Seorang mualaf, Galuh Andika Sari, menuturkan kisahnya dalam menemukan hidayah iman dan Islam. | DOK IST

Oase

Perjalanan Galuh Andika Sari Menuju Hidayah

Galuh tetap istikqamah. Baginya, Islam memberikan kedamaian batin.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

 

Bersama dengan kesukaran, ada kemudahan. Itulah janji Allah yang tertulis dalam Alquran. Maka dari itu, putus asa bukanlah respons terbaik untuk menghadapi persoalan, khususnya bagi orang yang beriman.

Menurut Galuh Andika Sari, masalah sesungguhnya dapat mendewasakan perspektif dalam memandang pribadi dan dunia. Tidak ada orang yang tidak pernah menemui persoalan dalam kehidupan. Bagi mualaf itu sendiri, berbagai peristiwa yang menyedihkan justru menjadi jalan baginya menemukan cahaya Islam.

Mualaf tersebut bercerita, sejak kecil dia mengalami keterbatasan penglihatan. Disabilitas netra yang dialaminya tidak sampai membuatnya kecewa. Akan tetapi, bapaknya menganggap perbedaan fisik itu sebagai sebuah masalah. Bahkan, sang ayah menilai hal itu sebagai sebuah kutukan.

Orang tua Galuh kemudian menitipkannya kepada pengasuh di kampung halaman ibunya di Sidoarjo, Jawa Timur. Pengalaman saat masa kecil itu sempat membuatnya trauma. Gadis tersebut tidak habis pikir, mengapa ayahnya yang merupakan tokoh masyarakat setempat tega melakukan hal itu kepadanya.

 
Mualaf tersebut bercerita, sejak kecil dia mengalami keterbatasan penglihatan. Disabilitas netra yang dialaminya tidak sampai membuatnya kecewa.
 
 

Ketika Galuh lahir pada tahun 2000, kedua orang tuanya sudah menetap di Bali. Di daerah kampung halaman ayahnya itu, ia tinggal. Bagi masyarakat setempat, ayahandanya adalah seorang pemuka agama.

Ketokohan bapaknya itu membuat Galuh tidak habis pikir. Bukankah seorang yang mengerti ajaran agama semestinya tidak menyakiti perasaan orang lain, terlebih anak kandung sendiri? Hingga usia akil baligh, gadis itu tidak bisa melepaskan pertanyaan demikian dari dalam pikirannya.

“Ayah saya seorang pemuka agama. Kalau dalam agama Islam, mungkin gelarnya seperti ustaz, begitu. Nah, beliau tidak mengakui saya sebagai anaknya karena saya tunanetra. Beliau merasa bahwa saya ini adalah kutukan,” ujar dia saat berbagi kisahnya di saluran YouTube Mualaf Center Aya Sofya, beberapa waktu lalu.

Lama kelamaan, Galuh menyimpan kekecewaan bukan lagi pada ayahnya, melainkan agama yang dipeluk orang tuanya itu. Memang, tidak pernah dirinya mendengar bahwa ajaran agama non-Islam itu menganjurkan seseorang untuk mencampakkan buah hati sendiri hanya karena adanya keterbatasan fisik. Bagaimanapun, fakta bahwa bapaknya merupakan seorang tokoh agama itu di tengah masyarakat tidak dapat diabaikannya.

Lulus dari sekolah dasar, ia meneruskan pendidikan di sebuah SMP di Sidoarjo. Mulai saat itulah, keinginannya untuk meninggalkan agama orang tua kian menguat. Sering kali, timbul semangat dalam hatinya untuk mencari-cari agama lain yang sekiranya dapat menjadi sandaran.

Di SMP, Galuh memiliki kawan yang memeluk Kristen. Ia mengaku, dirinya pernah ikut-ikutan ke tempat ibadah temannya itu. Malahan, pada suatu hari Ahad, ia mendapatkan penahbisan dari pendeta di sana.

Akan tetapi, hatinya tidak sampai tertarik untuk menjadi seiman dengan kawannya itu. Bagaikan terombang-ambing di tengah lautan, pikirannya belum menetap pada kepercayaan tertentu. Kondisi labil masih dirasakannya.

 
Ujung-ujungnya, Galuh melakukan generalisasi. Ia menaruh kekecewaan pada semua agama. 
 
 

Ujung-ujungnya, Galuh melakukan generalisasi. Ia menaruh kekecewaan pada semua agama. Baginya saat itu, tidak perlu manusia memiliki iman. Lakukan apa pun sesukanya, selama tidak merugikan orang lain.

Pada masa itulah, Galuh terperosok dalam gaya hidup bebas. Melihat anak-anak jalanan, ia ingin menjadi seperti mereka. Melihat beberapa temannya gemar berpesta pora, ia mau gembira seperti mereka. Tidak jarang, gadis tersebut menenggak minuman keras.

Walaupun masih bersekolah, ia mulai akrab dengan dunia jalanan. Penyebabnya antara lain adalah kurangnya perhatian orang tua, semisal dalam membiayai kebutuhan hidup. Galuh mengenang, pernah dirinya saat masih SMP menjadi pengamen di bus-bus, jurusan Tanjung Perak-Bungurasih, Surabaya, Jawa Timur.

Bukan hanya itu. Ia juga beberapa kali datang ke klub. Seseorang menawarinya pekerjaan sebagai penyanyi di tempat hiburan malam. Tawaran itu diterimanya sehingga dirinya semakin akrab pada dunia pergaulan bebas.

Tahun berganti. Galuh naik ke kelas III SMP. Tidak pernah disangka sebelumnya, inilah momen perubahan total dalam hidupnya.

Mengenal Islam

Saat duduk di bangku kelas III, sekolah tempat Galuh belajar kedatangan guru baru yang mengajarkan agama Islam. Ia ingat, sosok pengajar itu mudah akrab dengan para murid. Di samping itu, nasihat-nasihat juga kerap disampaikannya kepada siswa-siswi.

Galuh menaruh hormat pada guru tersebut walaupun tidak pernah diajar langsung olehnya. Pada suatu hari, sang guru memanggilnya. Di ruang guru, Galuh dinasihati untuk segera meninggalkan pekerjaannya di sebuah klub malam.

Entah informasi itu didapatkannya dari siapa. Bagaimanapun, cara guru tersebut menasihatinya sangat lembut. Tidak ada nada menghakimi. Tidak pula dilakukan dengan niat mempermalukannya di depan teman-teman. Karena itu, Galuh langsung menuruti petuahnya.

Akhirnya, siswi itu kian dekat dengan guru mata pelajaran agama Islam ini. Ia pun mendapatkan kesan bahwa sang guru taat beribadah. Orang-orang bercerita, tiap suara azan berkumandang dari pengeras suara, pengajar tersebut termasuk yang selalu bergegas ke mushala SMP untuk mendirikan shalat.

Mendapatkan kesan tentang pribadi dan sifat-sifat itu, Galuh mulai tertarik untuk mengenal Islam—agama yang dipeluk sang guru. Ia pun beberapa kali bertanya kepada guru tersebut perihal keislaman. Dari penjelasannya, gadis itu menjadi tahu berbagai ajaran pokok agama ini, semisal konsep tauhid, tujuan hidup manusia, atau kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Pada suatu hari, Galuh memberanikan diri untuk mengungkapkan niatnya berislam kepada gurunya itu. Waktu itu, dirinya masih duduk di bangku kelas III SMP.

 
Sejak itu, guru sekolah saya itu sering menjelaskan tentang agama yang dianutnya, Islam.
 
 

“Saya katakan, dahulu saya merokok dan peminum. Kemudian saya diingatkan (oleh guru agama Islam itu –Red) bahwa perilaku saya dilarang Allah SWT. Maka saya tanya, ‘Allah itu siapa dan di mana keistimewaan Allah?’ Sejak itu, guru sekolah saya itu sering menjelaskan tentang agama yang dianutnya, Islam,” tutur Galuh.

Waktu itu, ayah dan ibunya sudah bercerai. Galuh tinggal bersama ibunya. Kepada sang ibu, ia pun menyampaikan keinginannya untuk memeluk Islam.

Ibundanya menolak keras dengan alasan, banyak orang Muslim yang hidup miskin. Mendengar dalih sang ibu, Galuh tetap pada pendiriannya. Meski demikian, ia tetap bersikap dengan penuh sopan dan kasih sayang kepadanya. Adapun ayahandanya menyatakan tidak peduli, apakah putrinya ini meninggalkan agama lama.

Masa-masa itu terasa cukup berat. Galuh ketika itu sedang sakit. Di rumah, ibunya menemukan sertifikat yang menyatakan status mualafnya. Oleh sang ibunda, dokumen itu disobek-sobek hingga hancur.

Walaupun demikian, Galuh tetap istiqamah. Baginya, Islam memberikan kedamaian batin. Ia pun hendak membuktikan kepada mamanya. Keislaman membuatnya dapat lebih menata hidup demi masa depan yang lebih baik.

Ia semakin rajin belajar. Begitu lulus dari SMA, ia mendapatkan beasiswa untuk dapat duduk di bangku universitas. Ini merupakan berkah yang sangat disyukurinya.

 
Galuh juga sesekali bekerja untuk membiayai kebutuhan ibunda dan ketiga adiknya.
 
 

Galuh juga sesekali bekerja untuk membiayai kebutuhan ibunda dan ketiga adiknya. Sejak bercerai, ibunya sering kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Karena itu, gadis tersebut selalu termotivasi untuk pantang menyerah dalam meraih pendidikan setinggi-tingginya. Sebab, itulah jalan menuju hidup yang lebih baik.

Menjadi mahasiswa baru di Universitas Negeri Malang adalah berkah tersendiri untuknya. Namun, pada mulanya ia agak cemas juga. Sebab, tidak mungkin pergi-pulang dari Sidoarjo ke Malang. Tidak ada pilihan selain mencari indekos yang dekat dengan kampus.

Awalnya, Galuh sempat tidur di masjid sekitar UNM. Dengan sedikit uang, ia memberanikan diri untuk dapat menyewa kamar di asrama. Namun, pembayaran hanya bisa dilakukannya secara mencicil.

“Saya tidak ingin digratiskan karena masih harus kerja, sembari menunggu beasiswa saya keluar. Alhamdulillah, ternyata pemilik asrama itu memberikan gratis sewa selama saya kuliah empat tahun,” katanya.

Sabar dan shalat

Suatu hari, Galuh membawa serta ibunya ke rumah sakit. Dokter setempat menyatakan, sang ibu mengalami bipolar dan skizofrenia. Memang, orang tuanya itu dahulu sempat ditipu pihak yang tidak bertanggung jawab saat sedang sukses menjalankan usaha. Perceraian dengan ayah rupanya kian memperburuk kondisi mentalnya.

Galuh mengaku, penyakit ibunya sering kambuh ketika di rumah hanya ada uang untuk kebutuhan sehari. Dalam kondisi sukar itu, sang ibu acap kali berbicara kasar. Malahan, pernah gadis itu menerima kekerasan fisik.

Bagaimanapun, Galuh tetap bersabar. Ia memahami, apa-apa yang dilakukan sang ibu didorong penyakit mental yang dialaminya. Beberapa tetangga menyarankan agar melaporkan ibunya ke polisi. Namun, saran itu ditolaknya. Ia memilih membawa orang tuanya ke dokter.

Selalu dirinya berusaha menjaga nama baik sang mama. Sebab, ibu adalah orang yang telah melahirkannya ke dunia. Bagaimanapun kondisinya, tetap harus dihormati, disayangi, dan dicintai.

Galuh selalu ingat petuah yang disimaknya kala sebuah kajian keislaman. Dalam Alquran, Allah menyuruh orang beriman untuk menjadikan shalat dan sabar sebagai jalan pertolongan. Terlebih lagi, Islam pun mewajibkan anak untuk berbakti kepada kedua orang tua, utamanya ibu.

Muhammad Natsir: Pahlawan dan Pendidik Teladan

Tidak banyak orang mengenal Muhammad Natsir sebagai guru dan pendidik sejati.

SELENGKAPNYA

Arab Saudi Perlonggar Kebijakan Umrah

Saudi juga telah mempermudah penerbitan visa dan menambah masa tinggal visa umrah menjadi 90 hari.

SELENGKAPNYA