Tenaga kesehatan memasukan dosis vaksin Covid-19 untuk disuntikan kepada warga di Rusun KS Tubun, Palmerah, Jakarta, Selasa (5/7/2022). Pemerintah akan memberlakukan vaksin booster sebagai syarat perjalanan dan kegiatan masyarakat yang mulai diterapkan da | Republika/Putra M. Akbar

Opini

06 Jul 2022, 08:59 WIB

Membangun Ketahanan Sistem Kesehatan Daerah

Terdapat berbagai macam rute transmisi mikroorganisme dapat menular dari seseorang ke orang lain.

EDE SURYA DARMAWAN; Dosen FKM UI, Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Membangun Ketahananan Sistem Kesehatan Daerah dan Masyarakat di Kota Depok

Dua dekade terakhir, penyakit menular selalu menjadi perhatian kesehatan di negara berkembang ataupun negara maju. Semakin mudah mobilisasi manusia dengan berbagai kepentingannya melintasi banyak negara, maka semakin mudah pula penyakit menular dibawa oleh orang-orang yang melakukan perjalanan ke banyak lokasi.

Semakin bertambahnya populasi manusia, migrasi, serta perdagangan bahan makanan dan produk biologis, maka penularan penyakit tidak lagi hanya berada pada satu lokasi, tetapi bisa menular ke seluruh populasi dunia.

Masalah yang harus diwaspadai manusia di antaranya kemampuan adaptasi mikroorganisme penyakit dapat menyebabkan re-emerge atau penyakit menular lama yang kembali muncul, resistensi obat terhadap mikroorganisme, serta munculnya penyakit baru (Hawker et al, 2018). 

Terdapat berbagai macam rute transmisi mikroorganisme dapat menular dari seseorang ke orang lain, ke wilayah lain, ke benua lain sampai ke seluruh populasi dunia, seperti transmisi melalui makanan, air, darah, vektor (misal : serangga), hewan (misal: rabies dari anjing), dan transmisi yang saat ini masih sangat diingat dunia, yaitu rute pernapasan atau udara.

 
Sebelum Covid-19, dunia sudah lebih dulu kenal airborne disease atau respiratory route melalui kasus SARS.
 
 

Sebelum Covid-19, dunia sudah lebih dulu kenal airborne disease atau respiratory route melalui kasus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada 2002 dengan case fatality rate sekitar 10 persen yang meningkat seiring bertambahnya usia. Demikian pula dengan kasus Middle East Respiratory Syndrome (MERS) pada 2012 dengan case fatality rate lebih banyak, yaitu 35 persen.

Dan terakhir tentu saja pandemi Corona Virus Disease 19 (Covid-19) yang telah beralangsung hampir 3 tahun ini. Berdasarkan data www.worldometers.info pada 28 Juni 2022, total kasus Covid-19 terkonfirmasi 550.524.835 kasus dengan kematian 6,353,386 atau 1,15 persen serta kesembuhan 526.100.103 atau 95,56 persen dari total kasus. 

Untuk kasus Covid-19 di Indonesia, Kota Depok, Jawa Barat, memiliki catatan khusus karena dua waga Kota Depok menjadi kasus pertama yang diumumkan pemerintah pada 3 Maret 2020. Berbagai macam reaksi masyarakat muncul saat itu, mulai dari kekhawatiran penularan dan reaksi panic buying terhadap berbagai kebutuhan termasuk alat kesehatan hingga stigma mereka yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Pemerintah daerah dan jajarannya pada awal mula juga memberikan reaksi beragam. Hingga pada April 2020, Presiden Joko Widodo menetapkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2019. 

Banyak hal dilalui dan kebiasaan yang berubah dibandingkan sebelum ada pandemi Covid-19. Sejak kasus pertama dilaporkan, kontak sosial masyarakat mulai dibatasi. Lalu berubah menjadi pembatasan kontak fisik atau jarak, penggunaan masker dan gaya hidup sehat, seperti cuci tangan diperketat, lalu masuk ke adaptasi normal.

Hingga pada Mei 2022, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa masyarakat diperbolehkan tidak menggunakan masker di ruang terbuka. Pada Juni 2022, situasi pandemi Covid-19 sudah lebih terkendali dibandingkan saat kasus pertama kali dilaporkan.

 
Pandemi Covid-19 merupakan pengalaman dan pelajaran untuk dunia tentang pentingnya berinvestasi kepada kemampuan sistem kesehatan dan keberdayaan masyarakat.
 
 

Pandemi Covid-19 merupakan pengalaman dan pelajaran untuk dunia tentang pentingnya berinvestasi kepada kemampuan sistem kesehatan dan keberdayaan masyarakat. Merujuk pada international Health Regulation 2005 yang menekankan perlunya negara membangun sistem untuk “prevent, detect, dan respond”, Wulf et al (2015), menjelaskan mantra sederhana ketika situasi darurat kesehatan masyarakat terjadi, yaitu “prepare, respond, and recover”.

Meskipun dunia ataupun Indonesia belum resmi mencabut “situasi pandemi Covid-19” pada tahun ni, kenyataannya pandemi sudah lebih terkendali dibandingkan dua tahun lalu. Berdasarkan hal tersebut, saat ini adalah momentum penting untuk mempersiapkan dan meningkatkan health system resilience atau ketahanan sistem kesehatan. Sekaligus juga ketahanan masayarakat/komunitas menggunakan pendekatan kesiapsiagaan yang menghubungkan kemampuan komunitas kita untuk bertahan dari bencana dengan memperkuat sistem sehari-hari untuk meningkatkan kesehatan dan ketahanan masyarakat.

Pengalaman dari pandemi Covid-19  merupakan contoh nyata yang menyoroti peran penting yang dapat dimainkan oleh ketahanan masyarakat saat situasi darurat terjadi. Peristiwa saat warga sekitar saling gotong royong menyiapkan kebutuhan tetangganya yang sedang isolasi mandiri, harus dicatat dan diingat.

Begitu pula dengan relawan yang ikut serta membantu penanganan Covid-19, baik dengan tenaga, waktu termasuk dana dengan donasi terbuka. Contoh lain dari resilien adalah Satgas Covid-19 tingkat RT/RW yang selain memberikan dukungan kepada tetangganya yang terinfeksi Covid-19 juga ikut membantu pencatatan kasus.

Resilien atau ketahanan ini dapat dilihat saat terdapat sistem yang mengatasi gangguan akibat bencana dalam hal ini penyakit menular (termasuk pandemi) serta sistem tersebut mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Contoh lain resilien dapat dilihat pada bencana besar dan kecil, ketika masyarakat bersatu untuk membersihkan lingkungannya terhadap perubahan musim yang biasanya berhubungan dengan peningkatan kasus demam berdarah. Atau di Kota Depok yang telah dinyatakan berhasil mengeliminasi filariasis pada 2017 lalu.

 
Tindakan yang diambil sebelum, selama, dan setelah situasi darurat kesehatan masyarakat haruslah membantu komunitas dan individu sembuh dan bahkan lebih tangguh.
 
 

Tindakan yang diambil sebelum, selama, dan setelah situasi darurat kesehatan masyarakat haruslah membantu komunitas dan individu sembuh dan bahkan lebih tangguh. Terkait kesehatan masyarakat, kita akan mampu “mendeteksi resilien”, mengenali contoh-contoh resilien.

Tantangannya sekarang adalah beralih dari mengidentifikasinya menjadi membangun resilien dalam skala besar pada tingkat sistem kesehatan nasional dan tentu pada tingkat kabupaten kota hingga tingkat masyarakat sebagai garda terdepan dan pertama yang menghadapi berbagai ancaman penyakit menular yang mungkin akan datang mengancam.

Menyadari pentingnya membangun ketahanan sistem Kesehatan dan keberdayaan masyarakat menghadadi Covid-19 dan ancaman penyakit menular lain yang mungkin akan dating pada masa depan, para peneliti dari Universitas Indonesia bekerja sama dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), para peneliti UIN Syarif Hidayatullah, dan peneliti dari Stikes Ria Mitra Husada Depok, memberikan perhatian terhadap Kota Depok yang menjadi lokasi pertama kali warganya terdeteksi terinfeksi Covid-19 Maret 2020. Kerja sama ini dengan melaksanakan pengabdian masyarakat berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi di Kota Depok.

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengukur dan mengembangkan resilien atau ketahanan sistem kesehatan daerah dengan penekanan pada layanan primer (puskesmas) dan masyarakat. Tim peneliti sudah memulai langkah awal dengan melaksanakan focus group discussion (FGD) kepada petugas yang berada di puskesmas dan Dinas Kesehatan untuk melihat resilien yang terdapat di Kota Depok menggunakan instrumen yang telah disusun. Tentunya dengan mengadopsi instrumen yang dikembangkan oleh WHO, yaitu strategi peningkatan resilien atau resilience-enhancing strategy.

Kegiatan FGD yang sudah dilakukan pada pengabdian masyarakat ini akan mengukur resilien pada tingkat kota dan puskesmas yang dibangun berdasarkan variabel yang terdiri dari (1) governance, (2) financing, (3) resources, (4) service delivery. Untuk ketahanan masyarakat akan dibangun berdasarkan tujuh potensi masyarakat untuk melakukan surveilans berbasis masyarakat, yaitu pengorganisasian, teknologi, pembiayaan, sumber daya manusia, komunikasi, dan manajemen berbasis masyarakat.

Kegiatan pengabdian masyarakat diharapkan membuat dan mengembangkan instrumen mengukur ketahanan sistem kesehatan daerah, penguatan layanan keseahtan primer di puskesmas dan masyarakat. Kegiatan pengabdian ini diharapkan juga untuk dapat membuat dan mengembangkan modul yang nantinya akan digunakan sebagai bahan pelatihan kepada puskesmas dan masyarakat di Kota Depok.

Berbagai kegiatan yang diharapkan akan terlaksana selama pengabdian masyarakat ini diantaranya diskusi ilmiah, implikasi praktis dari kebijakan, resilien sistem kesehatan, serta upaya mengatasi kesenjangan di masyarakat Kota Depok. Harapan lain dari pengabdian masyarakat ini, yaitu menjadi pemicu gagasan di seluruh komunitas kesehatan masyarakat tentang cara pemerintah dan pemangku kepentingan untuk bersama memperkenalkan dan menerapkan konsep resilien pada masyarakat dan lingkungannya.

Tentu saja setelah selesai dikembangkan, maka instrumen pengukuran dan modul penguatan ketahananan sistem kesehatan daerah dan masyarakat dapat digunakan oleh para peneliti serta organisasi profesi lain untuk menerapkannya di berbagai daerah dan komunitas di Indonesia.


Fasilitas di Arafah Sudah Siap

Petugas kesehatan, obat, dan alat kesehatan siap digeser ke Armuzna.

SELENGKAPNYA

Siap Menjaga Mina 

Pemberitaan haji mengenai tragedi di Jalan 204 di Mina tak boleh sampai terulang.

SELENGKAPNYA

Memberantas Mafia Pangan

Memberantas mafia pangan menjadi kewajiban untuk mewujudkan pertanian adil dan berkelanjutan.

SELENGKAPNYA
×