonesia sebagai objek kajiannya, yang tidak kenal dengan beliau," kata Anwar Abbas.

Bagi UIN Jakarta, kata dia, kepergiannya tentu saja akan membuat seluruh sivitas akademika dan alumninya berduka. Ini mengingat jasa almarhum yang sangat besar dalam memajukan UIN Jakarta. Ia mengatakan, Prof Azra bukan hanya mampu mengubah wajah UIN Jakarta secara fisik, juga berhasil menumbuhsuburkan budaya akademik dan ilmiah di kalangan dosen dan mahasiswa.

"Serta mengangkat UIN Jakarta menjadi sebuah perguruan tinggi Islam yang bergengsi yang tidak hanya dikenal di Tanah Air, tapi juga oleh dunia internasional terutama oleh mereka-mereka yang tertarik dengan kajian-kajian keislaman," katanya.

NU 100 Tahun (2)

Sulit dibayangkan Indonesia tanpa NU, yang beserta ormas-ormas Islam menjadi faktor stabilisasi dan kohesi sosio-religius, religio-kultural, dan religio-politik Indonesia.

SELENGKAPNYA

NU 100 Tahun (1)

Setelah 100 tahun melangkah, lalu apa prioritas utama NU menjalani masa satu abad selanjutnya?

SELENGKAPNYA