Seorang pria menjalani vaksinasi cacar monyet alias monkeypox di salah satu klinik di Quebec, Kanada, pada Juni 2022 lalu. | Reuters

Internasional

Prancis: 1.700 Kasus Monkeypox, Mayoritas Pelaku Homoseksual

Cacar monyet pada manusia pertama kali diidentifikasi pada 1970 di Republik Demokratik Kongo.

PARIS – Menteri Kesehatan Prancis Francois Braun mengatakan, saat ini negaranya sudah memiliki sekitar 1.700 kasus monkeypox atau cacar monyet. Kebanyakan dari mereka yang terinfeksi adalah pelaku homoseksual.

“Profil (para pasien) kebanyakan adalah laki-laki yang pernah melakukan hubungan seksual dengan laki-laki lain. Tapi seseorang juga dapat terinfeksi melalui kontak dengan lepuh pasien,” kata Braun dalam sebuah wawancara dengan BFM TV, Senin (25/7).

Braun mengungkapkan, sebagian besar infeksi terjadi di wilayah Paris. Pasien yang memiliki lesi atau gejala lain telah diminta untuk segera melakukan isolasi mandiri. Saat ini, kata Braun, Prancis sudah membuka sekitar 100 pusat vaksinasi cacar monyet. Lebih dari 6.000 warga sudah menerima dosis untuk pencegahan.

Komisi Eropa telah menyetujui penggunaan vaksin Imvanex buatan perusahaan bioteknologi asal Denmark, Bavarian Nordic, untuk vaksinasi dalam rangka pencegahan penyebaran cacar monyet di Benua Biru. Kabar tentang persetujuan itu diumumkan Bavarian Nordic pada Senin lalu.

Bavarian Nordic mengungkapkan, persetujuan itu berlaku di semua negara anggota Uni Eropa serta di Islandia, Liechtenstein, dan Norwegia. “Ketersediaan vaksin yang disetujui dapat secara signifikan meningkatkan kesiapan negara-negara untuk memerangi penyakit yang muncul, tetapi hanya melalui investasi dan perencanaan terstruktur dari kesiapan biologis,” kata Kepala Eksekutif Bavarian Nordic Paul Chaplin.

Pada Sabtu (23/7) lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menetapkan wabah cacar monyet sebagai darurat kesehatan global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Hingga status itu diumumkan, WHO sudah mengonfirmasi setidaknya 16 ribu kasus penyakit tersebut di lebih dari 75 negara.

“Meskipun saya menyatakan PHEIC, untuk saat ini wabah (cacar monyet) terkonsentrasi di antara pria yang berhubungan seks dengan pria, terutama mereka yang memiliki banyak pasangan seksual,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Belanda adalah salah satu negara Eropa memulai proses vaksinasi cacar monyet, Senin (25/7). Warga yang dianggap paling berisiko terpapar atau terinfeksi akan menjadi prioritas.

photo
Penumpang pesawat melintasi alat pendeteksi suhu tubuh (thermal scanner) saat tiba di terminal 2 Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (17/5/2019). Kantor Kesehatan Pelabuhan kelas 1 Surabaya wilayah kerja bandara Juanda meningkatkan kewaspadaan dengan memasang alat pendeteksi suhu tubuh untuk mengantisipasi masuknya virus cacar monyet (Monkeypox) ke wilayah Indonesia. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/nz. - (ANTARA FOTO)

Institut Nasional Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Belanda (RIVM) mengatakan, Dinas Kesehatan Kota Amsterdam dan Dinas Kesehatan Kota Den Haag telah memulai vaksinasi cacar monyet. “Vaksinasi hanya dimungkinkan jika Anda telah menerima undangan pribadi dari Layanan Kesehatan Masyarakat Kota (GGD) atau pusat pengobatan HIV,” kata RIVM dalam sebuah pernyataan, dikutip Anadolu Agency.

Menurut RIVM, vaksin bakal diberikan dalam dua dosis. Dosis kedua diberikan empat pekan setelah suntikan pertama. Sejauh ini Belanda sudah mencatatkan 712 kasus cacar monyet.

Dilansir dari laman resmi PBB, Selasa (26/7), cacar monyet pertama kali dideteksi pada beberapa kera laboratorium pada 1958. Saat itu pula, para ilmuwan menamainya sebagai monkeypox. Ini adalah penyakit virus zoonosis, yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Itu juga bisa menular dari manusia ke manusia.

Cacar monyet pada manusia pertama kali diidentifikasi pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo (DRC) pada anak laki-laki berusia 9 bulan, di wilayah di mana cacar telah dieliminasi pada tahun 1968. Gejalanya mirip dengan cacar, namun secara klinis kurang parah (cacar diberantas di dunia pada 1980). Pada 2003, wabah Monkeypox pertama di luar Afrika dilaporkan di Amerika Serikat yang dikaitkan dengan kontak dengan anjing yang terinfeksi.

Gejala dari cacar monyet biasanya termasuk demam, sakit kepala parah, nyeri otot, nyeri punggung, energi menurun, pembengkakan kelenjar getah bening, dan ruam atau lesi kulit. Ruam biasanya dimulai pada hari pertama atau ketiga dari timbulnya demam. Lesi mungkin datar atau sedikit menonjol, berisi cairan bening atau kekuningan, kemudian mengeras, dan mengering.

Jumlah lesi bervariasi, dari beberapa hingga beberapa ribu. Ruam cenderung muncul di wajah, telapak tangan, dan telapak kaki. Mereka juga dapat ditemukan di mulut, alat kelamin, dan mata.

Siapa pun yang melakukan kontak fisik dengan pasien cacar monyet atau hewan yang terinfeksi, berada pada peningkatan risiko infeksi. Mereka yang hidup dengan orang yang terinfeksi memiliki risiko tinggi untuk terinfeksi. Pekerja kesehatan, berdasarkan sifat pekerjaan mereka, berisiko terpapar.

Bahkan bayi yang baru lahir, anak-anak, dan individu dengan defisiensi sistem kekebalan mungkin berisiko mengalami gejala yang lebih parah dan kematian akibat penyakit tersebut. Dalam kasus yang parah, gejalanya termasuk infeksi kulit, pneumonia, kebingungan, dan infeksi mata yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.

Laboratorium

Pemerintah Indonesia sejauh ini menunjuk dua laboratorium untuk uji sampel cacar monyet di Indonesia yakni Laboratorium Pusat Studi Satwa Primata atau PSSP IPB di Bogor dan Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof Dr Sri Oemijati di Jakarta.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya mendeteksi kasus cacar monyet yang sudah dinyatakan darurat kesehatan global oleh WHO. Dengan ditetapkannya status darurat internasional terhadap cacar monyet oleh WHO, pemerintah telah menyiapkan komponen untuk mendeteksi awal penyakit, seperti penunjukan dua laboratorium untuk melakukan uji sampel.

"Keduanya adalah Laboratorium Pusat Studi Satwa Primata atau PSSP IPB di Bogor dan Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof Dr Sri Oemijati di Jakarta," ujar Koordinator Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Wiku Adisasmito dalam keterangan persnya secara daring, Selasa (26/7).

Pemerintah juga semakin gencar melakukan sosialisasi mengenai penyakit cacar monyet kepada masyaraka. Dia berharap, masyarakat bisa memiliki pemahaman tentang penyakit tersebut. "Khususnya bagaimana penyakit dapat menular, risiko-risiko yang dapat meningkatkan penularan serta cara terhindar dari penyakit ini," ujar Wiku.

Masyarakat diimbau untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat sebagai upaya perlindungan mandiri dari berbagai penyakit. Dia mengingatkan, perlu upaya bersama masyarakat di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai ditambah berbagai penyakit seperti PMK pada hewan ternak dan cacar monyet.

Kemenkes Awasi Ketat Komunitas Gay

Wabah cacar monyet bisa dihentikan dengan strategi tepat di kelompok yang tepat.

SELENGKAPNYA

Harga Gandum Dunia Naik Lagi

Harga gandum berjangka naik 5 persen pada Senin (26/7).

SELENGKAPNYA