Pegawai memindahkan makanan khas Ramadhan Kicak sebelum dibungkus di Kauman, Yogyakarta, Rabu (13/4/2022). Ketika ada kerabat yang meninggal dunia dan memiliki utang puasa, apa yang perlu dilakukan oleh keluarganya? | Wihdan Hidayat / Republika

Khazanah

Perlukah Mengganti Puasa Orang yang Telah Wafat?

Ketika ada kerabat yang meninggal dan memiliki utang puasa, apa yang perlu dilakukan oleh keluarganya?

OLEH ROSSI HANDAYANI

 

 

 

Ketika ada kerabat yang meninggal dunia dan memiliki utang puasa, apa yang perlu dilakukan oleh keluarganya? Perlukah mengganti puasa atau membayarkan fidyah?

Menurut Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ahmad Zubaidi, ada dua pendapat mengenai hal tersebut.

"Ada pendapat dari kalangan ahlul hadis yang mengatakan bahwa boleh seseorang mempuasakan anggota keluarganya yang sudah meninggal dunia yang dia punya utang puasa dengan landasan ada hadis yang berkaitan dengan itu," kata Kiai Zubaidi kepada Republika, belum lama ini.

Sementara, pendapat yang kedua, Kiai Zubaidi melanjutkan, tidak membolehkan. Hal ini karena ada hadis juga yang menyatakan bahwa tidak boleh digantikan dengan yang lain, terkait dengan shalat dan puasa.

Terkait dua hadis yang bertentangan ini, menurut dia, kebanyakan ahli fikih menyatakan tidak diperkenankan digantikan dengan orang lain, tapi dengan membayar fidyah.

Lebih lanjut, Kiai Zubaidi menjelaskan, pendapat pertama, yakni dibolehkan mengganti puasa untuk orang lain yang meninggal dunia muncul dari kalangan ulama ilmu hadis. Pandangan hukum ini disandarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan ‘Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang meninggal dunia dan meninggalkan utang puasa, maka walinya harus berpuasa untuk membayarkan utangnya” (HR Bukhari dan Muslim).

Selain itu, Kiai Zubaidi mengatakan, ada juga redaksi hadis Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu yang menceritakan kedatangan seseorang untuk bertanya perihal qadha puasa kepada Nabi Muhammad SAW.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia dan ia masih memiliki utang puasa sebulan. Apakah aku harus membayarkan qadha puasanya atas nama dirinya?' Rasulullah lantas bersabda, 'Seandainya ibumu memiliki utang, apakah engkau akan melunasinya?' 'Ya', jawabnya. Beliau lalu bersabda, 'Utang Allah lebih berhak untuk dilunasi’” (HR Bukhari dan Muslim).

Sementara, pendapat yang kedua, yakni dicukupkan melunasi utang puasa dengan cara membayar fidyah diungkapkan sebagian besar ulama fikih, termasuk ulama Mazhab as-Syafiiyah dengan berlandaskan hadis Nabi Muhammad  SAW.

“Janganlah kamu melakukan shalat untuk orang lain dan jangan pula melakukan puasa untuk orang lain. Namun, berilah makan (orang miskin) sebagai pengganti puasa, satu mud hinthah untuk sehari puasa yang ditinggalkan” (HR an-Nasa’i).

Soal perlu tidaknya mengganti utang puasa orang yang telah meninggal dunia juga dibahas dalam buku Fikih Bulan Syawal karya Muhammad Abduh Tuasikal. Dalam buku ini, penulis juga mengutip sebuah hadis, dari ‘Aisyah Radhiyallahu Anha, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang meninggal dunia lantas masih memiliki utang puasa, keluarga dekatnya (walau bukan ahli waris) yang memuasakan dirinya” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut ditujukan bagi orang yang tidak puasa karena ada uzur (seperti sakit) lalu ia masih punya kemampuan dan memiliki waktu untuk mengqadha’ ketika uzurnya tersebut hilang sebelum meninggal dunia.

Sedangkan, bagi yang tidak berpuasa karena uzur lantas tidak memiliki kemampuan untuk melunasi utang puasanya dan ia meninggal dunia sebelum hilangnya uzur atau ia meninggal dunia setelahnya, tetapi tidak memiliki waktu untuk mengqadha puasanya, tidak ada qadha baginya, tidak ada fidyah, dan tidak ada dosa untuknya.

“Demikian keterangan dari Syekh Musthafa al-Bugha yang penulis sarikan dari At-Tadzhib fii Adillah Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib,” kata Muhammad Abduh Tuasikal dalam bukunya.

Intinya, orang yang dilunasi utang puasanya adalah orang yang masih memiliki kesempatan untuk melunasi utang puasanya, tetapi telanjur meninggal dunia. Sedangkan, bagi orang yang tidak memiliki kemampuan dan kesempatan mengqadha lalu meninggal dunia, tidak ada perintah qadha bagi ahli waris, tidak ada kewajiban fidyah, dan tidak ada dosa.

Shinzo Abe dan Warisannya untuk Muslim Jepang

Abe yang wafat di usia 67 tahun menjadi perdana menteri terlama di Jepang.

SELENGKAPNYA

Pertaruhan G-7 dan G-20

G-7 berupaya memainkan peran sentral kebijakan ekonomi global dalam konflik Rusia-Ukraina.

SELENGKAPNYA

Tantangan Sepuluh Miliar

Jumlah warga bumi akan mencapai melebihi angka 10 miliar pada akhir abad ini. 

SELENGKAPNYA