Alwi Shahab | Daan Yahya/Republika

Nostalgia

Nasionalisme dan Kisah Pendudukan Jepang

Di masa pendudukan Jepang hidup rakyat sangat menyedihkan.

OLEH ALWI SHAHAB

Awal 1950-an baru saja terjadi penyerahan kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda kepada Indonesia. Semangat nasionalisme sedang berkobar-kobar.

Saya yang masih remaja kala itu merasakan semangat ini di kalangan masyarakat. Tiap pemuda termasuk bapak-bapak bila bertemu menyapa dengan: "Merdeka, Bung", yang spontan dijawab: "Tetap".

“Bung” sapaan paling populer ketika itu. Saya tidak tahu siapa yang memulai sebutan bung yang sampai kini masih tetap populer. Ketika saya hendak mendatangi sebuah kampung dan ingin bertanya sesuatu saya diperingatkan agar bila bertanya sesuatu, kita harus menegur yang kita ingin tanyakan dengan kata bung. Kalau bukan bung, tidak akan dijawab.

Saya masih ingat suasana ketika Bung Karno tiba kembali di Jakarta setelah hijrah ke Yogyakarta. Waktu itu tanggal 28 Desember 1949, sehari setelah penyerahan kedaulatan di Istana Merdeka. Bung Karno baru saja tiba di Jakarta setelah sejak Januari 1946 hijrah ke Yogyakarta karena Jakarta diduduki NICA yang ingin berkuasa kembali di Indonesia.

 
Saya masih ingat suasana ketika Bung Karno tiba kembali di Jakarta setelah hijrah ke Yogyakarta. Waktu itu tanggal 28 Desember 1949, sehari setelah penyerahan kedaulatan di Istana Merdeka.
 
 

Bung Karno, berpakaian putih-putih melambai-lambaikan tangannya kepada rakyat yang memadati sekitar mobilnya tanpa pengawalan ketat. Rakyat dengan histeris menyambut salam dari presidennya, ketika mobil dengan kap terbuka meluncur dari Bandar Udara Kemayoran menuju Istana Merdeka.

Pada awal 1950-an, penduduk Jakarta hanya 1,2 juta jiwa. Mereka tumplek di jalan-jalan yang dilewati kendaraan Bung Karno untuk mengelu-ngelukannya. Bahkan, banyak massa rakyat hingga tangga istana.

Waktu itu masih terlihat tentara Jepang yang baru saja menyerah kepada Sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom yang mengakibatkan ratusan ribu rakyat meninggal dunia.

Sayangnya, sejak penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia, terjadi pemberontakan DI/TII yang berpusat di Priangan Timur (Garut dan Tasikmalaya). Kota Jakarta dipenuhi oleh pengungsi yang menghindar dari teror DI/TII. Mereka kala itu tinggal di rumah-rumah pondokan yang dibuat berpetak-petak.

 
Sayangnya, sejak penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia, terjadi pemberontakan DI/TII yang berpusat di Periangan Timur (Garut dan Tasikmalaya).
 
 

Di kampung saya, Kwitang, Jakarta Pusat, mereka umumnya tinggal di tepi Sungai Ciliwung. Orang-orang Tasik ini di Jakarta kemudian banyak yang berprofesi sebagai tukang kredit dari kampung ke kampung di Jakarta. Sedangkan, warga Garut umumnya menjadi tukang cukur rambut.

Gedung-gedung bekas peninggalan Jepang yang menjajah Indonesia selama tiga setengah tahun boleh dikatakan tidak ada di Jakarta. Bahkan, gedung-gedung bekas peninggalan Belanda selama penjajahan Jepang mereka jadikan sebagai markas balatentara Jepang.

Yang masih terkesan hingga kini adalah di masa perang dengan Sekutu, ratusan ribu rakyat Indonesia harus menghadapi kerja paksa. Para pemuda ini dijadikan romusha dan dikirim ke tempat-tempat jauh seperti ke Burma dan Thailand untuk membangun jembatan, jalan kereta api, dan berbagai instalasi peramg.

 
Yang masih terkesan hingga kini adalah di masa perang dengan Sekutu, ratusan ribu rakyat Indonesia harus menghadapi kerja paksa.
 
 

Dari sekitar 22 ribu romusha yang dikirim ke Thailand dan Burma yang hidup dan kembali ke Indonesia hanya 5.000 orang. Di masa pendudukan Jepang hidup rakyat sangat menyedihkan.

Di jalan–jalan banyak terlihat orang yang menderita busung lapar (hongeredom). Bukan hal aneh kala itu, jika ada rakyat yang mati di pinggir jalan karena kelaparan atau memakai pakaian dari karung. Yang paling ditakuti rakyat adalah Kempetai atau polisi militer Jepang, yang main tampar, pukul, dan tendang.

Di masa itu, taiso, gerak badan tiap pagi diwajibkan di sekolah-sekolah. Penggunaan bahasa Belanda bukan cuma dilarang tapi dikenakan hukuman. Pada 1950-an Jepang membayar pampasan perang akibat kerugian Pemerintah RI karena penjajahan Jepang, antara lain, dalam bentuk Hotel Indonesia dan toko serbaada Sarinah, keduanya di Jalan Thamrin.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an pelanggaran hukum atau penyalahgunaan kekuasaan termasuk korupsi oleh para pemimpin dari angkatan 1928-an boleh dikatakan tidak banyak terjadi seperti sekarang ini. Pada tahun-tahun tersebut jarang sekali berita tentang korupsi, bahkan boleh dikatakan tidak ada. 

Disadur dari harian Republika edisi 27 Oktober 2014. Alwi Shahab merupakan wartawan Republika sepanjang zaman yang wafat pada 2020

Gaung Pan-Islam di Pekojan

Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-18 menetapkan Pekojan sebagai kampung Arab.

SELENGKAPNYA

Jaringan Ulama Penyulut Api Perlawanan Kolonial

Melalui jaringan ulama Indonesia itulah api perlawanan terhadap kolonial semakin besar dinyalakan.

SELENGKAPNYA

Teungku Fakinah: Perempuan, Ulama, dan Panglima

Teungku Fakinah membuat kampanye perang kepada para wanita setelah suaminya gugur dalam perang.

SELENGKAPNYA