Pedagang menyelesaikan kerajinan pohon panjat pinang di Manggarai, Jakarta, Senin (8/8/2022). Menurut pedagang kerajinan pohon panjat pinang yang dijual dengan harga Rp 750.000 sampai Rp 1.500.000, untuk lomba perayaan hari ulang tahun kemerdekaan HUT RI | Republika/Putra M. Akbar

Opini

Mengingat Duka, Menyongsong Suka, dan Merdeka

Tidak ada alasan apapun yang boleh mengatakan bahwa kebhinekaan akan menjadikan disintegrasi bangsa.

NANANG SUMANANG, Guru Sekolah Indonesia Davao

When you are happy you enjoy the music, but when you are sad, you understand the lyrics

Pepatah di atas sangat familiar pada masyarakat Barat. Secara bebas arti pepatah tersebut adalah bahwa ketika kita sedang berbahagia, kita akan menikmati musiknya, tetapi ketika kita bersedih, maka kita akan menikmati liriknya.

Pepatah tersebut bisa saja multi-tafsir, tergantung dari latar belakang dan tujuan orang-orang yang akan menafsirkan pepatah tersebut. Tetapi, penafsiran yang umum dari pepatah di atas adalah, betapa banyaknya manusia, yang ketika sedang dalam kesedihan dia akan mencari keluarga, teman atau sahabat yang dapat meringankan kesedihan dan penderitaannya, tetapi ketika dia sudah berbahagia, maka dia akan berbagi kebahagiaannya dengan orang lain, dan melupakan orang-orang yang membantunya ketika dia dalam kesedihan dan penderitaan. 

Pepatah yang berisi sindiran tersebut sepertinya juga berlaku kepada kita, yaitu sering kalinya kita  melupakan orang-orang yang telah berjasa, membantu kita ketika dalam keadaan terpuruk atau kesulitan, tetapi ketika sedang bahagia, kita berbagi kebahagiaan kita dengan orang lain, dan “seakan-akan” kita lupa kepada orang-orang yang dulu sangat berjasa, ketika kita dalam keadaan terpuruk dan tidak berdaya dalam penderitaan. Kita lupa, kepada tangan-tangan saudara kita, sahabat dan teman-teman kita yang telah dengan rela membantu mengangkat kita dari kesedihan dan penderitaan.

Sesungguhnya mengingat kebaikan orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita merupakan nilai yang sangat universal, dia ada dimana-mana, dan disepakati oleh seluruh umat manusia sebagai sesuatu yang baik dan harus terus dipupuk dan dilaksanakan. Sebaliknya mengingat-ngingat kebaikan yang telah kita lakukan kepada orang lain merupakan sesuatu yang sangat tercela, apalagi kalau hal tersebut sering diungkit-ungkit kembali.

Dalam budaya kita, masyarakat Indonesia, sangat mudah kita mendapatkan nasehat yang disampaikan melalui pantun, pepatah, ataupun cerita rakyat, yang mengingatkan kita bahwa mengingat jasa orang-orang yang telah berbuat baik dan berjasa bagi kita, serta  tidak pernah melupakannya merupakan suatu keharusan hidup yang baik.

Ada beberapa versi cerita rakyat/ masyarakat yang tinggal di daerah pantai utara pulau Jawa, khususnya masyarakat kota Tegal yaitu cerita tentang Martoloyo dan Martopuro. Salah satu versi menceritakan ketika masa kerajaan Mataram hiduplah dua saudara perguruan yaitu Martoloyo adalah salah satu adipati pantai utara yang merupakan anak Panembahan Senopati dengan Retno Dumilah, sedang Martopuro adalah Adipati Jepara. Kedua berguru kepada Kyai Lembah Manah di Padepokan Lembah Manah. Ketika itu, di hadapan guru mereka, mereka bersumpah untuk Sabaya Mukti, Sabaya Mati atau “Kalau bahagia, semua bahagia, kalau mati, semua mati” sebuah janji setia persahabatan yang sangat dalam, hanya sayangnya dengan berjalannya waktu, akhirnya mereka berdua mati bersama dalam sebuah duel yang heroic, tapi dalam kondisi permusuhan. 

“Kepentingan” sesaat telah menjadikan persahabatan yang tulus menjadi permusuhan karena salah memilih sahabat baru, dan melupakan perjuangan bersama pada masa lalu. Dalam bahasa Jawa kata tega untuk saling membunuh satu sama lain di antara dua sahabat yang sudah bersumpah untuk sabaya mukti sabaya mati disebut dengan “tegel”. Dari kata itulah kemudian lahir kata Tegal yang menjadi salah satu kota di daerah Pantai Utara.

Pada masyarakat Sunda, mengenal pepatah yang berbunyi  “Bengkung ngariung bongkok ngaronyok.” dan “Ulah lali ke purwadaksina”.

Secara bebas pepatah “Bengkung ngariung bongkok ngaroyok” berarti bersama-sama baik suka maupun duka, selalu kompak dan bersama. Sedangkan arti “Ulah lali ke purwadaksina” adalah kita diingatkan agar jangan pernah melupakan asal-usul, jangan melupakan keluarga, jangan melupakan teman dalam kondisi apapun, terutama yang telah banyak berjasa dalam hidupnya.

Dalam pergaulan sehari-hari pada masyarakat Jawa, juga dikenal pepatah “Ojo dadi kacang kang lali karo kulite” artinya bahwa manusia harus selalu ingat dan jangan pernah lupa kepada orang-orang yang telah berjasa dalam hidupnya. 

Masyarakat Minang juga memiliki pepatah “Tatungkuik samo makan tanah, tatilantang samo minum aia” Yang pesan moralnya sama saja yaitu jangan pernah melupakan sahabat lama, dan orang-orang yang berjuang dan membantu kita ketika dalam kesulitan, apalagi sekarang kita sudah menjadi orang.

Dan masih banyak lagi pepatah-pepatah lain dari berbagai daerah di Indonesia, maupun di belahan dunia yang menyatakan bahwa jangan pernah melupakan orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupan kita, terutama ketika kita dalam keadaan yang terpuruk.

Dalam sosiologi, perubahan status sosial seseorang biasanya akan dibarengi dengan perubahan-perubahan dari penampilan, dan masyarakat linkarannya. Hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat wajar dan normal. Perubahan status sosial juga akan diikuti oleh konflik-konflik tertentu, baik konflik personal maupun konflik budaya..

Pesan moral di atas, terutama dalam bulan Agustus ini, bulan kemerdekaan bangsa Indonesia, bisa kita kembangkan lagi menjadi lebih luas, mencakup perjalanan suatu bangsa yaitu jangan pernah sekali-kali melupakan jasa para pahlawan kita, yang telah berjuang dengan seluruh harta, jiwa dan raga dalam rangka agar generasi selanjutnya bisa menghirup udara kemerdekaan.

Bagi orang-orang yang selalu mengingat akan jasa para pahlawan yang telah menghantarkan kemerdekaan bagi kita sekarang, maka dia tidak akan pernah mengkhianati perjuangan para pahlawannya degan cara menghancurkan Negara ini, dengan “menjualnya” dengan harga yang sangat kecil dan hanya untuk kepentingan pribadi dan golongannya.

Negeri ini hanya akan hancur oleh para pengkhianat yang menjual hasil alam Indonesia dengan harga murah kepada para cukong. Lalu para cukong menguras isi alam Indonesia, kemudian menyisakan penderitaan yang panjang, pedih, dan menyesengsarakan bagi alam dan manusia Indonesia, sementara dia dengan kroninya menikmati hidup mewah di luar negeri, tidak tersentuh hukum sama sekali.

Mengingat dharma para pahlawan, yang telah membantu kita dalam menghirup udara kemerdekaan ini sesungguhnya akan menjadikan hukum sebagai penegak kebenaran dan keadilan yang tidak tebang pilih. Hukum berlaku bagi semua masyarakat Indonesia. Hukum tidak dijadikan legitimasi untuk menyiksa dan menyingkirkan lawan-lawan politik, ekonominya, dan kepentingannya.

Lihatlah sejarah bangsa ini. Bangsa yang kaya akan alam dan budayanya. Perbedaan merupakan warna-warni kehidupan yang merekatkan, bukan untuk menghancurkan.

Ketika bangsa ini masih dalam alam pra sejarah, maka suku-suku di Indonesia sudah mempunyai peradabannya  sendiri; sistim kepercayaan, pemerintahan, kebudayaan, bahasa, dan cara tulis tersendiri.

Lalu Hindu dan Budha datang membawa peradabannya sendiri dan peradaban bangsa kita terpengaruh tapi tanpa menghilangan peradaban yang sudah ada. Sistim pemerintahanan berubah menjadi kerajaan, tetapi kepala suku tetap ada. Bahasa resmi menjadi bahasa Sanskerta dan tulisannya Palawa, tetapi bahasa daerah dengan tulisannya tetap eksis ada dan terjaga.  Mereka bertransformasi secara damai

Islampun datang, dengan membawa kepercayaan, sistim pemerintahan, bahasa, dan tulisan yang baru. Bangsa inipun bisa menyelesaikan transformasi ini dengan sangat baik. Ajaran agama Islam tidak menghilangkan kepercayaan-kepercayaan lama yang ada di masyarakat, hingga sekarang masih tetap ada dan berlaku di masyarakat. Bahasa Melayu dengan tulisan Arab pegonnya yang umum dipakai ketika masa pemerintahan kerajaan Islam, juga tidak menghapuskan bahasa-bahasa daerah dan tulisan-tulisannya. 

Bangsa Baratpun datang dengan peradabannya berupa sistim kepercayaan dan budaya literasinya, pun tidak menghilangkan sistim kepercayaan, bernegara, berbahasa dan tulis menulisnya. Bahasa Melayu dengan Arab pegonnya bertransformasi menjadi bahasa Indonesia dengan tulisan latinnya, sambil bahasa dan tulisan sebelumnya masih tetap ada. Kepercayaan-kepercayaan lama, Hindu, Budha, dan Islam masih tetap ada dan eksis hingga sekarang. Semua tranformasi itu berjalan dengan baik dan lancar. 

Maka tidak ada alasan apapun yang boleh mengatakan bahwa kebhinekaan akan menjadikan disintegrasi bangsa.

Disintegrasi bangsa terjadi apabila bangsa ini melupakan jasa para pahlawan yang telah bersusah payah berjuang agar kita dapat menghirup udara kemerdekaan, tapi setelah merdeka, kita melupakan jasa-jasa mereka, bahkan mengkhianatinya.

Mengingat jasa-jasa para pahlawan adalah dengan menegakan hukum dengan seadil-adilnya agar kebenaran dan keadilan bisa tercapai. Pendistribusian hasil pembangunan harus terbagi dengan adil dan merata, tanpa ada lagi diskriminasi agar kesejahteraan sosial tercapai.