Hamba Tawakal | Pixabay.com
29 Nov 2019, 20:54 WIB

Kajian Mushala Nurul Hidayah Menjadi Hamba Tawakal

Dalam tawakal, ada sebab atau usaha yang dilakukan.

Bersandar kepada Allah SWT dan diri sendiri merupakan salah satu bentuk tawakal yang bisa dilakukan oleh seorang Muslim. Ustaz Pamuji Hadi Waluyo dalam kajiannya menyebut, orang Islam yang bertawakal tidak menjadikan hal tersebut sebatas beban moral.

Ia menyebut, tawakal merupakan salah satu bentuk kewajiban dalam beragama. Tawakal juga merupakan bentuk akidah atau iman seorang Muslim yang tidak akan dipahami oleh yang lain.

Dalam QS al-Maidah ayat 23 Allah SWT telah memberikan perintah untuk bertawakal, Berka talah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman.

Dalam surah lainnya, at-Taubah ayat 129, Allah SWT juga berfirman, Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), `Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya lah aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki `Arsy (singgasana) yang agung.

Bagi orang Muslim yang betul-betul beriman, cukuplah bersandar kepada Allah SWT. Bertawakal ini kewajiban dalam beragama dan bagian dari akidah,ujar Ustaz Pamuji dalam kajiannya.

Seorang Muslim dalam beribadah kepada Allah akan selalu disertai dengan rasa tawakal. Dia sepenuhnya akan menyerahkan diri kepada Allah SWT. Bagi orang-orang yang tidak mengerti tentang Islam, tawakal tidak ada nilainya dan sebatas ucapan saja. Tidak ada kesadaran dan gerakan dari hati untuk tulus menja lankan nya. Ustaz Pamuji pun menyebut, dalam memaknai tawakal tidak bisa hanya dibibir, tetapi juga harus diresapi maknanya.

Dalam tawakal, ada sebab atau usaha yang dilakukan. Bagi yang tidak paham, mereka akan merasa puas dengan takdir atau apa yang terjadi serta berserah tanpa berusaha. Yang seperti itu namanya bukan tawakal. Mereka hanya menjual kata tawakal. Tawakal yang benar harusnya menjadi bagian dari keimanan, akidah, dan disertai perbuatan,ujar nya.

Tawakal berarti ada mimpi yang diusahakan. Bersamaan dengan usaha yang telah dilakukan, ia berkeyakinan, jika Allah menjadi penentunya dan ia akan merasa tenang. Jika Allah SWT menghendaki, mimpi yang diusahakan akan terwujud, begitu pula sebaliknya. Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan usaha yang telah dilakukan oleh hamba-Nya.

Orang Islam yang memahami agama akan mengimani hal terse- but dengan sunnatullah. Bahwa semua yang ada di dunia sesuai dengan ibadah, amal perbuatan, dan usaha. Bagi orang yang beriman, mereka akan menyiapkan amalan-amalannya dengan sungguh-sungguh. Mereka juga akan semaksimal mungkin menyiapkan cara menggapai mimpinya sesuai dengan kemampuan dan keyakinan pada ketetapan Allah SWT.

Tawakal berarti bersandar sepenuhnya kepada Allah SWT, bersandar kepada Islam dan ajaran-ajaran-Nya.Rasulullah kerap mencontohkan hal tersebut, termasuk dalam rangkaian perang yang pernah dilewati.

Rasul dalam menghadapi perang tidak pernah terjun begitu saja dan pasrah tanpa persiapan. Persiapan selalu dilakukan bahkan maksimal dan terbaik. Bahkan, disebut, Nabi tidak berkenan melancarkan serangan saat hari sedang panas, ujar Ustaz Pamuji.

Selain menyiapkan strategi, Rasulullah menyiapkan logistik dan hal lain yang berhubungan dengan perang, Rasulullah SAW juga tidak pernah lupa melantunkan doa kepada Allah SWT. Doa yang ia panjatkan yaitu, Ya Allah, Dzat Yang menurunkan Al quran, Yang menggerakkan awan, Yang mengalahkan kom- plotan tentara (kafir), kalahkan- lah mereka dan menangkanlah kami atas mereka.

Sementara itu, bersandar pada diri sendiri berarti berusaha sebaik mungkin dengan kemampuan diri tanpa menggantungkan nasib pada orang lain. Hal ini juga termasuk dalam tawakal.

Ustaz Pamuji menyebut orang yang bersandar pada diri sendiri cenderung tahu batasan dirinya dan memperbanyak doa agar dibantu oleh Allah SWT. Mereka memiliki keyakinan penuh akan dirinya, tapi tidak memutus hubungan dengan Allah SWT. Orang-orang seperti ini yakin dengan apa yang mereka lakukan dan percaya bahwa yang menentu kan berhasil tidaknya usaha mereka adalah Allah SWT, ucap dia.

Muslim yang beriman, bertakwa, dan berakidah berarti bersandar pada diri sendiri dalam usaha yang ia lakukan. Dia membutuhkan Allah SWT sebagai penolongnya, bukan kepada sesama makhluk.

Dalam HR Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan mem berikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.(ed: a syalaby ichsan)


×