Ilustrasi henipavirus. | istimewa

Internasional

Virus Langya Ditemukan di Cina

Langya henipavirus (LayV) ditemukan pada 35 orang di Provinsi Shandong dan Henan, Cina.

BEIJING -- Para ilmuwan di Asia telah mengidentifikasi virus baru yang dapat menyebabkan demam parah dan kemungkinan ditularkan dari hewan ke manusia di Cina timur.

Menurut sebuah artikel yang diterbitkan di New England Journal of Medicine awal bulan ini, Langya henipavirus (LayV) ditemukan pada 35 orang di Provinsi Shandong dan Henan di Cina. Artikel itu ditulis bersama oleh ilmuwan Cina dan Singapura.

Laman Global Times edisi Selasa (9/8) menyebutkan, LayV ditemukan pada pasien yang diuji antara 2018 dan 2021. Uji coba itu dilakukan melalui swab pada pasien yang mengalami gejala-gejala terkait demam.

Virus tersebut dapat menyebabkan demam akut, kelelahan, batuk dan kehilangan nafsu makan. Para peneliti mengatakan, beberapa pasien juga mengalami nyeri tubuh, mual, muntah, anoreksia, dan sakit kepala. Bahkan beberapa pasien mengalami gangguan fungsi hati.

Para peneliti yang berbasis di Cina, Australia dan Singapura mengatakan, LayV pertama kali diidentifikasi pada seorang wanita berusia 53 tahun pada Desember 2018. Wanita tersebut berada dalam pengawasan setelah mengalami demam akut dan riwayat paparan hewan.

photo
Jenis tikus yang disebut menularkan virus Langya. (ilustrasi) - (instimewa)

Para peneliti kemudian melakukan survei hewan domestik dan liar untuk melacak hewan inang virus. Para peneliti menemukan RNA Langya paling dominan pada tikus, mamalia kecil dengan moncong panjang dan mata kecil. Selain itu, sekitar 5 persen anjing dan 2 persen kambing juga dinyatakan positif Langya.

"Sekitar 27 persen tikus dites positif terkena virus. Ini menunjukkan bahwa hewan itu mungkin reservoir alami LayV," ujar para peneliti dalam laporan mereka, dilansir Aljazirah, Kamis (11/8).

Penemuan LayV terjadi kurang dari tiga tahun setelah pandemi Covid-19, yang diyakini para ilmuwan juga disebabkan oleh limpahan virus dari hewan ke manusia. Sejauh ini para peneliti tidak menemukan bukti penularan virus LayV dari manusia ke manusia.

"Tidak ada kontak dekat atau riwayat paparan umum di antara pasien, yang menunjukkan bahwa infeksi pada populasi manusia mungkin sporadis," kata para peneliti.

"Pelacakan kontak dari 9 pasien dengan 15 anggota keluarga kontak dekat mengungkapkan, tidak ada penularan LayV kontak dekat, tetapi ukuran sampel kami terlalu kecil untuk menentukan status penularan dari manusia ke manusia untuk LayV," kata mereka menambahkan.

 
Henipavirus adalah salah satu di antara kasus zoonosis yang meningkat di Asia Pasifik. Henipavirus dapat menyebabkan penyakit yang berat pada manusia dan hewan.
 
 

Tidak perlu panik

Henipavirus adalah salah satu di antara kasus zoonosis yang meningkat di Asia Pasifik. Henipavirus dapat menyebabkan penyakit yang berat pada manusia dan hewan.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, henipavirus diklasifikasi sebagai biosafety level level 4. Tingkat kematian mencapai kisaran 40-75 persen. Data ini menunjukkan, tingkat kematian henipavirus bahkan lebih tinggi dari infeksi virus korona.

Sejauh ini belum ada vaksin atau pengobatan untuk henipavirus. Pengobatan yang ada barulah bersifat pendukung untuk menangani untuk menekan komplikasi.

Namun, kasus LayV yang ada sejauh ini tidak berakibat fatal atau amat serius. Seorang profesor di Duke-NUS Medical School di Singapura, Wang Linfa, yang terlibat dalam penelitian ini, mengatakan kepada //Global Times//, publik tidak perlu panik.

 
Namun, kasus LayV yang ada sejauh ini tidak berakibat fatal atau amat serius.
 
 

Para peneliti mengatakan, LayV secara genetik paling dekat hubungannya dengan virus mematikan Mojiang henipavirus yang menginfeksi enam penambang di Cina selatan pada 2012. Tiga dari enam penambang itu akhirnya meninggal dunia.

LayV juga termasuk dalam keluarga yang sama dengan virus Nipah dan Hendra. Virus Nipah pertama kali dikenali selama wabah di antara peternak babi di Malaysia pada 1999. Virus ini juga telah diidentifikasi di Bangladesh dan India.

Infeksi Nipah bisa berakibat fatal, dengan 40 hingga 75 persen orang yang terinfeksi meninggal dalam wabah sebelumnya. Virus ini ditularkan dari hewan ke manusia, seperti kelelawar dan babi, atau dari manusia ke manusia.

Sementara virus Hendra pertama kali diidentifikasi di Australia pada 1999 dan telah menginfeksi tujuh orang dan lebih dari 70 kuda. 

Petualangan Sekejap Turbo Timo

Selama dua tahun memperkuat Chelsea, Werner menyumbang 23 gol.

SELENGKAPNYA

Kapolri Pastikan Semua Polisi yang Terlibat Diproses

Momentum saat ini sangat tepat untuk mewujudkan wacana reformasi jilid II Polri.

SELENGKAPNYA

Ancaman Iklim Kritis

Dampak perubahan iklim itu kini kian terasa. Untuk itu, diperlukan langkah strategis melibatkan semua unsur.

SELENGKAPNYA