Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

07 Jul 2022, 03:30 WIB

Puncak Tawakal

Pentingnya tawakal sepenuhnya kepada Allah setelah menyempurnakan gerak usaha.

OLEH ABDUL SYUKKUR

Rasulullah SAW pernah memberikan gambaran sikap tawakal makhluk kepada al-Khalik, beliau bersabda, “Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang benar, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung. Mereka berangkat pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR al-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Pemisalan ini memberikan gambaran kepada kita bahwa makhluk seperti burung saja bisa mendapatkan rezeki dari Allah. Padahal burung tidak dilengkapi dengan akal yang bisa berencana, bisa berproses, dan bisa memprediksi hasil. Berbeda dengan manusia yang dilengkapi dengan akal, sehingga bisa mendulang rezeki Allah dengan memanfaatkan kekuatan akalnya.

Pemberian rezeki kepada manusia yang dianalogikan dengan pemberian rezeki kepada burung tidak lepas dari usaha yang dilakukan oleh tiap makhluk. Ketika Allah memberikan rezeki kepada burung, tetap ada usaha dari burung-burung tersebut untuk bergerak dengan cara terbang pada pagi hari.

Begitu pun rezeki yang disiapkan untuk manusia, harus ada usaha dan gerak untuk menggapai rezeki tersebut. Meskipun, usaha dan gerak tidak mesti berbanding lurus dengan hasil yang akan didapatkan.

Sebagai contoh, kisah Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail yang mencari air dengan berlarian dari Bukit Shafa ke Bukit Marwa, dari Bukit Marwa ke Bukit Shafa, dan begitu seterusnya sampai tujuh kali. Apakah beliau mendapatkan air dari salah satu kedua bukit tersebut? Ternyata tidak! Beliau justru mendapatkan mata air dari bawah telapak kaki bayinya (Ismail) yang direbahkan di dekat Ka’bah.

Di sinilah pentingnya tawakal (pasrah) sepenuhnya kepada Allah setelah menyempurnakan gerak usaha. Manusia hanya dianjurkan untuk berusaha, sementara hasil harus diserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT karena hasil, murni hak prerogatif Allah SWT semata.

Namun, hal ini tidak mudah, apalagi sampai kepada tingkatan kepasrahan yang hakiki, hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya. Seperti pengalaman Nabi Ibrahim saat dilempar ke dalam kobaran api yang sangat dahsyat.

Diriwayatkan melalui Ubay Ibnu Ka’b dari Rasulullah SAW bahwa ketika Nabi Ibrahim diikat oleh tentara Raja Namrudz dan hendak dilemparkan ke dalam kobaran api, Nabi Ibrahim membaca, “La ilaha illa anta subhanaka rabbul ‘alamin, lakal hamdu wa lakal mulku la syarikalak. (Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau Tuhan sekalian alam, milik-Mu segala puji dan milik-Mu segala kekuasaan, tidak ada sekutu bagi-Mu).”

Nabi melanjutkan, kemudian mereka melemparkannya dengan minjaniq (ketapel raksasa), ketika di udara Nabi Ibrahim bertemu dengan Jibril yang bertanya, “Wahai Ibrahim apakah kamu butuh pertolongan?”

Nabi Ibrahim menjawab, “Kalau kepadamu tidak!” Jibril berkata, “Maka mintalah (pertolongan) pada Tuhanmu”, Nabi Ibrahim menjawab, “Aku tidak perlu memohon kepada-Nya, karena ilmu-Nya tentang keadaanku sudah melebihi permohonanku.” Maka Allah berfirman, “Wahai api jadilah dingin dan jadi keselamatan atas Ibrahim.”

Wallahu a’lam.


Imigrasi Soekarno-Hatta Perketat Pemeriksaan Jamaah Haji 

Penyalahgunaan visa dapat teridentifikasi saat menggunakan visa tempel bertuliskan turis ataupun amil.

SELENGKAPNYA

Memberantas Mafia Pangan

Memberantas mafia pangan menjadi kewajiban untuk mewujudkan pertanian adil dan berkelanjutan.

SELENGKAPNYA

Esensi Kurban

Melalui ibadah kurban ini kita juga belajar tentang pentingnya sikap peduli terhadap sesama.

SELENGKAPNYA
×