Sandra Ngongoloy, seorang mantan misionaris yang kemudian memeluk Islam | DOK Tangkapan Layar Youtube Mualaf Center Aya

Oase

Berislamnya Sandra Ngongoloy Sang Mantan Misionaris

Kagum pada cara Muslimin berpuasa dan ibadah, Sandra memutuskan bersyahadat.

 

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

 

Keputusan Sandra Ngongoloy untuk berislam merupakan sebuah panggilan hati. Ia pun sangat bersyukur, dirinya kini adalah seorang Muslimah. Walaupun pelbagai tantangan yang datang kepadanya tidaklah mudah, perempuan tersebut terus tegar untuk selalu mempertahankan iman dan Islam.

Kepada tim YouTube Mualaf Center Aya Sofia, ia menuturkan kisah masa lalunya hingga menemukan cahaya agama tauhid. Wanita paruh baya ini berasal dari Desa Mogoyunggung, Kecamatan Dumoga Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara. Di desa tersebut, saat ini hanya Sandra yang telah memeluk Islam.

Tumbuh besar di lingkungan mayoritas non-Muslim mungkin biasa saja di daerah tersebut. Akan tetapi, Sandra sejak kecil diarahkan untuk menjadi seorang misionaris. Kedua orang tuanya ingin agar kelak buah hatinya itu berperan sebagai pemuka agama.

 
Sandra sejak kecil diarahkan untuk menjadi seorang misionaris. Kedua orang tuanya ingin agar kelak buah hatinya itu berperan sebagai pemuka agama.
 
 

Keluarganya itu memiliki pandangan yang penuh curiga terhadap Islam. Bahkan, beberapa dari mereka menyatakan kebencian terhadap agama yang dianut mayoritas orang Indonesia ini. Dalam suasana itulah, Sandra mengalami masa kecil hingga remaja.

Pada akhirnya, ia berhasil menjadi seorang penyebar warta ajaran agama saat itu. Atas saran para seniornya, Sandra pun mempelajari seluk beluk Islam. Tujuannya ketika itu bukanlah secara simpatik mengenal risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini. Ambisinya adalah menemukan kelemahan-kelemahan dalam ajaran Islam. Dengan begitu, dirinya memiliki bekal untuk mengajak sebanyak-banyaknya Muslimin agar meninggalkan agama mereka.

Sandra berupaya meningkatkan usahanya dalam memurtadkan orang Islam. Namun, saat membaca teks-teks keislaman ia menemukan konsep tauhid. Agama ini menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah; Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Sandra pun semakin tertarik untuk menyelami pokok-pokok ajaran Islam. Maka, lambat laun rasa sinisme terhadap agama ini mereda. Bahkan, semangatnya untuk menggencarkan pemurtadan justru meredup.

Sebab utamanya, ia mulai memerhatikan pola kehidupan orang-orang Islam di daerah tempatnya menjalankan misi. Sandra mengamati, beberapa Muslim mengamalkan agamanya dengan begitu baik. Mereka rajin beribadah dan berdoa. Dalam lingkungan sosial pun, mereka menunjukkan sikap ramah dan tepa salira. Dalam hati wanita itu pun tumbuh keinginan untuk masuk Islam.

“Saya melihat orang Islam melakukan shalat. Itu seperti tamparan bagi saya saat itu karena, misal, untuk membaca kitab saja masih sesuka hati,” ujar Sandra kepada tim YouTube Mualaf Center Aya Sofia, beberapa waktu lalu.

 
Orang Islam kalau mau berdoa, harus bersuci dulu, berwudhu. Begitu pula kalau mau membaca Alquran. Melihat hal-hal seperti itulah yang membuat saya tertarik pada Islam
 
 

“Saya perhatikan, orang Islam kalau mau berdoa, harus bersuci dulu, berwudhu. Begitu pula kalau mau membaca Alquran. Melihat hal-hal seperti itulah yang membuat saya tertarik pada Islam,” katanya menambahkan.

Waktu itu, ia mencoba berbagi pengalamannya kepada rekan-rekan sesama misionaris. Mereka tidak menanggapinya secara positif. Ada yang bersikap acuh tak acuh. Beberapa di antaranya justru melampiaskan amarah. Para koleganya ini menganggap Sandra sudah sesat.

Pada suatu malam, ia bermimpi yang cukup aneh. Dalam mimpinya itu, Sandra merasa sedang berjalan dengan dua orang kawannya. Namun, tiba-tiba mereka meninggalkan dirinya di belakang.

Belum selesai rasa terkejutnya, ia kemudian didatangi seseorang yang berbadan tinggi dan besar. Orang misterius itu mengayunkan tangannya, hendak membunuh Sandra. Seketika, wanita ini lari untuk menyelamatkan diri. Berkali-kali suaranya berteriak memanggil dua kawannya itu, tetapi tidak ada respons dari mereka.

Sandra pun teringat bahwa dirinya berada dalam proses mempelajari Islam. Satu teks keislaman yang terekam dalam memorinya adalah takbir. Ketika si raksasa itu nyaris menghantamnya, wanita itu langsung mengucapkan “Allahu akbar” berkali-kali.

Mendadak, tubuh orang itu yang semula amat besar menjadi kecil tak berdaya. Sandra lantas memukul sosok itu hingga babak belur. Ia pun bergegas mengejar dua temannya itu. Saat mereka bertanya, wanita itu menjawab bahwa dirinya baru saja diselamatkan oleh Allah.

photo
Sandra Ngongoloy mengaku tertarik mempelajari Islam setelah melihat orang-orang di sekitarnya rajin shalat. - (DOK Tangkapan Layar Youtube Mualaf Center Aya)

Menjadi Muslimah

Di antara faktor pendorong Sandra untuk segera menjadi Muslimah adalah mimpi yang dialaminya pada malam itu. Pada 2017, ia pun memantapkan hatinya untuk memeluk Islam. Berbagai persiapan dilakukannya secara mandiri. Misalnya, menghafal dan mencatat arti surah al-Fatihah, belajar gerakan dan bacaan shalat, serta mengikuti pengajian.

Pada 15 Desember 2017, Sandra berangkat ke markas Mualaf Center Aya Sofia Malang, Jawa Timur. Di sana, ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Prosesi itu dilakukan tanpa sepengetahuan suaminya.

Namun, pada akhirnya sang suami mengetahui kabar keislamannya. Lelaki itu menjadi berang. Sandra tidak lagi diberikan nafkah. Kemudian, seolah-olah tidak ada hari tanpa rumahnya didatangi para pemuka agama non-Islam. Mereka berulang kali membujuknya kembali kepada kepercayaan lama.

Mendekati bulan suci Ramadhan pada 2018 M, Sandra sempat bingung. Sebab, bagaimana mungkin puasa dan ibadah-ibadah lainnya bisa dilakukan dengan baik di rumah selama 30 hari penuh? Untunglah, ia memiliki seorang sepupu yang Muslim di Bandung, Jawa Barat. Maka, beberapa hari saat Ramadhan dan momen Idul Fitri wanita itu lalui di rumah sepupunya itu.

 
Saya ada sepupu di Bandung yang tahu kalau saya masuk Islam. Saya ke sana untuk melaksanakan puasa Ramadhan sampai Lebaran baru pulang.
 
 

“Saya ada sepupu di Bandung yang tahu kalau saya masuk Islam. Saya ke sana untuk melaksanakan puasa Ramadhan sampai Lebaran baru pulang. Belum berani berterus terang (bahwa sedang puasa -- Red) kepada suami,” tutur dia.

Sepulang dari Bandung, Sandra pun memberanikan diri untuk berdiskusi dengan suaminya. Lelaki itu murka begitu mendengar sang istri menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Dari lisannya pun keluar pelbagai tuduhan yang tidak berdasar. Mualaf ini ditudingnya masuk Islam agar bisa selingkuh dengan pria idaman lain.

Sandra menghadapi tudingan-tudingan itu dengan tenang. Sebagai seorang Muslimah, ia percaya, kesabaran dapat menguatkan dirinya. Setiap kalimat hinaan yang dilakukan suaminya terhadap Islam hanya dibalas sang istri dengan istighfar.

Sejak saat itu, Sandra selalu dimusuhi oleh suaminya. Tidak lagi dirinya diberi uang untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan. Bagaimanapun, wanita ini tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dan sekaligus seorang ibu.

Memang, suaminya sempat meredakan amarah. Bahkan, Sandra tidak lagi diganggu saat sedang shalat di dalam kamarnya. Sebelumnya, ia mesti sembunyi-sembunyi untuk bisa berwudhu atau shalat lima waktu.

 
Sebelumnya, ia mesti sembunyi-sembunyi untuk bisa berwudhu atau shalat lima waktu.
 
 

Uniknya, kabar keislaman Sandra ikut direspons penduduk desa setempat. Mayoritas mereka beragama non-Islam. Beberapa di antaranya terus meners mengajaknya kembali pada agama lama.

Caranya dengan membanding-bandingkan beberapa elemen dalam ajaran agama mereka dan Islam. Bagaimanapun kerasnya tekanan itu tidak sampai menyurutkan tekadnya berislam.

Hatinya telah mantap dengan Islam. Agama ini dipandangnya membawa ketenangan dan kedamaian batin. Sandra juga semakin rajin beribadah, termasuk mendirikan shalat-shalat sunah.

Betapapun gangguan dari suaminya terus berlangsung. Tetap saja Sandra bersabar. Ketika shalat, ia pun mencurahkan seluruh isi hatinya kepada Allah. Kalimat “Laa haula walaa quwwata illaa billah” menjadi andalannya saat mendapatkan ujian berat. Hal itu membuatnya yakin bahwa hanya kepada Allah segalanya berserah diri. Akan ada kemudahan di balik setiap kesusahan.

Sandra mulanya mendapatkan pendampingan khusus dari pendiri Mualaf Center Nasional Aya Sofya, almarhum Ustaz Insan LS Mokoginta. Pada saat itu, ia melalui negoisasi yang panjang dan rumit. Suaminya lalu menantang Ustaz Insan untuk berdebat pada hari itu juga. Jika suaminya kalah berdebat, mesti masuk Islam. Jika menang, maka Ustaz Insan harus masuk agama mereka.

Pada akhirnya, suami Sandra kalah. Namun, lelaki ini masih bersikukuh tidak ingin memeluk Islam. Sebenarnya jikalau suami Sandra bersikap jujur dan serius mencari kebenaran, akan ada yang mengakui bahwa Islam adalah agama yang benar. Suami Sandra sangat keras kepala dan mempertahankan keyakinannya dengan menolak kebenaran berdasarkan bukti-bukti dalam kitab suci agama mereka.

Karena perbedaan yang ada tidak tuntas dijembatani, maka perceraian menjadi jalannya. Tak langsung ke pengadilan untuk membuat gugatan cerai, Sandra mencoba untuk mendekati suaminya.

Ia pun berbuat baik, meyakinkan, dan mengajaknya untuk ikut masuk Islam. Diingatkannya lagi bahwa pasangannya itu telah mengakui kalah saat berdebat dengan Ustaz Insan. Namun, pada akhirnya ia harus rela bercerai dengan suaminya.

 

Kenali Prioritas dari Konsep Diri 

Sumber dari ketidakpuasan seseorang berasal dari ketidakpercayaan terhadap diri sendiri.

SELENGKAPNYA

Bebas Berekspresi di Busana Tertutup

Memilih busana tertutup tidak akan mengurangi kebebasan berekspresi kaum Hawa.  

SELENGKAPNYA

Siapkan Liburan Nyaman untuk Keluarga

Rangkaian aktivitas bermain bisa membantu tumbuh kembang anak.

SELENGKAPNYA