Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan Double-Double Track (DDT) paket A di Stasiun Jatinegara, Jakarta, Kamis (7/11/2019). | Republika

Jawa Barat

21 Nov 2019, 19:52 WIB

Sembilan Saksi Diperiksa Kasus Longsor Proyek Jalur Ganda

Lima orang yang tertimbun merupakan pekerja proyek jalur ganda dari PT Hapsaka Mas.

BOGOR -- Polres Bogor terus menelusuri insiden yang menewaskan dua pekerja proyek pembangunan jalur ganda (double track) di Desa Watesjaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (16/11). Hingga saat ini pihak kepolisian telah memeriksa sembilan saksi, termasuk pimpinan PT Hapsaka Mas sebagai pelaksana proyek.

Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Benny Cahyadi menjelaskan, penyidik masih mendalami keterangan sembilan saksi tersebut. Dia mengatakan, penelusuran akan dilakukan secara berkala. "Kita masih estafet, bertahap untuk mengetahui daripada faktor itu apa. (Petinggi PT Hapsaka Mas) sudah-sudah, sudah dipanggil, dia datang," kata Benny saat dihubungi Republika, Kamis (21/11).

Benny mengatakan, para saksi yang dipanggil merupakan saksi mata. Terkait bertambahnya jumlah saksi, kata dia, hal itu disesuaikan dengan data yang telah terkumpul. Jika nantinya keterangan yang dibutuhkan dirasa cukup, penyidik tidak lagi memanggil saksi. Namun, jika ternyata masih memerlukan data tambahan, pihaknya tentu akan memanggil saksi lagi. "Itu situasional. Kalau gak ya bisa bertambah. Yang jelas, kita akan panggil ahli terkait faktor kecelakaan," ungkapnya.

Disinggung adanya faktor kelalaian, Benny enggan berkomentar banyak. Dia mengatakan, hasil penyelidikan tersebut akan disampaikan oleh tim ahli. Karena itu, pihaknya tidak bisa berandai-andai penyebab tebing setinggi sembilan meter itu longsor hingga menimpa lima pekerja, yang tiga di antaranya selamat. "Ahli nanti yang akan menjabarkan. Pokoknya kita sudah proses sembilan saksi. Nanti kemungkinan akan dilanjutkan pemeriksaan terkait dengan ahli untuk menentukan faktor penyebab daripada kecelakaan," ucap Benny.

Berdasarkan keterangan saksi, pada Sabtu sekitar pukul 07.00 WIB sebanyak delapan orang pekerja sedang melakukan pekerjaan retaining wall. Kemudian, sekitar pukul 08.00 WIB tiba-tiba tebing tersebut longsor.

Lima orang yang tertimbun merupakan pekerja proyek jalur ganda dari PT Hapsaka Mas. Dua di antaranya, Muhamad Hanapi (30 tahun) dan Tri Wisnu Mukti (34), dinyatakan meninggal dunia. Sementara itu, tiga lainnya, Sarpin alias Kiswanto (30), Sukardi (44), dan Parjo, dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciawi dalam kondisi selamat. Hingga kini korban yang masih dirawat di RSUD Ciawi adalah Sarpin dan Sukardi.

Direktur RSUD Ciawi Mohammad Tsani Musyafa menjelaskan, petugas medis melakukan langkah cepat untuk menangani korban longsor sehingga mereka terhindari dari luka lebih parah dan bisa kembali beraktivitas normal. Tsani memerinci, korban atas nama Sarpin mengalami luka di bagian kaki yang harus dioperasi. Sementara itu, Sukardi mengalami luka di bagian perut. "Sekarang kita concern terhadap penyembuhan-penyembuhan. Kalau secara teori penyembuhan hanya butuh waktu tiga pekan," ujar Tsani.

Dia menjelaskan, luka kedua korban sebenarnya tidak terlalu parah. Tsani mengatakan, keduanya dapat sembuh lebih cepat dengan mengonsumsi banyak makanan berprotein. Dia memperkirakan Sarpin dapat sembuh dalam kurun waktu tiga pekan ke depan. Sementara itu, Sukardi diperkirakan pada pekan ini sudah dapat pulang. "Itu sebenarnya hanya butuh support makan selain obat-obatan dan protein," ungkapnya.

Disinggung terkait pembiayaan, Tsani mengatakan, pihaknya hanya menjalankan kewajiban. Dia menyatakan tak mengetahui secara pasti korban dibiayai oleh PT Hapsaka Mas atau tidak. "Sebenarnya kalau ada pasien masuk, itu kita tidak melihat siapa yang bayarin. Semua kita tangani dulu," katanya.

Bupati Ade Yasin Munawaroh meminta agar pengerjaan proyek jalur ganda dilakukan lebih berhati-hati. Pasalnya, daerah yang sedang dikerjakan merupakan kawasan rawan bencana. Ade pun mendesak agar PT Hapsaka Mas dapat bertanggung jawab memberikan santunan dan perhatian kepada korban meninggal maupun selamat. "Mohon ditangani dengan serius, juga dengan keluarganya," ungkap Ade. n nugroho habibi ed: erik purnama putra


×