Seorang jamaah calon haji berdoa saat mengikuti prosesi puncak haji di Mekkah, Arab Saudi, Jumat (8/7/2022). | ANTARA FOTO/Handout/Saudi Press Agency/pras/n

Tuntunan

24 Jul 2022, 04:14 WIB

Mengasihani Orang yang Menghina Kita

Rasulullah dan waliyullah adalah teladan akhlak mulia terhadap penghina orang lain.

 

OLEH ERDY NASRUL 

Ada saja orang yang, entah sengaja atau tidak, telah menyakiti hati orang lain. Orang dekat kita, misalkan, menebar fitnah berita bohong sehingga banyak orang berprasangka buruk terhadap kita. Teman sekantor, misalkan, mengambil barang berharga di atas meja kantor, atau menurunkan jabatan, padahal kita sudah melakukan pekerjaan dengan baik dan benar.

Banyak lagi permisalan laku yang menyakiti hati. Lalu, bagaimana kita membalas perbuatan jahat itu? Apakah harus menyerang balik dengan kejahatan yang sama? Kejahatan dibalas dengan kejahatan atau dalam bahasa Arab disebut as-syarru bi as-syarri. Untuk hal ini, biarlah Allah yang membalas. Lalu, apakah harus diam menghadapi orang yang sudah menyakiti hati kita?

Dalam hal ini, ada baiknya kita meneladan akhlak kekasih Allah, Rasulullah Muhammad SAW. Kita ingat ketika dia mendakwahkan Islam kepada masyarakat Kota Thaif. Daerah itu terletak di sebelah tenggara Makkah. Jaraknya mencapai 86 kilometer.

Saat Rasulullah dengan bijaksana menyampaikan ajaran Islam, masyarakat di sana malah menolak dakwah itu dengan kasar. Ada yang mencaci maki, bahkan melemparkan batu sehingga Rasulullah terluka. Dalam peristirahatannya, Rasulullah didatangi sejumlah malaikat. Mereka menyampaikan siap membumihanguskan Kota Thaif beserta masyarakat di dalamnya.

photo
Muslimah berdoa pada hari wukuf di Jabal Rahmah, Padang Arafah, Makkah, Jumat (8/7/2022). - (AP Photo/Amr Nabil)

Namun, apa kata Rasulullah? Dia menolak tawaran sang malaikat. Rasulullah justru mendoakan kebaikan untuk warga Thaif, “Allahummahdihim fa innahum la ya’lamun.” Artinya, “Ya Allah, berilah hidayah kepada mereka karena sesungguhnya mereka tak paham dengan ajaran Islam yang aku bawa ini.”

Dampak Rasulullah mendoakan kebaikan kepada mereka pun menghasilkan hal yang luar biasa. Masyarakat Thaif yang semula memusuhi Islam berubah menjadi Muslim. Bahkan, mayoritas penduduk di sana adalah Muslim. Sahabat Rasulullah, Ibnu Abbas, dimakamkan di sana.

Seandainya Rasulullah ketika itu menyetujui tawaran malaikat untuk menghancurkan Thaif, apa yang terjadi? Bisa jadi Thaif menjadi kota terkutuk yang tak berpenghuni, seperti kota Nabi Shaleh atau Madain Shaleh. Akibatnya, Islam pun tak berkembang di sana.

Ada satu kisah lagi. Kali ini adalah pengalaman ulama Tarim Hadhramaut, Habib Muhammad bin Alwi bin Syahab (1913-1980). Saat komunisme menanamkan pengaruhnya di daerah tersebut, banyak ulama diperintahkan melaporkan dirinya atau absen dua kali sehari, pagi dan sore hari, kepada aparat.

Habib Muhammad yang merupakan ayah dari ‘aynu Tarim Habib Abdullah bin Syahab (wafat 2018) adalah salah seorang ulama yang melakukan itu. Setiap kali dia datang ke kantor polisi untuk mengisi daftar hadir, selalu ada aparat yang membawakan daftar tersebut kepada sang habib. Aparat itu begitu memuliakan Habib Muhammad karena takzimnya kepada ulama dan waliyullah tersebut.

Namun, sikap takzim tersebut suatu ketika dilihat atasannya yang tak menyukai Habib Muhammad. Si atasan melarang aparat di sana membawakan daftar hadir kepada Habib Muhammad.

photo
Seorang jamaah berdoa usai melaksanakan shalat taraweh malam pertama di masjid Nuurusysyfaa’ Sunter Jaya, Jakarta, Sabtu (2/4/2022). - (REPUBLIKA)

Dia mengatakan, biarlah si ulama itu mengambil dan mengisi daftar hadirnya sendiri, tak usah ada yang mengambilkannya. Bahkan, berdasarkan cerita pendiri Ma’had Daarul Mushthafa di Hadhramaut, Habib Umar bin Hafizh, si petinggi aparat itu kerap menghina dan merendahkan Habib Muhammad.

Suatu ketika, si petinggi aparat ini sakit. Menderita sekali, sampai akhirnya wafat. Saudara mayat yang semasa hidupnya menyakiti hati Habib Muhammad terpikir untuk mengundang Habib Muhammad. Tapi, apa ia mau? Ah, yang penting datang dulu. Begitu pikiran keluarga jenazah tadi.

Meski matahari sudah terbenam, orang itu tetap datang ke rumah sang alim. Kebetulan Habib Muhammad ada di rumah dan menyambutnya. “Ahlan (selamat datang). Apa gerangan yang membuat Anda datang ke sini? Silakan masuk,” Habib Muhammad mempersilakan.

Kemudian, si tamu menceritakan perihal saudaranya yang wafat dan memohon kesediaan Habib Muhammad untuk menshalatinya. Tanpa berpikir panjang, sang alim langsung mengiyakan. Dia akan datang dulu ke rumah orang tersebut, kemudian berangkat bersama menuju tempat jenazah disemayamkan untuk dishalatkan.

Sebelum si tamu pulang, Habib Muhammad memberikan sejumlah uang kepadanya untuk keperluan mengurus jenazah. Bayangkan, meski sudah dihina, bahkan dizalimi, Habib Muhammad tetap bersimpati kepada jenazah, menshalatinya, dan memberikan bantuan uang.

Dua kisah tersebut, dari Rasulullah dan keturunannya, adalah ibrah bagaimana kita harus memperlakukan orang yang menghina dan merendahkan kita. Orang yang melakukan perbuatan tercela itu mungkin hatinya tertutup sehingga tak ada cahaya Allah yang meneranginya dan tak dapat berbuat kebaikan.

Bukanlah membalas penghinaan orang semacam itu dengan perbuatan tercela pula. Namun, balaslah dengan kebaikan. Balaslah dengan doa yang baik dan akhlak mulia meskipun ada banyak hinaan dan caci maki yang terlontar. Maka, Allah akan bersimpati dan semua makhluk akan ikut bersimpati kepada kita, seperti yang dialami Rasulullah dan Habib Muhammad.


'Sekolah Bertanggung Jawab dalam Perundungan'

Polisi akan memeriksa sejumlah orang dewasa yang mengetahui peristiwa itu.

SELENGKAPNYA

Pagar yang Memangsa

Apa yang ada di pikiran anak-anak yang suka merundung? Apa kebahagiaan yang mereka dapatkan?

SELENGKAPNYA
×