KH Muhammadun (1910-1981), ahli ilmu nahwu dari Pati, Jawa Tengah. | DOK NU

Mujadid

KH Muhammadun, Syekh Nahwu dari Pati

KH Muhammadun, pengasuh Ponpes Darul Ulum ini dikenal sebagai ahli tata bahasa Arab.

OLEH MUHYIDDIN

 

Islam adalah agama yang bersumber pada Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Kitabullah tersebut menggunakan bahasa Arab. Demikian pula, Rasulullah SAW merupakan orang Arab. Dakwahnya sebagian besar dilakukan di tengah masyarakat Arab walaupun beliau diutus oleh Allah SWT untuk seluruh manusia.

Karena itu, penguasaan bahasa Arab amatlah penting bagi semua Muslim, khususnya yang hendak menekuni ilmu-ilmu keislaman. Di antara ilmu-ilmu alat yang dapat ditekuni mereka adalah nahwu, sharaf, balagah, mantiq, ma'ani, bayan, dan sebagainya.

Sebagai negeri mayoritas Muslim sedunia, Indonesia tidak menggunakan bahasa Arab untuk komunikasi resmi maupun sehari-hari. Bagaimanapun, jangan pandang sebelah mata orang-orang dari negeri khatulistiwa ini dalam hal ilmu-ilmu gramatika Arab. Sebab, tidak sedikit ahli bidang tersebut yang berasal dari Tanah Air.

 
Sejarah mencatat, seorang ulama setempat yang masyhur sebagai pakar ilmu nahwu. Dialah KH Muhammadun.
 
 

Khususnya bagi masyarakat Pati, Jawa Tengah, dapatlah berbangga hati. Sejarah mencatat, seorang ulama setempat yang masyhur sebagai pakar ilmu nahwu. Dialah KH Muhammadun.

Alim tersebut lahir di Desa Cebolek, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, pada 10 Januari 1910. Ia merupakan putra dari pasangan Haji Ali Murtadlo dan Hajjah Halimatus Sa’diyyah. Nasabnya bersambung sampai Syekh Ahmad Mutamakkin—sufi legendaris dari Kajen, yang disebut sebagai guru spiritual oleh presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Anak keempat dari tujuh bersaudara itu sudah ditinggal wafat ayahnya saat dirinya berusia 10 tahun. Sejak itu, Muhammadun diasuh oleh ibundanya. Sang ibu tidak kenal lelah dalam mendidik anaknya itu agar mencintai ilmu-ilmu agama. Perempuan ini pun selalu memberikan contoh teladan di rumah, semisal dengan rajin berpuasa sunah, tirakat, atau rutin mengaji.

Muhammadun kecil sangat suka membuka-buka Alquran. Ia dibimbing oleh pamannya sendiri untuk bisa membaca Kitabullah secara baik dan benar. Kebetulan, saudara orang tuanya itu membuka pengajian untuk anak-anak di sebuah surau kecil desa setempat.

Setelah pandai mengaji, anak lelaki ini mendalami ilmu-ilmu agama kepada beberapa ulama di Jawa Tengah. Sebut saja, KH Siroj, KH Abdussalam, KH Yasin Jekulo, dan KH Amir Idris.

Awalnya, Muhammadun muda mondok di Pesantren Salafiyyah Kajen yang diasuh KH Siroj. Namun, masa belajarnya di sana tidak berlangsung lama. Ia kemudian hijrah ke Pondok Polgarut yang dipimpin KH Abdussalam.

 
Saat berusia 15 tahun, Muhammadun berangkat ke Jekulo, Kudus, Jawa Timur. Di sana, ia menjadi santri Pondok Kauman yang diasuh pamannya sendiri.
 
 

Saat berusia 15 tahun, Muhammadun berangkat ke Jekulo, Kudus, Jawa Timur. Di sana, ia menjadi santri Pondok Kauman yang diasuh pamannya sendiri, KH Yasin. Di tempat inilah, ia mulai mengenal ilmu nahwu dan sharraf. Disiplin keislaman lainnya pun dipelajarinya dengan sungguh-sungguh, semisal ilmu fikih, ushul fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf.

Selama mondok di sana, Muhammadun dikenal sebagai murid yang sangat sederhana. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia melakukan usaha sampingan, yakni membantu pekerjaan di rumah KH Abdul Bashir. Kebetulan, kakaknya itu memiliki tempat tinggal persis di sebelah timur Pondok Kauman Jekulo.

Meskipun serba kekurangan, Muhammadun tidak pernah patah arang. Semangatnya selalu tinggi dalam menuntut ilmu. Sering kali, dirinya belajar dengan membaca kitab-kitab hingga larut malam. Tak hanya itu, shalat hajat dan tahajud pun didirikannya di sepertiga malam.

Kisah itu, antara lain, disampaikan Kiai Ahmad Islahuddin, seorang kerabat anak keturunan KH Muhammadun, yakni KH Aslam Muhammadun. “Setelah mengaji di pondoknya Mbah Yasin itu beliau (KH Muhammadun) dianugerahi kecerdasan, kesabaran dan ketelitian luar biasa. Mbah Muhammadun itu kalau mengaji teliti sekali,” ujar Kiai Ahmad saat ditemui Republika baru-baru ini.

 
Setelah mengaji di pondoknya Mbah Yasin itu beliau (KH Muhammadun) dianugerahi kecerdasan, kesabaran dan ketelitian luar biasa.
 
 

Alumnus Pesantren Darul Ulum itu mengungkapkan, ada kebiasaan unik yang dilakukan KH Muhammadun guna melatih kesabaran dan ketelitiannya. Misalnya, ulama tersebut sengaja mencampurkan beras yang akan dimasaknya dengan beberapa kerikil. Saat hendak makan, ia terlebih dahulu memilah batu-batu kecil itu yang terdapat di antara nasi yang sudah matang.

Setelah mengaji sekitar 10 tahun di Pesantren Kauman, Muhammadun muda berniat memperdalam pemahamannya atas kitab-kitab klasik, semacam Tafsir al-Baidlowi, Syarah Talkhis, Syarah Uqud al-Juman, atau Tuhfat al-Muhtaj ilaa Syarh al-Minhaj.

Mengetahui niatan itu, gurunya kemudian memberikan saran agar Muhammadun belajar kepada Kiai Amir Idris di Pekalongan, Jawa Tengah. Maka berangkatlah sang santri ke sana.

Lama kelamaan, Muhammadun semakin dikenal Kiai Amir Idris sebagai murid yang brilian. Sang guru pun beberapa kali memintanya untuk ikut mengajar para santri di pesantren tersebut. Salah seorang kawan seangkatannya di Pekalongan pada masa itu adalah Aqil Siroj—ayahanda ketua umum PBNU 2010-2022, KH Said Aqil Siroj.

Dari Kiai Amir Idris, Muhammadun memperoleh ijazah sanad keilmuan, baik dalam lingkup umum maupun khusus. Yang istimewa itu diperolehnya berdasarkan garis silsilah ilmu yang sampai kepada KH Mahfudz at-Tarmasi, ulama Nusantara yang mengajar di Masjidil Haram, Makkah.

Dari Kiai Yasin, dirinya tidak hanya mendapatkan ilmu dan hikmah, tetapi juga kekerabatan. Sebab, sang guru menjodohkan putrinya dengan Muhammadun. Dari pernikahan dengan Nafisatun, ia dikarunia tiga orang anak, yaitu M Badruddin, Ahmad Rifa’i, dan Afifah. Pada 1943 M, pasangan suami istri itu beserta buah hati mereka pindah ke Pati.

Julukan ahli

Di Pati, KH Muhammadun memimpin Pondok Pesantren Darul Ulum. Berdirinya pesantren di Desa Pondowan, Kecamatan Tayu ini berawal dari sebuah mushala. Pada 1942, sang kiai menjadikan surau tersebut sebagai titik awal lahirnya pesantren.

Semula, pesantren itu tidak diberi nama. Kemudian, atas usul para murid nama untuk lembaga itu adalah Raudlatul Ma’arif Islamiyah. Pada 1974, nama itu diganti lagi menjadi Darul Ulum.

Dalam perkembangan kemudian, ponpes ini didatangi semakin banyak murid. Tidak hanya dari Jawa Tengah. Ada juga yang berasal dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Hingga awal 1980-an, jumlah santri yang menetap di pesantren tersebut mencapai lebih dari 100 orang.

Di sanalah, Kiai Muhammadun mengajar para santri yang berasal dari berbagai daerah. Ia membimbing mereka dengan penuh keikhlasan, tanpa memungut biaya apa pun. Saat menjadi pengasuh Darul Ulum, Kiai Muhammadun berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji.

Dalam wawancara dengan Republika, Kiai Ahmad Islahuddin menceritakan beberapa kisah tentang perjalanan ibadah haji KH Muhammadun. Ketika sosok yang disebutnya Mbah Muhammadun itu menunaikan rukun Islam kelima, ada seorang bangsawan Makkah yang bernama Said Muhammad. Saudagar ini mengutus seseorang untuk mengundang ulama Pati itu ke rumahnya.

Namun, Mbah Muhammadun menolak undangan itu lantaran merasa tidak pantas bertemu dengan seorang tokoh Makkah. Barulah sesudah utusan tersebut datang kedua kalinya, ia bersedia.

 
Mbah Muhammadun menolak undangan itu lantaran merasa tidak pantas bertemu seorang tokoh Makkah. Sesudah utusan tersebut datang kedua kalinya, ia bersedia.
 
 

Dalam pertemuan itu, Said Muhammad mengungkap silsilah Mbah Muhammadun yang bersambung hingga Nabi Muhammad SAW. Menerima kabar gembira itu, tutur Kiai Ahmad, sang ulama Pati tetap rendah hati.

Sang tuan rumah juga memuji kepandaian Mbah Muhammadun dalam berbahasa Arab. Bahkan, kemampuannya dalam tata bahasa sangat memukau Said Muhammad. Maka sejak pertemuan itu, alim dari tanah Jawa itu diberi julukan “ahli ilmu nahwu".

“Di antara obrolan itu, Said Muhammad berkata, ‘Engkau (KH Muhammadun) adalah Imam Sibawaih-nya Jawa.’ Ya, saking pandainya Mbah Muhammadun dalam bidang nahwu, Said memberikan julukan kepadanya,” ujar pimpinan Ponpes Raudhatul Ulum Addiniyyah Kuningan itu kepada Republika.

Imam Sibawaih merupakan panggilan akrab untuk Abu Bisyr Amr bin Utsman al-Bishri. Sosok ini adalah tata bahasa Arab yang hidup pada abad kedelapan Masehi. Karyanya, Al-Kitab, merupakan ulasan tentang gramatika Arab yang pertama kali dibukukan di dunia.

Semasa hidupnya, KH Muhammadun sangat memperhatikan pendidikan generasi muda. Ponpes yang diasuhnya mencetak banyak lulusan yang ahli ilmu-ilmu keislaman, termasuk nahwu dan sharaf.

 
Di antara obrolan itu, Said Muhammad berkata, ‘Engkau (KH Muhammadun) adalah Imam Sibawaih-nya Jawa.’
 
 

Kiai Ahmad mengatakan, sosok alim yang wafat pada 1980 M itu memahami makna tersembunyi di balik kitab-kitab nahwu ternama. Sebut saja, Alfiyah. Karena itu, para santri Darul Ulum begitu mahir menguasai ilmu gramatika Arab.

“Mbah Muhammadun bisa mengerti maksud tersembunyi dari pengarang (kitab) sampai ia juga memberi catatan kaki di kitab-kitab itu. Ada sebagian yang dikritik atau ditambahkannya catatan hingga beberapa halaman,” ucap Kiai Ahmad.

Jerih payahnya berdakwah sangat terasa. Diketahui, Desa Pondowan sebelum adanya Darul Ulum didominasi budaya khas Islam abangan. Begitu ponpes itu hadir, banyak komunitas santri yang sudah mengisi dinamika daerah tersebut.

KH Muhammadun berpulang ke rahmatullah pada 24 Juni 1981. Sehari sebelum wafatnyanya, ia sempat terjatuh ketika akan berwudhu di Masjid Pondowan. Saat dirawat di RS Roemani Semarang, ulama tersebut mengembuskan nafas terakhir.

 

photo
Kompleks Ponpes Darul Ulum yang diinisiasi KH Muhammadun - (DOK NU)

Doa Kiai dan Berdirinya Masjid Jami

 

Budaya santri berkembang dengan pesat di daerah Pati. Kabupaten di Jawa Tengah itu masyhur sebagai tempat dakwah Syekh Ahmad Mutamakkin, sufi yang dianggap guru oleh presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Namun, keistimewaannya bukan hanya itu. Selain sang mursyid, ada banyak ulama besar yang lahir atau berdakwah di sana. Salah satunya adalah KH Muhammadun, sosok yang dijuluki sebagai “Imam Sibawaih-nya Tanah Jawa".

Pakar ilmu nahwu itu mendirikan pondok pesantren di Desa Pondowan. Kisah lahirnya institusi itu tidak lepas dari masjid pertama yang ada di desa tersebut. Mula-mula, KH Muhammadun membimbing kaum Muslimin setempat usai belajar dari banyak guru sejak masa mudanya.

Waktu itu, penduduk Desa Pondowan belum memiliki masjid. Tempat shalat jamaah hanyalah mushala sederhana. Bagaimanapun keadaan, Kiai Muhammadun dan semua warga tetap bersyukur.

Suatu ketika, sang kiai kedatangan tamu, yakni seorang pengusaha asal Kudus. Saudagar yang bernama Haji Ma’ruf itu sowan kepada sang alim. Sebelum pamit, ia meminta didoakan agar produknya bisa terjual hingga ke Sumatra.

 
Ternyata, doa Kiai Muhammadun terwujud. Atas izin Allah SWT, bisnis sang pengusaha Muslim dapat merambah sampai Sumatra.
 
 

Beberapa bulan kemudian, Haji Ma’ruf datang lagi ke Pondowan, Pati. Ternyata, doa Kiai Muhammadun terwujud. Atas izin Allah SWT, bisnis sang pengusaha Muslim dapat merambah sampai Sumatra.

Haji Ma’ruf ingin memberikan hadiah berupa rumah untuk Kiai Muhammadun. Namun, tawaran tersebut ditolak secara halus. Alih-alih hunian pribadi, dai tersebut berharap agar sang pengusaha membantu saja seluruh Desa Pondowan yang lama merindukan keberadaan masjid.

Haji Ma’ruf menyanggupi. Maka dibangunlah masjid besar di desa tersebut dengan dana dari saudagar ini. Semua warga lokal mendukung. Bahkan, ada yang mewakafkan tanahnya guna pendirian masjid.

Pada 1962, selesailah pembangunan Masjid Jami Pondowan. Beberapa tahun kemudian, madrasah berdiri di dekatnya. Mulai saat itu, pengajian yang diadakan KH Muhammadun sering kali berpusat di sana. Di masjid itu pula, dia rutin mengimami shalat kaum Muslimin setempat, hingga akhir hayatnya.

 

Muhammad Natsir: Pahlawan dan Pendidik Teladan

Tidak banyak orang mengenal Muhammad Natsir sebagai guru dan pendidik sejati.

SELENGKAPNYA