Cover Dialog Jumat edisi Jumat 1 Juli 2022. Akhlak Bekerja, Haruskah dengan Menzalimi Orang Lain? | Dialog Jumat/Republika

Laporan Utama

Adab Bekerja, Haruskah dengan Menzalimi Orang Lain?

Rasulullah menyukai umat Islam yang berdikari atau bekerja.

 

OLEH IMAS DAMAYANTI

Allah sudah menebar rezeki diri di alam ini untuk seluruh makhluk. Tinggal kita harus pandai dan bijak mengelolanya dengan bekerja. Sebagian hasil kerja digunakan untuk menghidupi keluarga dan orang-orang sekitar. Bagaimanakah adab bekerja? Apakah harus dengan melahap semua peluang kerja sehingga orang lain tidak mendapatkannya? 

Anjuran Kerja untuk Aktualisasi Diri

 

Manusia ditekankan untuk menjadi hamba Allah yang terus mengabdi. Pengabdian seorang hamba dapat diukur dari amalan yang ia lakukan semasa hidup. Bekerja bisa menjadi sarana ibadah dalam kerangka syariat Islam. Bagaimana bisa? 

Islam bukan hanya agama yang menekankan umatnya untuk melakukan ibadah yang sifatnya individual. Lebih dari itu, umat Islam bahkan ditekankan untuk melakukan amal usaha sebagai eksistensi diri dalam upaya menggenjot kebaikan di muka bumi. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Pimpinan Ponpes Mahasiswa Al-Hikam KH Muhammad Yusron Shidqi menjelaskan, bekerja dalam tujuan untuk mencari mata pencaharian sangat dianjurkan dan diprioritaskan dalam Islam. Sebab, umat Islam, kata beliau, sangat dianjurkan untuk bergerak dan berbuat dalam kebaikan. 

"Bahkan, Rasulullah berpesan bahwa Muslim yang kuat (baik secara fisik, intelektual, dan ekonomi) lebih disukai Allah," kata Gus Yusron saat dihubungi Republika, Rabu (29/6). 

Menurut dia, seseorang perlu untuk memenuhi kebutuhan diri. Sebab, kefakiran dapat memicu kekufuran dan terlebih kefakiran itu sendiri dapat memicu dampak-dampak sosial yang muncul dalam masyarakat. Pihaknya menekankan bahwa Rasulullah sendiri sangat menyukai umat Islam yang mandiri dan berdikari atau bekerja. 

Pernah suatu ketika saat Nabi mengisi sebuah majelis, seorang sahabat meninggalkan majelis tersebut. Sahabat lainnya pun mengadu kepada Rasulullah perihal tersebut, dan Rasulullah berkata, "Jika dia pergi dari majelisku untuk bekerja, dia fi sabilillah."

photo
Pedagang menata telur di Pasar Mitra Tani, Jakarta, Rabu (13/7/2022). Bekerja bisa menjadi sarana ibadah dalam kerangka syariat Islam. . - (Republika/Thoudy Badai)

Di sisi lain, Gus Yusron menjabarkan tentang manfaat bekerja. Menurut dia, bekerja dapat menghadirkan banyak manfaat, seperti mendekatkan diri kepada Allah SWT, menjadi pribadi yang lebih terhormat, dan dapat menjadi pribadi yang lebih sehat dan bahagia secara psikologis. 

Adapun esensi bekerja, baik pada masa Rasulullah SAW maupun era sekarang, dinilai sama. Adapun formatnya berbeda-beda akibat hadirnya perubahan-perubahan zaman pada masing-masing era. "Untuk itu, di era sekarang, umat Islam harus bisa bekerja yang mengandalkan fisik, efektivitas, dan juga kecepatan," katanya. 

Cendekiawan Muslim Musa Asy'arie menjelaskan bahwa bekerja sejatinya harus dipahami seorang Muslim sebagai suatu keharusan, bukan karena ia takut akan kemiskinan semata. Sebab, menurut Musa, bekerja mengandung nilai ibadah yang merupakan bagian dari amal saleh. "Bekerja dalam pandangan Islam mengandung nilai ibadah," kata Musa.

photo
Buruh tani menaikan teh yang telah di panen ke dalam truk di perkebunan teh PTPN VIII di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (7/6/2022). Pemahaman tentang bekerja harus berdasarkan sebagai tuntutan kualitas untuk diri dalam beribadah. - (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Karena, bekerja bukan serta-merta dibayangi ketakutan terhadap kemiskinan, melaksanakan kerja dengan tekun pun bukan semata-mata untuk mendapatkan harta kekayaan saja. Lebih dari itu, dia menilai, pemahaman tentang bekerja harus berdasarkan sebagai tuntutan kualitas untuk diri dalam beribadah. 

Berdasarkan hal demikian, melalui kerja dan amal usaha, maka tinggi rendahnya martabat manusia dapat diukur dari kualitas usaha kerjanya. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman dalam Alquran Surah al-Ahqaf ayat 19, "Wa likulli darajaatun mimma amiluu, waliyuwaffiyahum a'maalahum wa hum laa yuzhlamun". 

Yang artinya, "Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan". 

Dalam fikih, sesuatu yang diwajibkan bila dikerjakan secara benar, akan menghasilkan kebaikan dan pahala dari Allah. Sebaliknya, jika ia ditinggalkan, akan menghasilkan keburukan dan dosa. Dalam kerangka berpikir demikian, malas atau tidak bekerja bisa dikategorikan sebagai perbuatan dosa dan sia-sia. 

 

photo
Pedagang musiman melayani pembeli daging pada hari tradisi pemotongan hewan (meugang) di Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Rabu (22/4/2020). Bekerja menjadi salah satu medium peningkatan kualitas diri, terlebih jika didorong dengan kolaborasi dan kerja sama. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/aww. - (SYIFA YULINNAS/ANTARA FOTO)

Kerja itu Kolaborasi, Bukan Menjatuhkan Orang Lain

Pola kerja dari masa ke masa senantiasa berubah seiring dengan hadirnya perubahan zaman. Umat Islam dan juga masyarakat global senantiasa berpacu pada kolaborasi dalam lingkup kerja, seberapa penting sebetulnya membangun kolaborasi kerja? 

Islam menekankan setiap hambanya untuk meningkatkan kualitas diri dari beragam medium. Bekerja menjadi salah satu medium peningkatan kualitas diri, terlebih jika didorong dengan kolaborasi dan kerja sama. 

Pengamat Ekonomi Syariah Irfan Syauqi Beik menjelaskan, kolaborasi hari ini merupakan keniscayaan. Hal itu karena adanya kompleksitas persoalan yang terjadi yang menuntut adanya penguatan kerja sama. 

"Kita kalau mau maju sudah tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Kuncinya adalah kebersamaan, menghimpun potensi yang ada dalam satu visi," kata Irfan saat dihubungi Republika, Rabu (29/6). 

Kolaborasi termasuk dalam konteks optimalisasi potensi sumber daya ekonomi. Misalnya, dia mencontohkan, jika seseorang menginginkan meningkatkan produk ekspor hortikultura, tapi yang bersangkutan tidak memiliki lahan ataupun bahan dalam produk pertanian, kolaborasi dan kerja sama sangat dianjurkan baginya. 

photo
Penjual masker keliling disabilitas Budi (39 tahun) saat akan berteduh di Jakarta, Sabtu (17/10). Kolaborasi dengan semua pihak hari ini merupakan keniscayaan. - (Republika/Putra M. Akbar)

Pada masa sekarang, jika hendak melakukan ekspor produk hortikultura, kesediaan lahan dan bahan bukan menjadi hal satu-satunya yang utama. Dengan kolaborasi, kata dia, yang bersangkutan dapat mengonsolidasikan petani hortikultura dan membantu dari sisi marketing untuk menjualnya hingga dapat diekspor ke luar negeri. 

"Nah, sekarang ini (dunia kerja) memang membutuhkan kolaborasi, contohnya ada platform, seperti Gojek dan Tokopedia. Tokopedia, misalnya, dia tak punya toko fisik kan, tapi bisa. Inilah yang disebut cooperative entrepreuner bahasa saya. Ini bisa menggerakkan ekonomi," ujarnya. 

Irfan kemudian membandingkan perbedaan dunia kerja pada masa lalu dengan masa sekarang. Jika dulu dunia kerja cenderung konservatif, mulai dari terbatasnya medium yang mengharuskan mereka berdiskusi tatap muka, meeting sana-sini, dan minimnya informasi, saat ini kondisinya berbeda. 

Menurut dia, saat ini dunia kerja polanya telah berubah. Sebab, pola kolaborasi saat ini dinilai lebih ekspansif, terakses dengan mudah, dan sinergisitas yang lebih cepat. "Sekarang ini kecenderungannya semakin kuat. Kalau mau maju, ya harus kolaborasi, sinergi, sama-sama," kata dia. 

photo
Penjual menawarkan buah durian di area pasar musiman di Pagotan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Ahad (14/2/2021). Dalam dunia kerja saat ini kolaborasi juga menghadirkan banyak sekali manfaat. Mulai dari efektivitas, efisiensi, hingga ruang bisnis yang lebih ekspansif- (SISWOWIDODO/ANTARA FOTO)

CEO Certus Apparel Imadudin Ismail menambahkan, kolaborasi menjadi hal yang sangat krusial dalam menjalankan kerja di era digital. Tanpa kolaborasi, maka banyak hal yang akan tertinggal jauh. 

Di samping itu, pihaknya juga mengingatkan, kolaborasi tanpa konsistensi dan juga transparansi antara berbagai pihak tak akan mungkin menghasilkan kemajuan. Untuk itu, dia menekankan bahwa kunci kesuksesan dari kolaborasi itu sendiri harus dilalui dengan keseriusan dan komitmen yang matang. 

"Tanpa konsistensi dan transparansi, kemajuan usaha dan kerja akan dibayang-bayangi sikap yang nggak amanah. Dan, ini jadi penghancur kerja sama biasanya," kata dia. 

Namun, pihaknya menekankan, dalam dunia kerja saat ini kolaborasi juga menghadirkan banyak sekali manfaat. Mulai dari efektivitas, efisiensi, hingga ruang bisnis yang lebih ekspansif lagi. Pola kerja pada masa lalu dengan masa kini memang berbeda.

Imadudin mencontohkan, pada masa lalu pola kerja cenderung lebih lambat dan kurang ekspansif. Saat ini, hadirnya kolaborasi dapat memunculkan harapan dan juga model bisnis baru yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Namun, sekali lagi, dia menekankan, transparansi dalam kolaborasi pun harus dijunjung tinggi untuk kemajuan bersama. 

"Intinya harus amanah," ujar dia. 

Filantropi Islam Masih Dibutuhkan Masyarakat

Perlu ada definisi yang jelas terkait perbedaan dana kemanusian dan dana keagamaan.

SELENGKAPNYA

Demi Air Zamzam

Jjamaah haji diperbolehkan membawa lima liter air zamzam saat kembali ke negaranya.

SELENGKAPNYA