Petugas kesehatan RS Najar merawat seorang gadis kecil yang terluka akibat bangunan tinggalnya dibom militer Israel di Rafah, Jalur Gaza, Sabtu (6/8/2022). | AP Photo/Hatem Ali

Kabar Utama

Warga Gaza: Bom Meledak di Mana-Mana

Sebagian besar pertokoan di Gaza tutup dan listrik masih terputus

GAZA -- Situasi di Gaza sejak serangan udara Israel pada Jumat (5/8) masih mencekam. Warga Gaza lebih memilih untuk tinggal di rumah atau di tempat yang aman bersama keluarga mereka.

Seorang warga Gaza, Abeer Z Barakat, saat dihubungi Republika pada Ahad (7/8) mengatakan, situasi di Gaza amat mengerikan. Pengeboman terjadi di mana-mana dan tidak terduga. "Tidak ada tempat yang aman di Gaza. Bom di mana-mana," ujar Abeer yang merupakan aktivis Great Return March.

Abeer mengatakan, serangan udara Israel datang tak terduga. Terkadang, pasukan pendudukan Israel memberikan notifikasi atau pemberitahuan kepada warga Gaza lima menit sebelum serangan. Namun, tak jarang pasukan Israel tidak memberikan notifikasi dan langsung membombardir Gaza.

"Saya tidak bisa mengatakan bahwa kami tidak takut. Sulit untuk berpikir bahwa Anda mungkin kehilangan segalanya dalam satu menit. Lebih mudah untuk berpikir bahwa jika Anda dibom, Anda akan bersama dengan orang yang Anda cintai, tetapi untuk tetap sendirian di tengah situasi mencekam ini sangat sulit," kata Abeer.

Abeer menjelaskan, dia dan keluarganya berada di tempat yang aman. Dia dan keluarga tidur bersama di satu ruangan di dalam rumah yang dianggap aman.  Menurut dia, pasokan listrik di Gaza masih terputus. Sementara pasokan bahan makanan masih mencukupi.

Abeer menceritakan, sebagian besar pertokoan di Gaza tutup sejak serangan udara Israel. Warga Gaza yang hendak membeli pasokan makanan harus berkeliling untuk mencari toko-toko yang kemungkinan masih buka. Namun, mereka takut jika sewaktu-waktu terjadi pengeboman oleh pasukan pendudukan Israel.

"Walaupun kami bepergian dengan mobil atau berjalan kaki, kami takut jika ada bom yang meledak di atas kepala kami," ujar Abeer.

Pembangkit listrik satu-satunya di Gaza ditutup pada Sabtu (6/8) karena kehabisan pasokan bahan bakar. Perusahaan pembangkit listrik kehabisan bahan bakar setelah Israel menutup perlintasan barang dengan Palestina sejak Selasa (2/8).

Penutupan penyeberangan Israel dengan Gaza terjadi ketika militer bersiap untuk melakukan serangan pembalasan terhadap kelompok Jihad Islam Palestina di Gaza. 

photo
Petugas pengurus jenazah di RS Najar menshalatkan jenazah Muhammad Hassouna seorang remaja yang gugur akibat bom militer Israel di Rafah, Jalur Gaza, Ahad (7/8/2022). - (AP Photo/Hatem Ali)

Jihad Islam Palestina merupakan kelompok yang didirikan pada 1981 oleh mahasiswa Palestina di Mesir, dengan tujuan mendirikan negara Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat, Gaza dan daerah lain yang sekarang disebut sebagai negara Israel.  Jumlah anggota Jihad Islam lebih kecil dari dua faksi utama Palestina di Jalur Gaza, termasuk kelompok Hamas.

Pada Ahad kemarin, kelompok tersebut menembakkan roket ke Yerusalem dan tidak ada laporan korban jiwa. Serangan ini menandakan jangkauan dan tekad baru kelompok militan Palestina, ketika Israel menekan serangan udara di Jalur Gaza.

Jihad Islam menargetkan Yerusalem sebagai pembalasan atas pembunuhan terhadap komandan senior mereka, Khaled Mansour, dalam serangan Israel di Gaza selatan. "Darah para syuhada tidak akan disia-siakan," kata pernyataan kelompok tersebut.

Sekitar 30 warga Palestina, atau setidaknya sepertiga dari mereka warga sipil, tewas dalam serangan udara Israel yang meletus pada Jumat (5/8) di Gaza. Sementara, serangan roket telah melumpuhkan sebagian besar Israel selatan dan mengirim penduduk di sejumlah kota seperti Tel Aviv dan Ashkelon ke tempat perlindungan.

Israel menyatakan akan berhenti menyerang jika Jihad Islam juga menghentikan serangan. Ledakan intersepsi roket udara dapat terdengar hingga lima kilometer dari Yerusalem.

Warga Gaza, Abu Mohammad, yang berprofesi sebagai sopir taksi sangat berharap peperangan dapat dihentikan. "Siapa yang mau perang? Tidak ada. Tapi kami juga tidak suka diam ketika perempuan, anak-anak dan pemimpin terbunuh," kata dia.

Israel melancarkan serangan udara ke Gaza sejak Jumat (5/8). Mereka membidik markas atau situs kelompok Jihad Islam. Komandan Jihad Islam, Tayseer al-Jaabari, dilaporkan meninggal dalam serangan tersebut. Israel mengeklaim serangan itu sebagai bentuk operasi kontrateror.

“Israel melakukan operasi kontra-teror yang tepat terhadap ancaman langsung. Pertarungan kami bukan dengan rakyat Gaza. Jihad Islam adalah proksi Iran yang ingin menghancurkan Israel dan membunuh warga Israel yang tak bersalah,” kata PM Israel Yair Lapid.

Meski membidik markas atau situs Jihad Islam, serangan udara Israel pada Jumat lalu turut menewaskan 10 orang. Sebanyak 55 orang lainnya mengalami luka-luka. Jihad Islam akhirnya membalas serangan Israel pada Jumat malam.

Otoritas Palestina mengutuk serangan udara Israel ke Jalur Gaza yang menewaskan warga sipil, termasuk anak berusia lima tahun. Palestina menilai, serangan itu menekankan pelanggaran Israel terhadap hukum internasional dan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Ini menekankan bahwa agresi berkelanjutan Israel, termasuk serangan baru-baru ini di Gaza dan pengepungan ilegal yang berkelanjutan di Jalur Gaza, merupakan pelanggaran mencolok dan serius terhadap setiap prinsip hukum internasional, termasuk Konvensi Jenewa Keempat, dan resolusi PBB," kata Kementerian Luar Negeri Palestina, Sabtu (6/8), dikutip laman kantor berita Palestina, WAFA

Dunia Harus Hentikan Agresi Israel

Sejumlah negara telah melayangkan kecaman atas serangan udara Israel ke Jalur Gaza yang menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak. Negara-negara di dunia didorong untuk bersikap dan mendesak Israel menghentikan agresinya.

Arab Saudi menjadi salah satu negara yang menyuarakan hal tersebut. Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa Arab Saudi akan mendukung rakyat Palestina dan mendukung mereka.

“Kami meminta masyarakat internasional untuk memikul tanggung jawab dalam mengakhiri eskalasi agresi Israel,” kata Kementerian Saudi dikutip dari Saudi Gazette, Ahad (7/8).

Saudi juga menyerukan untuk memberikan perlindungan yang diperlukan bagi warga sipil, selain menyoroti pentingnya melakukan segala upaya untuk mengakhiri konflik yang berlarut-larut ini. Sedikitnya ada empat anak yang menjadi korban jiwa akibat serangan udara Israel di Gaza.

Dilansir Middle East Monitor, Ahad (7/8), empat anak Palestina meninggal dunia dalam serangan di kamp pengungsi Jabalia di utara Jalur Gaza. Mereka diidentifikasi sebagai Hazem Ali Salem (9 tahun), Ahmad Mohammad al-Neerab (11 tahun), Momen Mohammad al-Neerab (5 tahun), dan Khalil Jameel Shobeer (10 tahun).

Seorang remaja 17 tahun yang diidentifikasi sebagai Khalil Iyad abu-Hamadah juga menjadi korban jiwa dalam serangan tersebut. Sumber-sumber medis mengatakan, beberapa dari korban yang terluka berada dalam kondisi kritis. Jumlah kematian diperkirakan meningkat.

photo
Keluarga menangisi Muhammad Hassouna seorang remaja yang gugur akibat bom militer Israel di Rafah, Jalur Gaza, Ahad (7/8/2022). - (AP Photo/Fatima Shbair)

Malaysia juga mengutuk keras serangan Israel terbaru di Gaza. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Malaysia Saifuddin Abdullah.  Ia mengatakan kekejaman terbaru oleh Israel tersebut benar-benar merupakan pengabaian terang-terangan terhadap hukum internasional dan prinsip kemanusiaan.

"Malaysia menyerukan kepada masyarakat internasional untuk segera memberikan tekanan maksimal pada rezim Israel untuk segera menghentikan pelanggaran dan agresi mereka terhadap Palestina," kata Saifuddin.

Komunitas internasional harus mengecam Israel atas serangan provokatif egois dan kebijakan apartheid terhadap hak-hak dasar, kehidupan, mata pencarian dan martabat orang Palestina. "Seharusnya tidak ada standar ganda dalam menangani konflik," katanya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan keprihatinannya atas meningkatnya eskalasi di Jalur Gaza. PBB secara khusus menyoroti tewasnya anak berusia lima tahun di Gaza akibat serangan udara Israel.

“Saya sangat prihatin dengan eskalasi yang sedang berlangsung (di Jalur Gaza),” kata Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah Tor Wennesland, Sabtu (6/8), dilaporkan laman kantor berita Palestina, WAFA.

Dia memperingatkan, eskalasi akan sangat berbahaya ika terus berlanjut, akan sangat berbahaya. Oleh sebab itu, Wennesland menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan tak memperuncing lagi situasi.

“PBB sepenuhnya terlibat dengan semua pihak dalam upaya untuk menghindari konflik lebih lanjut yang akan memiliki konsekuensi yang menghancurkan, terutama bagi warga sipil,” ucapnya.

Anak-anak di Gaza saat ini berada dalam rasa ketakutan yang luar biasa. Rasa takut tersebut amat terlihat di wajah Asmaa Al-Najjar, seorang anak perempuan berusia 10 tahun, setelah pesawat-pesawat tempur Israel mengebom sebuah apartemen di sebelah rumahnya di area permukiman Tel Al-Hawa, di sebelah barat Gaza City, pada akhir pekan lalu.

Anak perempuan itu mengatakan kepada Xinhua dengan suara bergetar bahwa serangan Israel itu terjadi ketika dirinya sedang berada di kamar bersama saudaranya. "Kami sangat ketakutan."

Patform-platform media sosial Palestina pun dipenuhi oleh foto dan video tentang Allaa Qadoum, anak perempuan berusia lima tahun yang gugur pada Jumat (5/8) akibat serangan udara Israel. Orang tua anak perempuan itu menangis sambil menggendong jasad putri mereka yang dibungkus dengan bendera Palestina.

Para penduduk Gaza mengatakan serangan-serangan udara tersebut merupakan kejutan besar yang tidak terduga di saat banyak keluarga sedang bersiap-siap untuk menghabiskan akhir pekan di pantai Gaza guna menghindari teriknya musim panas dan krisis listrik.

Sambil bersimbah air mata, kakek dari Allaa Qadoum menceritakan bahwa Allaa sedang bermain di depan rumah saat pesawat tempur Israel mengebom sebuah target di sekitar tempat tinggalnya. "Dan sebuah pecahan bom menembus kepala Allaa. Apa kesalahan yang diperbuat Allaa sampai harus menjadi target dan tewas?" katanya.

Anak perempuan malang itu seharusnya akan mulai bersekolah di taman kanak-kanak pada akhir bulan ini dan sempat minta dibelikan pakaian dan tas sekolah baru. Israel masih belum berkomentar terkait kematian Allaa Qadoum.

Buya Hamka: Ulama, Penulis, dan Politisi

Beliau adalah satu dari sedikit ulama Indonesia yang mendapat gelar sebagai mufassir (ahli tafsir).

SELENGKAPNYA

Puluhan Ribu Majelis Taklim Tersebar di Seluruh Indonesia

Majelis taklim dapat memberikan sumbangsih pemikiran positif bagi pembinaan umat.

SELENGKAPNYA

Sisilia di Tangan Muslim

Inilah tonggak dimulainya pemerintahan Islam di Sisilia hingga 260 tahun.

SELENGKAPNYA