Umat muslim berjalan menuju Lapangan Gasibu untuk melaksanakan Shalat Idul Adha 1443 H di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Ahad (10/7/2022). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Opini

Idul Adha dan Tauhid Cinta

Tauhid cinta dapat menembus batas ruang dan waktu, melampaui orientasi duniawi.

MUHBIB ABDUL WAHAB, Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Idul Adha bukan seremoni ritual biasa, melainkan perayaan akbar tauhid cinta. Cinta Allah dan Rasul-Nya yang diteladankan Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, menuju pencerahan jiwa, sehingga memiliki spirit perjuangan, pengabdian, dan pengorbanan yang tinggi.

Tauhid cinta dapat menembus batas ruang dan waktu, melampaui orientasi duniawi, demi meraih cinta dari 'Dzat' yang dicintainya. Ibadah haji dan kurban mengedukasi umat Islam memiliki rasa cinta sejati tanpa syarat, sekaligus bebas dari nafsu syahwat.

Ibadah haji dan kurban kaya pesan cinta kasih. Cinta ekspresi dari iman. Dengan kata lain, esensi prosesi ibadah haji dan kurban adalah pendidikan iman berbasis cinta.

 

 
Ibadah haji dan kurban kaya pesan cinta kasih. Cinta ekspresi dari iman. Dengan kata lain, esensi prosesi ibadah haji dan kurban adalah pendidikan iman berbasis cinta.
 
 

 

Sebagai fondasi kehidupan, pendidikan iman dan menjadi mukmin sejati bukan sekadar memahami rukun iman, yang lebih substantif menikmati lezatnya iman sehingga iman menjadi sumber kekuatan dan daya penggerak praksis kesalehan dan kemanusiaan.

Tanpa iman, tidak pernah ada cinta. Karena cinta berbasis iman, dua insan, Adam dan Hawa, yang telah terpisah sekian lama saling mencari dan dipertemukan kembali oleh Allah di Jabal Rahmah. Keduanya saling mencari cinta sejati: cinta kemanusiaan dan cinta Tuhan.

Dalam mereguk cinta kemanusiaan, spirit perjuangan dan ketulusan berkorban menjadi keniscayaan sehingga membuahkan kearifan (‘arafah) dan keinsafan mental spiritual mendalam.

Tauhid cinta yang dimanifestasikan dengan wukuf di Arafah menyadarkan pentingnya mengenali jati diri sehingga menyadari pentingnya memiliki kearifan personal, keduniaan, dan kearifan keakhiratan.

 

 
Tauhid cinta yang dimanifestasikan dengan wukuf di Arafah menyadarkan pentingnya mengenali jati diri sehingga menyadari pentingnya memiliki kearifan personal, keduniaan, dan kearifan keakhiratan.
 
 

 

Maka itu, aktualisasi tauhid cinta ditegaskan Nabi dalam orasi Wada’, yang berisi seruan cinta kemanusiaan dengan tidak menumpahkan darah, menjaga properti (antikorupsi dan pemerolehan harta secara halal), dan menjaga kehormatan diri.

Tauhid cinta diteladankan Ibrahim dan putranya di Mina (lembah cinta dan cita-cita). Ibrahim diuji melalui mimpi, berupa perintah “menyembelih” anak yang sangat dicintainya, Ismail.

Meski diprovokasi setan berkali-kali agar mengurungkan niatnya menyembelih anak kandungnya, Ibrahim teguh pendirian. Perintah “menyembelih” anak kandungnya sendiri tidak mungkin terlaksana jika Ibrahim tak punya kemantapan jiwa dalam mencintai-Nya.

Pendidikan tauhid cinta melalui ibadah kurban, penting bagi kita di tengah gaya hidup berorientasi duniawi semata karena manusia kerap terjebak cinta dunia. Tauhid cinta membuat pekurban tidak melupakan cinta abadi, cinta Ilahi.

Tauhid cinta itu membahagiakan hati dan menenteramkan jiwa. Selain itu, kurban merupakan tolok ukur cinta hamba kepada Tuhannya. Jadi, jangan pernah berharap meraih cinta Ilahi, jika tak pernah sepenuh hati berkurban demi merengkuh cinta-Nya.

 

 
Pendidikan tauhid cinta melalui ibadah kurban, penting bagi kita di tengah gaya hidup berorientasi duniawi semata karena manusia kerap terjebak cinta dunia.
 
 

 

Esensi ibadah kurban dengan menyembelih hewan bukanlah pada Idul Adha dan Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijah), bukan darah yang dialirkan dan daging yang dimakan atau dibagikan, melainkan ditentukan ketulusan cinta dan takwa kita kepada Allah.

Jadi, tauhid cinta merupakan modal spiritual untuk menggapai kualitas cinta Ilahi dan takwa sejati. Dengan tauhid cinta autentik, Ibrahim sukses mengorbankan egonya, “Ismail yang paling dicintainya”. Ini mengantarkannya meraih predikat al-Khalil, sang kekasih Allah.

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS an-Nisa’ [4]: 125).

 
Tauhid cinta sejati memungkinkan kita meraih cita-cita luhur dan masa depan hidup mulia, bermanfaat, bertakwa, dan berbahagia.
 
 

Karena itu, mencintai Allah mengharuskan totalitas penyerahan diri  sehingga dapat mengenyahkan cinta anak, cinta harta, cinta takhta, cinta dunia. Jika kita mampu mencintai Allah melebihi cinta kepada selain-Nya, niscaya kita dapat mencintai dan menyayangi sesama.

Itulah esensi tauhid cinta sejati. Jadi, Idul Adha, ibadah haji, dan kurban merupakan momentum strategis belajar bercinta sejati, bersama, dan karena Allah semata dengan mengorbankan nafsu kebinatangan, ego keduniaan, dan syahwat kekuasaan.

Tauhid cinta sejati memungkinkan kita meraih cita-cita luhur dan masa depan hidup mulia, bermanfaat, bertakwa, dan berbahagia. Tauhid cinta pada Idul Adha harus terus menyala karena hidup ini semakin bermakna apabila cinta Ilahi dan cinta manusiawi membumi.

Karantina Haji di Pulau Onrust

Pulau ini merupakan saksi sejarah pelaksanaan ibadah haji awal abad ke-20, tepatnya pada 1911.

SELENGKAPNYA

Ancaman Krisis Makin Nyata

Beberapa negara mengalami krisis parah sehingga tak mampu membayar utangnya.

SELENGKAPNYA

Menjadi Keluarga Ahli Zikir

Orang tua dapat mengajak anggota keluarga untuk menghadiri majelis-majelis ilmu dan zikir.

SELENGKAPNYA