Ge | OldApp
27 Nov 2019, 19:39 WIB

Terpaksa Belajar di Halaman Sekolah

Bangunan utama PAUD Harapan Bangsa di Kampung Sorogenan RT 05/RW 05 Jagalan, Kecamatan Jebres, Solo, sudah hampir setahun ambruk. Para siswa terpaksa belajar di halaman yang disulap menjadi kelas darurat karena bangunan yang ambruk belum diperbaiki sampai sekarang.

Bangunan yang ambruk berukuran sekitar 4x8 meter (m) persegi. Atap bangunan sepenuhnya ambruk. Sedangkan tembok di empat sisi masih berdiri, meski terlihat rapuh.

Kepala PAUD Harapan Bangsa Sri Wahyuningsih mengatakan, bangunan kelas di PAUD tersebut ambruk pada 27 Januari 2019, tepatnya Ahad dini hari pukul 03.00 WIB. Bangunan ambuk dikarenakan usianya sudah sekitar 40 tahun dan belum pernah direnovasi. Selama ini hanya dilakukan penambahan ruang.

Selain itu, bangunan tersebut sebenarnya sudah rapuh karena sejumlah kayu penyangga dimakan rayap.Akhirnya, bangunan tersebut roboh bertepatan pada musim hujan awal tahun ini.

Ini halaman untuk bermain anak- anak, karena kondisi kelas tidak memungkinkan akhirnya kami buat halaman ini untuk kelas darurat, kata dia beberapa waktu lalu.

Menurut Sri, ambruknya bangunan kelas tersebut sangat berdampak bagi kegiatan belajar mengajar (KBM)siswa. Bangunan tersebut awalnya digunakan untuk dua kelas, yakni B-1 dan B-2. Akhirnya, para siswa tersebut menggunakan halaman yang disulap sebagai kelas darurat. Hal itu menyebabkan ruang bermain anak-anak juga berkurang.

Sri menyatakan, anak-anak merasa kurang nyaman dengan KBM di kelas darurat, apalagi ketika cuaca panas. Kelas darurat tersebut beratapkan asbes, sedangkan pada empat sisi diberi sekat papan kayu.

Yang paling terasa itu jumlah murid berkurang 50 persen, dari semula 40 sampai 45 siswa, sekarang 22 murid. Dulu tiga kelas, sekarang hanya dua kelas, ujar dia.

Sri mengaku, setelah musibah bangunan kelas ambruk tersebut dirinya langsung membuat proposal bantuan yang diajukan ke Dinas Pendidikan Kota Solo. Namun, saat itu jawaban yang didapat bantuan akan dianggarkan tahun 2020.

PAUD Harapan Bangsa berdiri di lahan milik pemerintah kelurahan setempat. Luas total lahan mencapai 361 meter persegi. Jumlah guru saat ini sebanyak empat orang.

Bangunan yang didirikan pada 1980-an tersebut dulunya merupakan TK LKMD. Kemudian diubah menjadi PAUD Harapan Bangsa pada 2006.Kemudian pada 2007 diresmikan oleh wali kota Solo yang saat itu dijabat Joko Widodo.

Sri menambahkan, murid-murid PAUD Harapan Bangsa kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke bawah. Biaya SPP per bulan hanya Rp 47 ribu. Sedangkan biaya masuk saat pendaftaran sebesar Rp 547 ribu, sudah termasuk seragam, pengembangan administrasi, dan SPP satu bulan.

Harapan kami bangunan kelas segera diperbaiki supaya anak-anak kegiatan belajar mengajarnya berjalan dengan lancar, kata Sri.

DPRD Kota Solo melakukan kunjung an ke PAUD Harapan Bangsa untuk melihat sekolah yang ambruk.Wakil Ketua DPRD Kota Solo Sugeng Riyanto mengatakan, baru mengetahui ambruknya bangunan kelas PAUD Harapan Bangsa saat reses.

Saat itu, kepala PAUD Harapan Bangsa hadir di reses dan menyampaikan problem sekolah ambruk sejak Januari 2019. Sekolah sudah melapor dan membuat proposal, tapi saat reses itu belum ada tindakan apa pun dan belum ada kejelasan nasib bangunan tersebut.

Ini saya melihat langsung, wajar ketika banyak orang tua batal memasukkan anaknya sekolah ke sini karena khawatir jangan-jangan bangunan lainnya nanti juga ambruk, kata Sugeng.

Sugeng mengatakan, pemkot punya tanggung jawab harus hadir segera merenovasi bangunan kelas yang ambruk tersebut. Sehingga kegiatan belajar mengajar anak-anak PAUD Harapan Bangsa bisa berjalan dengan baik.

Setelah ini, saya akan coba komunikasi dengan Dinas Pendidikan.Saya akan mengecek apakah Dinas sudah menganggarkan atau belum. Kalau belum saya coba push untuk jadi skala prioritas. Kalaupun tidak masuk di anggaran 2020 mestinya harus dipastikan masuk APBD perubahan, kata Sugeng. (ed:mas alamil huda)


×