Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

05 Aug 2022, 17:25 WIB

Penyebab Runtuhnya Kepemimpinan

Allah memberikan isyarat bahwa ada sebab yang akan membuat sebuah kepemimpinan itu runtuh.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Dalam surah al-Baqarah, Allah memberikan isyarat bahwa ada sebab yang akan membuat sebuah kepemimpinan itu runtuh, yaitu dosa. Biasanya dosa tersebut dilakukan karena tergoda oleh setan dan hawa nafsu.

Dalam kisah Nabi Adam, sebagai pemimpin pertama manusia, Allah menyebutkan bahwa setan telah membuatnya tergelincir: “Fa azallahumasy syaithaan anhaa fa akhraja humaa mimmaa kaanaa fiihi.” (QS al-Baqarah: 36).

Caranya, setan menggunakan tipu daya agar Nabi Adam dan Ibunda Hawa memakan pohon terlarang: “Wa laa taqrabaa haadzihisy syajarata (janganlah kamu berdua mendekati pohon ini).” (QS al-Baqarah: 35).

Tipu daya setan tersebut masuk melalui pintu nafsu, yaitu dengan memberikan angan-angan, bahwa jika makan pohon terlarang tersebut maka kamu hai Adam dan Hawa akan menjadi malaikat atau menjadi kekal di surga: “Maa nahaakumaa ‘an haadzihisy syajarati illaa an takuunaa malakaini aw takuunaa minal khaalidiin.” (QS al-A’raf: 20).

Kata khalidiin (kekal) dari sini kemudian menjadi populer bahwa pohon tersebut adalah pohon khuldi. Akibat pelanggaran itu, Nabi Adam dan Ibunda Hawa dikeluarkan dari surga: “Qulnah bithuu minhaa jamiiaa (Kami katakan: Turunlah kamu semua dari surga ini).” (QS al-Baqarah: 38).

Suatu isyarat bahwa setiap perilaku durhaka akan menghancurkan kepemimpinan.

Bani Israil juga telah melakukan kesalahan dalam memikul amanah kepemimpinan. Mereka tidak mau patuh kepada ajaran wahyu yang dibawa Nabi Musa. Mereka telah kerasukan paham materialisme di mana mereka menolak beriman kepada Allah yang gaib: “Alladziina yu’minuun bil ghaibi.” (QS al-Baqarah: 3).

Mereka menuntut Nabi Musa agar menampakkan Allah dalam bentuk benda: “Lan nu’minaa laka hattaa narallaha jahratan (kami tidak akan beriman kepadamu hai Musa, sebelum kami melihat Allah dengan jelas).” (QS al-Baqarah: 55).

Karena dosa inilah kemudian Allah mengazab Bani Israil dengan sambaran halilintar yang dahsyat: “Fa akhdzatkumush shaaiqatu wa antum tanzhuruun.” (QS al-Baqarah: 55).

Bani Israil tidak belajar dari tragedi diruntuhkannya kepemimpinan Fir’aun. Padahal, mereka melihat langsung dengan mata kepala pada saat Fir’aun dan pasukannya ditenggelamkan di Laut Merah. Ketika itu, mereka (Bani Israil bersama Nabi Musa) dikejar-kejar oleh pasukan Fir’aun, lalu Allah membelah Laut Merah menjadi dua bagian.

Dengan pertolongan-Nya mereka selamat, sebaliknya Fir’aun dan pasukannya ditenggelamkan: “Wa aghraqnaa aalafir’auna wa antum tanzhuruun.” (QS al-Baqarah: 50). Itu terjadi karena Fir’aun terlalu sombong sehingga mengaku tuhan: “Ana rabbukumul a’laa.” (QS an-Naziat: 24).

Artinya, di atas kekuasaan makluk sehebat apa pun, ada kekuasaan Allah. Karena itu, ketika Anda memimpin harus selalu patuh kepada aturan-Nya. Sebab, setiap pelanggaran akan mengundang murka-Nya.

Dialah Allah yang memberi kekuasaan kepada siapa yang Ia kehendaki dan mencabut kekusaan dari siapa yang Ia kehendaki: “Tu’til mulka man tasyaa wa tanziul mulka mimman tasyaa.” (QS Ali Imran: 26).


Mencintai Kopi, Mencintai Indonesia

Apabila dulu kopi meninggakan jejak hitam dalam sejarah Indonesia, kini saatnya kopi menjadi perekat bangsa.

SELENGKAPNYA

Keberpihakan Kebijakan

Kebijakan ini membebaskan dari keadaan membelenggu di masa-masa sulit.

SELENGKAPNYA

Sudah Miskin Sombong Pula

Allah SWT tidak menyukai kesombongan dalam bentuk apa pun.

SELENGKAPNYA
×