Suasana Masjid Al-Majid Dompet Dhuafa di Jalan Baturaja (Lintas Sumatra), Bukit Kemuning, Lampung Utara, Kamis (14/10). Masjid yang berdiri di tanah wakaf seluas lebih dari satu hektare ini telah menjadi kebanggaan masyarakat sekitar, Nantinya bukan hanya | Prayogi/Republika.

Khazanah

Agar Wakaf 3 M Menjadi Produktif

Wakaf masjid, madrasah, dan makam sangat populer di kalangan umat Islam sehingga banyak jumlahnya.

KH FAHRUROJI

Pengasuh Pondok Pesantren Modern dan Tahfizh Darul Ummah Tangerang

 

Membaca judul tulisan di atas, mungkin ada yang mengartikan wakaf 3 M dengan wakaf 3 miliar. Sebenarnya bisa saja diartikan seperti itu, dan kalau ada wakaf senilai itu tentu jumlah yang besar dengan manfaat dan pahala yang banyak. Namun, yang dimaksud dengan wakaf 3 M pada tulisan ini adalah wakaf dalam bentuk masjid, madrasah, dan makam. Istilah wakaf 3 M ini menjadi populer karena banyaknya jumlah wakaf masjid, madrasah, dan makam. Bahkan karena kepopulerannya banyak anggapan bahwa wakaf hanya untuk masjid, madrasah, dan makam. 

Anggapan tersebut tentu tidak tepat mengingat jenis wakaf dan peruntukannya sangat banyak dan beragam. Semua harta benda yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang serta bernilai secara syariah boleh diwakafkan dan menjadi harta benda wakaf. Selain harta benda, manfaat yang cakupannya juga luas dapat diwakafkan, ada manfaat kendaraan, manfaat rumah, manfaat pekerjaan, dan manfaat-manfaat lainnya. Demikian juga dengan peruntukan tidak saja untuk masjid, madrasah, dan makam, untuk apa saja dibolehkan asalkan sesuai dengan syariah.

Kembali kepada wakaf 3 M, menurut hemat penulis wakaf ini menjadi populer karena beberapa sebab. Pertama, dibutuhkan oleh masyarakat dan untuk syiar atau dakwah Islamiyah. Wakaf merupakan instrumen Islam yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara sukarela dengan semangat gotong royong, tolong menolong, perhatian, dan kepedulian. 

Sejak awal disyariatkan wakaf, Rasulullah dan para sahabat mewakafkan harta untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan dakwah. Wakaf Masjid Quba dan Majid Nabawi karena dibutuhkan untuk shalat, wakaf kuda dan peralatan perang, dibutuhkan untuk jihad, wakaf sumber air, dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan cuci, minum, dan pengairan. Wakaf kebun kurma, dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan makanan.

Masjid, madrasah, dan makam akan terus dibutuhkan oleh masyarakat. Kebutuhan akan tempat ibadah, tempat belajar, dan tempat pemakaman akan terus ada, bertambah atau meningkat seiring pertumbuhan atau penambahan penduduk. Meskipun terkadang di suatu daerah atau tempat, kebutuhannya telah cukup atau terpenuhi, tapi di daerah lain belum cukup bahkan sangat dibutuhkan. Maka, sebagai contoh ada wakif yang mencari daerah yag masih membutuhkan masjid karena di daerahnya kebutuhan masjid telah terpenuhi.     

Kedua, dorongan pahala khususnya wakaf masjid. Pada wakaf masjid, pahalanya disebutkan secara jelas oleh Rasulullah dalam hadis yang artinya: Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya(rumah) seperti itu pula di surga (HR. Ibnu Majah). Pada wakaf madrasah, termasuk sekolah, pondok pesantren, perguruan tinggi, dan tempat belajar lainnya, wakif juga akan mendapat pahala dari mereka yang belajar dan mengamalkan ilmu. Pada wakaf kuburan, besarnya pahala mengurus jenazah, menshalatkan, menguburkan, dan pahala ziyarah kubur, maka secara tersirat besarnya pahala wakaf kuburan.

Ketiga, bentuk wakaf yang kekal atau berjangka panjang serta manfaatnya dianggap jelas dan langsung dapat diterima. Wakaf yang memiliki karakteristik kekal atau manfaatnya untuk jangka panjang, dianggap pas jika diaplikasikan pada masjid, madrasah, dan makam. Meskipun tidak kekal selamanya, masjid, madrasah, dan makam keberadaannya untuk waktu yang lama, dan manfaatnya sangat jelas dan dapat langsung diterima baik oleh wakif maupun masyarakat penerima manfaat wakaf.

Wakaf masjid, madrasah, dan makam sangat populer di kalangan umat Islam sehingga banyak jumlahnya. Menurut data Kementerian Agama dari 52,7 ribu hektar jumlah tanah wakaf di Indonesia, yang dibangun masjid dan mushalla mencapai 72,5 persen, madrasah dan pesantren 14,3 persen, dan makam 4,4 persen. 

Dengan jumlah yang banyak tersebut, maka kebijakan wakaf di Indonesia memiliki arah baru atau paradigma baru yaitu wakaf produktif. Untuk menyukseskan wakaf produktif ini, pemerintah menyusun dan menerbitkan undang-undang wakaf yang salah satu tema besarnya adalah wakaf produktif. Bahwa wakaf sebagai pranata keagamaan yang memiliki potensi dan manfaat ekonomi perlu dikelola scara efektif dan efisien untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Demikian bunyi salah satu konsideran dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf.

Dalam pengaturan tentang pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf, disebutkan pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf dilakukan secara produktif. Maksud ketentuan ini adalah bahwa wakaf dikelola dengan berbagai jenis usaha yang memberikan keuntungan, seperti pembangunan pasar, pertokoan, perkantoran, dan lain-lain. 

Untuk mendukung wakaf produktif, maka cakupan harta benda yang dapat diwakafkan diperluas menjadi harta benda tidak bergerak dan harta benda bergerak, harta benda bergerak dibagi menjadi dua yaitu harta benda bergerak selain uang dan harta benda bergerak berupa uang. Singkatnya seluruh harta benda dapat diwakafkan tentu dengan syarat dan ketentuan. 

Lantas bagaimana dengan wakaf masjid, madrasah, dan makam? Bukankah jenis wakaf ini tidak produktif? Bagaimana masjid, madrasah, dan makam dapat dikelola dan dikembangkan secara produktif? Wakaf masjid, madrasah, dan makam memang bukan wakaf produktif, tapi bukan berarti tidak dapat diproduktifkan. Jika letaknya strategis, tanahnya luas atau ada kebutuhan wakaf produktif, tentu dapat ditambahkan pengelolaan jenis wakaf produktif. Misalnya dibangun gedung serba guna, pertokoan di atas tanah yang masih ada di sekitar masjid, madrasah, atau makam. 

Memang tidak semua masjid, madrasah, dan makam dapat dikelola secara produktif. Dalam kondisi ini, perlu diciptakan wakaf produktif dari harta benda wakaf lain yang hasilnya untuk masjid, madrasah, makam, dan keperluan apapun yang terkait dengan masjid, madrasah, dan makam. Bahwa banyak masjid, madrasah, dan makam yang membutuhkan dana operasional, sementara tidak ada pemasukan dana atau kalaupun ada masih kurang. Di sisi lain besarnya antusiasme masyarakat berwakaf masjid, madrasah, dan makam. Fakta ini menjadi peluang untuk membuat kampanye wakaf untuk masjid, madrasah, dan makam. Maksudnya yang diwakafkan adalah harta benda produktif yang hasilnya untuk masjid, madrasah, atau makam dengan segala keperluannya. 

Wakaf seperti itu menjadi praktik yang dominan pada masa lalu. Umat Islam berwakaf terutama untuk masjid dan madrasah. Maksudnya yang diwakafkan harta benda produktif hasilnya untuk membiayai masjid, madrasah, dan kegiatan-kegiatannya. Maka Jami’ atau masjid Al-Azhar di Mesir misalnya memiliki banyak aset wakaf produktif yang diwakafkan oleh umat Islam pada saat itu yang hasilnya untuk masjid tersebut dan berkembang untuk madrasah dan jami’ah (sekolah dan perguruan tinggi). Wakaf jenis ini tentunya sangat besar juga pahalanya karena menjamin keberlangsungan manfaat masjid, madrasah, atau makam.    

Masyarakat perlu terus diedukasi bahwa wakaf masjid, madrasah, dan makam tidak saja terbatas pada bentuk fisik bahwa wakafnya menjadi masjid. Madrasah, atau makam. Tapi dapat berbentuk wakaf lain seperti wakaf sawah, toko, dan aset produktif lainnya yang hasilnya untuk masjid, madrasah, atau makam.