Karyawati Bank Syariah Indonesia (BSI) menghitung uang rupiah di Kantor Cabang Pembantu (KCP) Daud Beureueh, Banda Aceh, Aceh, Jumat (21/1/2022). | ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Ekonomi

07 Jul 2022, 06:38 WIB

BI Diminta Cegah Pelemahan Rupiah

Pelemahan nilai tukar rupiah saat ini baru fase awal.

JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah menembus level Rp 15 ribu. Ekonom Core Indonesia Piter Abdullah menilai BI perlu menaikkan suku bunga acuan untuk mengatur ekspektasi pasar.

"Kenaikan suku bunga acuan BI bisa menjadi sinyal bahwa BI tidak akan membiarkan pelemahan rupiah berlanjut," kata Piter kepada Republika, Rabu (6/7).

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada Rabu (6/7) tercatat sebesar Rp 15.015 per dolar AS. Kurs rupiah melemah jika dibandingkan dengan hari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 14.990 per dolar AS.

 

Menurut Piter, sinyal ini akan menahan perilaku spekulatif yang bisa semakin memperlemah rupiah. Sementara itu, pelemahan rupiah yang cepat dalam sebulan terakhir disebabkan sejumlah faktor. Hal itu seperti meningkatnya risiko global akibat pandemi dan perang yang tecermin pada inflasi tinggi dan perekonomian yang melambat atau bahkan resesi. Selain itu, ada pula dampak dari respons kebijakan moneter terhadap tingginya inflasi.

"Kalau pemerintah tidak menaikkan harga barang-barang subsidi seperti Pertalite dan BI menaikkan suku bunga, inflasi akan berada di kisaran 4-5 persen dan rupiah di kisaran Rp 14.500 hingga Rp 15.500 per dolar AS," katanya.

Menurut dia, BI seharusnya sangat memahami apabila pelemahan rupiah dibiarkan bisa terjadi ekspektasi pelemahan yang berlebihan. Hal tersebut justru mendorong perilaku spekulatif yang semakin memperlemah rupiah.

Apabila perilaku spekulatif terjadi, upaya stabilisasi rupiah akan semakin sulit dan mahal. Dia mengakui, kenaikan suku bunga bersifat menahan permintaan dan membatasi pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, menurut dia, itu harus dilakukan karena dampak inflasi yang tidak terkendali dan pelemahan rupiah akan lebih buruk lagi.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, pelemahan rupiah sudah diprediksi karena tekanan eksternal terus menguat. "Proyeksinya melemah hingga Rp 16 ribu per dolar AS pada akhir tahun," kata Bhima.

Menurut dia, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini baru fase awal. Tekanan berikutnya diproyeksikan terjadi saat kenaikan suku bunga acuan AS terjadi.

Sinyal resesi ekonomi secara global seperti yang disampaikan oleh berbagai lembaga keuangan menjadi kekhawatiran mendasar pelaku pasar. Pada saat yang bersamaan, BI masih menahan suku bunga acuan ketika terjadi kenaikan inflasi Juni sebesar 4,35 persen. Imbasnya, arus keluar dana asing masih akan tinggi.

 

"Kita harus mempersiapkan diri dalam skenario yang terburuk. Inflasi naik dan konsumen tidak siap, berarti daya beli masyarakat bisa kontraksi," katanya.

Kondisi pasar modal juga kembali masuk ke zona merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang perdagangan Rabu (6/7) bergerak di zona negatif dengan terkoreksi tajam ke posisi 6.646,41. Pada penutupan sesi pertama, IHSG bahkan sempat anjlok hingga 1,10 persen.

IHSG gagal bertahan di zona hijau setelah pada perdagangan sebelumnya, Selasa (5/7), mampu menguat 0,97 persen dan mengakhiri reli panjang penurunan selama enam hari beruntun. Pada perdagangan kemarin, IHSG kembali terpangkas 0,85 persen. Penurunan IHSG sejalan dengan indeks saham di Asia yang juga mayoritas ditutup turun. 

"Pasar saham dibayangi ketakutan mengenai perlambatan ekonomi atau bahkan resesi, baik di tingkat global maupun di kawasan Asia Pasifik," kata Phillip Sekuritas Indonesia dalam risetnya. 

';

Kemendag Dorong Pemulihan Ekspor CPO

Sebanyak 28 produsen siap memproduksi minyak goreng curah dalam kemasan.

SELENGKAPNYA

PLN Pakai PMN untuk Listriki Wilayah 3T

Pengajuan PMN ini akan didistribusikan untuk sejumlah proyek.

SELENGKAPNYA

Rasio Utang BUMN Menurun

Langkah yang diambil BUMN dalam melunasi utang berbeda-beda.

SELENGKAPNYA
×