Warga bersepeda menikmati sore sambil menunggu waktu berbuka puasa di pelataran Gedung Fatahilah, Jakarta. | Republika/Agung Supriyanto

Nostalgia

Batavia Menjiplak Amsterdam

Bukan hanya nama Batavia diputuskan di Belanda, tapi juga pembangunan kota dirancang dari Kota Amsterdam.

OLEH RAHMAT BUDI HARTO, BACHRUL ILMI, ALWI SHAHAB

Tiba-tiba saja, dalam suatu pesta, seorang serdadu VOC dalam keadaan mabuk menyebutkan Batavia yang berasal dari kata Batavieren, nama salah satu suku di Belanda.

Meskipun JP Coen tidak senang dan dikabarkan sampai akhir hayatnya (1629) menolak nama itu, 17 heeren (pemegang saham VOC) yang berpusat di Belanda lebih setuju nama Batavia. Jadi, nama ini diputuskan di Belanda.

Bukan hanya nama Batavia diputuskan di Belanda, tapi juga pembangunan kota dirancang dari Kota Amsterdam. Karena perancangnya berada di Belanda, kediaman dan gedung di awal berdirinya kota ini tidak disesuaikan dengan iklim tropis di negeri jajahannya. Seperti juga di kota-kota di negerinya, belasan kanal (grachten) mereka bangun. Hingga ada istilah pajak 'jalan tol' yang dikenakan terhadap perahu yang melewatinya.

Cara berpakaian mereka juga seperti di negeri asalnya. Sama halnya dengan kebiasaan di Belanda yang beriklim dingin, mereka mandi hanya dua minggu sekali, tidak seperti para nyai--wanita simpanan--yang tidak dikawini atau para Indo-Belanda yang lebih berani dengan air.

Toilet belum dikenal. Di gedung-gedung yang kini difungsikan sebagai museum tidak satu pun memiliki toilet. Lalu, bagaimana kalau mereka ingin buang air besar?

Di tiap rumah dan gedung, tersedia tong berisi air dan semacam kursi yang dibolongi di tengahnya. Baru, pada malam hari, mereka buang ke sungai atau kanal. Ada ketentuan VOC, tinja tidak boleh dibuang sebelum pukul 10 malam. Belanda ketika awal-awal datang ke Nusantara juga belum mengenal sumur.

photo
Pria Belanda menikmati suasana Batavia pada 1930. - (Foto koleksi: Sjoerd Meihuizen)

Gambaran Kota Batavia pada abad ke-18 diperoleh dari laporan Francois Valentijn dan John Spliter Stavorinus, seorang pendeta dan seorang pelaut yang pernah dan bermukim di kota tersebut selama beberapa waktu.

Kota Batavia dibagi menjadi tiga bagian: kastil, pusat kota yang dikelilingi tembok (benteng) pertahanan, dan kota bagian luar. Pusat kota yang luasnya 65 hektare atau hanya satu persen dari keseluruhan urban di Jakarta itu dikelilingi tembok pertahanan yang dilengkapi dengan 22 buah bastion (kubu) dari batu karang, dengan nama-nama tempat di Belanda, seperti Amsterdam, Middleburg, Delft, Rotterdam, Horn, Enkhuisen, Vianen, Nieupoort, Utrecht, Hollandia, dan masih banyak lagi.

Pemerintah kolonial Belanda sampai akhir penjajahan (1942) melakukan politik rasial. Saat mereka mendirikan Batavia, penduduk pribumi tidak diperbolehkan tinggal di dalam kastil dan pusat kota yang dikelilingi tembok (benteng).

Meski tinggal di negeri jajahan, mereka menjadikan pribumi sebagai bangsa kuli dan tergolong paling rendah. Pribumi yang dibolehkan tinggal di dalam kota berbenteng hanyalah kelompok budak belian. Pribumi benar-benar dihinakan dan disebut sebagai kelompok inlander.

Dalam hierarki rasial, orang Belanda dan Eropa tentu saja menduduki tempat paling atas. Disusul bangsa Timur asing: Cina dan Arab. Berdasarkan sensus 1779, penduduk Batavia berjumlah 172.682 jiwa dan sekitar 89 persen bermukim di luar benteng atau tembok keliling kota.

Pada 1788, penduduk yang tinggal di dalam benteng berjumlah 7.173 dan di luar benteng 134.328 jiwa. Pada saat itu, sudah banyak orang Eropa tinggal di luar benteng.

Mereka mendirikan vila-vila indah di sepanjang Jacatraweg (kini Jalan Pangeran Jayakarta), Molenvliet (Jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada), kemudian terus ke Harmoni. Warga Cina dan budak belian merupakan dua kelompok terbesar di Batavia. Sebagian besar penduduk Batavia pada abad ke-18 adalah budak yang mencapai sekitar 38 ribu jiwa.

Di Kalibesar, terjadi lelang budak. Pernah dalam setahun rata-rata diimpor 3.000 budak. Belum lagi yang didatangkan dari berbagai kepulauan di Indonesia. Bagi warga Belanda, semakin banyak memiliki budak, semakin tinggi tingkat sosial mereka.

Ada satu keluarga memiliki puluhan budak belian untuk memayungi atau membawa tempolong saat sang nyonya nyirih. 

 
Saat mereka mendirikan Batavia, penduduk pribumi tidak diperbolehkan tinggal di dalam kastil dan pusat kota yang dikelilingi tembok.
 
 

Jauh sebelumnya, Belanda telah membagi-bagi warga Batavia dalam kelompok-kelompok. Tiap kelompok memiliki kapiten (pemimpin kelompok) sendiri yang bertanggung jawab terhadap kelompok yang dipimpinnya. Hingga dikenallah istilah Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Makassar, Kampung Ambon, Kampung Jawa, atau Kampung Bandan (dari kata Banda).

Sejak merdeka hingga kini, terdapat 13 gubernur yang memerintah Jakarta. Gubernur pertama adalah Suwiryo yang menjabat sejak 1945 hingga 1951. Belasan gubernur itu memiliki jasa cukup besar dalam membangun Ibu Kota.

Tiga gubernur yang dianggap paling berjasa adalah Ali Sadikin, Sutiyoso, dan Fauzi Bowo. Pada masa pemerintahan Ali Sadikin (1966-1977), Jakarta berubah menjadi kota metropolitan yang mampu bersaing dengan banyak ibu kota negara lain.

Di masanya, sejumlah proyek besar, seperti pembangunan Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, Kota Satelit Pluit di Jakarta Utara, dan pelestarian budaya Betawi di kawasan Condet, terlaksana.

Selain itu, perayaan ultah Jakarta pertama kali diselenggarakan pada masa kepemimpinan Ali Sadikin. Ia juga berjasa menyelenggarakan Pekan Raya Jakarta yang saat itu dikenal dengan nama Jakarta Fair. Acara itu menjadi sarana hiburan dan promosi dagang industri barang dan jasa dari seluruh Tanah Air dan juga luar negeri.

photo
Gedung gedung tua Kota Tua Jakarta (21/01/1993). Di Area ini dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta. Wilayah khusus yang memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka) . Soemarsono/Republika - (DOKREP)

Sedangkan, Gubernur Sutiyoso (1998-Oktober 2007) dikenal sebagai gubernur yang tegas dan tak kenal takut dalam mengambil kebijakan. Salah satunya adalah keputusannya mengembangkan proyek angkutan umum bus TransJakarta dengan menerapkan sistem jalur khusus bus (busway). Tujuannya untuk mengatasi kemacetan di Ibu Kota yang dinilai cukup parah.

Saat pertama kali melontarkan ide proyek bus itu, Sutiyoso menuai banyak kecaman. Salah satunya adalah pendapat sebagian warga yang menilai proyek itu hanya akan memperparah kemacetan karena jalan yang tersedia untuk kendaraan, selain bus TransJakarta, semakin sempit.

Meski demikian, Sutiyoso tetap melanjutkan proyeknya. Hasilnya, setelah proyek itu terlaksana pada 15 Januari 2004, ia malah mendapat pujian karena banyak masyarakat yang kini bisa menikmati layanan bus berkualitas dan terjangkau itu.

Sutiyoso juga mencetuskan pembangunan kereta layang (monorail) dan bawah tanah (subway). Namun, hingga lengser, ide kereta layang oleh Sutiyoso masih berupa pembangunan tiang pancang yang menjadi fondasi jalur rel karena terbentur pendanaan.

 
Di masa kolonial --sampai sebelum kedatangan tentara Jepang (1942-1945)-- banyak nama jalan berbahasa Belanda, kecuali di kampung-kampung. 
 
 

Sementara itu, Fauzi Bowo sebagai gubernur memerintah Ibu Kota sejak Oktober 2007 hingga kini. Ia merupakan gubernur pertama di Jakarta yang dipilih secara langsung dalam proses pemilihan kepala daerah (pilkada).

Pada 16 Agustus 2007, bersama Wagub Prijanto, ia mendapatkan 57,87 persen suara dukungan pemilih. Ia juga sebelumnya menjabat sebagai wagub mendampingi Sutiyoso. 

Nama Jalan Masa Kolonial Belanda

Di masa kolonial --sampai sebelum kedatangan tentara Jepang (1942-1945)-- banyak nama jalan berbahasa Belanda, kecuali di kampung-kampung. Belanda memberi nama boulevard untuk jalan lebar dan di tengahnya terdapat jalur hijau.

Laan merupakan jalan penghubung di antara jalan yang ramai. Misalnya, Alaydruslaan (kini Jalan Alaydrus), yaitu jalan penghubung antara Molenvliet West (Jalan Gajah Mada) dan Molenvliet West (Jalan Hayam Wuruk). Kenari Laan (Jalan Kenari) yang kala itu menjadi penghubung antara Pegangsaan dan Salemba Raya.

Belanda memberi nama jalan yang punya kegiatan bisnis dengan nama straat. Misalnya, Kerkstraaat (kini Jalan Jatinegara Timur) yang sejak dulu merupakan kawasan bisnis. Pasar Baru Straat dan Risjwijkstraat (Jalan Veteran) adalah jalan yang ketika itu menjadi daerah perniagaan dan pertokoan.

Weg adalah nama jalan yang masuk mobil. Ratusan nama jalan di DKI sampai 1942 terletak di kawasan weg. Misalnya, Javaweg (kini Jalan Tjokroaminoto) di kawasan Menteng atau Drukerijweg (Jalan Percetakan Negara).

Berdasarkan peraturan kala itu, Belanda melarang kawasan weg dijadikan sebagai tempat perdagangan. Gang lebih banyak di kampung-kampung dan diberi nama dengan nama tokoh masyarakat di tempat tersebut atau peristiwa yang pernah terjadi di tempat itu.

Misalnya, Gang Adjudant (kini Jalan Kramat II) Kwitang yang mengambil nama seorang ajudan yang pernah tinggal di tempat ini. Adjudant adalah salah satu nama dalam struktur gemeente pemerintah Hindia Belanda. Rupanya, seorang ajudan pernah tinggal di tempat tersebut. Demikian juga Gang Wedana di Jatinegara atau Gang H Dja'man di samping Toko Serba Ada Sarinah di Jalan Thamrin (kini sudah tidak ada lagi).

Pemerintah kolonial juga menamakan taman kota dengan park. Misalnya Wilhelmina Park (kini Masjid Istiqlal), Prinsenpark (Lokasari), Hertogpark (Pejambon), Deca Park (bagian utara Monas sekarang), Eijkmanpark (dekat RSCM), dan masih banyak lagi.

photo
Gedung gedung tua Kota Tua Jakarta (21/01/1993). Di area ini dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta. Wilayah khusus yang memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka) . Soemarsono/Republika - (DOKREP)

Sejak masa awal kolonial, nama-nama jalan di Jakarta banyak mengacu tokoh-tokoh yang mereka miliki. Pada abad ke-17, kastil pertama terletak di Prinsen Straat (Jalan Pangeran) dan sekarang bernama Jalan Cengkeh. Di tempat inilah, pasukan kesultanan Islam dua kali menyerang benteng (1628 dan 1629).

Kegagalan Mataram, di samping masalah logistik --jalan kaki selama tiga bulan ke Jakarta dan naik perahu dua minggu-- juga karena leluhur kita ini tidak terbiasa berperang dengan memanjat tembok kota. Pihak lawan sudah menggunakan bedil (orang Betawi menyebutnya senapan sundut).

Di Batavia, juga terdapat nama fort atau benteng, seperti citadel yang kini Jalan Veteran I. Di dekatnya, terdapat Utrechstraat (kini Jalan Kopi).

Ketika Menteng dibangun (1920), NV de Bouwploeg meniru kawasan Minerva di Amsterdam. Kawasan ini diperuntukkan bagi warga Eropa yang makin banyak di Batavia. Terdapat tiga buah boulevard di kawasan yang dijadikan sebagai kota taman pertama. Yakni, Oranye Boulevard (kini Jalan Diponegoro), Nassau Boulevard (Jalan Imam Bonjol), dan Van Heutzboulevard (kini Jalan Teuku Umar). Burgermeester Bischoplein menjadi Jalan Taman Surapati.

Penggantian nama yang dilakukan setelah kemerdekaan Indonesia ini sangat tepat. Oranye Boulevard dan Nassau Boulevard memperlihatkan lambang bangsa Belanda sebagai wangsa oranye. Tim sepak bolanya menggunakan kostum oranye.

Oranye Boulevard menjadi Jalan Diponegoro untuk memperingati perjuangan pangeran dari Kesultanan Mataram ini pada 1820-1825 yang disebut Perang Jawa. Akibat perlawanan Pangeran Diponegoro, Belanda dibuat kalang kabut akibat biayanya yang sangat besar. Hingga, Belanda minta bantuan rakyat dengan mendirikan De Javasch Bank (kini Bank Indonesia) agar bank ini meminjamkan uangnya.

Sedangkan, penggantian Nassau Boulevard dengan Jalan Imam Bonjol untuk mengabadikan pahlawan dari Minangkabau ini dalam Perang Paderi yang juga membuat Belanda kewalahan. Sedangkan, penggantian Van Heutz Boulevard dengan Jalan Teuku Umar untuk memperingati pahlawan dari tanah rencong ini yang juga membuat Belanda kedodoran.

Van Heutz sengaja diabadikan Belanda untuk nama boulevard di Menteng karena dia dianggap sebagai jenderal yang berhasil mempersatukan Aceh. Dia punya patung di Jalan Menteng Raya depan Museum Juang, tetapi telah dihancurkan oleh pemuda pejuang.

Sedangkan, Burgermesteer adalah wali kota pertama setelah desentralisasi Batavia pada 1905. Surapati yang namanya diabadikan adalah pejuang nasional yang memberontak terhadap Belanda. Dia semula adalah seorang budak dan pernah dipenjarakan di Balai Kota (kini Museum Sejarah DKI Jakarta).

Berdekatan dengan kawasan Menteng, terdapat kawasan Pasar Rumput di Manggarai. Pada masa kolonial, jalan itu bernama Janpieterzoonweg untuk mengabadikan nama pendiri Kota Batavia.

Kini, jalan itu menjadi Jalan Sultan Agung yang menyerang JP Coen dari Mataram ke Batavia. Di sisi lain, terdapat Juliaweg yang diambil dari nama ibu ratu Belanda Beatrix yang kini menjadi Jalan Slamet Riyadi, pejuang melawan Belanda.

Disadur dari Harian Republika edisi 22 Juni 2009

Saat Indonesia Menggugat

Sebagai imbalan penyerahan kedaulatan, Belanda mendapat bayaran 4,5 miliar gulden dari Indonesia.

SELENGKAPNYA

Hoegeng, Jenderal Polisi yang Menyejukkan

Hoegeng berani menolak sogokan dan membongkar ketidakbenaran.

SELENGKAPNYA

Kapolri: Ferdi Sambo tersangka kasus pembunuhan Brigadir J

Saatnya bersih-bersih

SELENGKAPNYA