KH Wazir Ali (kanan) membimbing jamaah yang hendak dievakuasi ke Makkah untuk berniat umrah Istirath di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah, Senin (27/6). | A Ayalaby Ichsan/Republika

Jurnal Haji

29 Jun 2022, 03:45 WIB

Melantunkan Niat Berihram dari Pembaringan 

Pasien bisa berumrah jika kondisinya sudah stabil dengan menggunakan kursi roda yang akan dibantu oleh petugas.

OLEH A SYALABY ICHSAN dari Madinah

Tiga pasien perempuan terbaring lemah di ruang rawat inap Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah, Selasa (27/6). Dengan terbata-bata, mereka melantunkan kalimat berbahasa Arab atas bimbingan seorang kiai.

Satu persatu, pasien atas nama Isnaeni Daeng Simba, Siti Zuhroh Johani, dan Masmu'ah binti H Rokhim mengucapkan niat berihram dari tempat tidurnya. “Labbaikallahumma umratan fainhabatsani habisun famahalli haysu habatsani.”

Menurut konsultan Bimbingan dan Ibadah (Bimbad) Daker Madinah PPIH Arab Saudi KH Wazir Ali, tiga pasien tersebut baru saja berniat umrah istirath. Artinya, niat umrah dengan bersyarat. 

Tujuan dari niat umrah istirath yaitu apabila sewaktu-waktu di perjalanan ada halangan seperti sakit tidak bisa (melanjutkan), maka jamaah bisa melakukan tahalul atau mengakhiri umrah. Jamaah pun tidak diwajibkan membayar dam (denda) karena halangan tersebut. Hanya, untuk jamaah laki-laki, tetap wajib mengenakan kain ihram sejak berniat. 

Kiai Wazir menjelaskan, prosesi umrah bisa dijalankan apabila pasien tersebut sudah mampu berumrah. Hanya saja, pasien tersebut biasanya akan ditangani terlebih dahulu oleh KKHI Makkah setibanya di Makkah. 

Pasien bisa berumrah jika kondisinya sudah stabil dengan menggunakan kursi roda yang akan dibantu oleh petugas. "Biasanya nanti dijemput di hotel," kata pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif, Jombang, Jawa Timur itu.

Menurut Kiai Wazir, pasien itu tak berniat ihram di Bir Ali karena kondisi darurat. Hanya saja, mereka tetap melewati atau berhenti sejenak di tempat miqat yang juga disebut sebagai Dzul Hulaifah tersebut.

Mereka tak perlu berniat umrah kembali di tempat miqat. "Kalau dalam keterangan, umrah sebelum miqat itu boleh," kata dia. 

Perawat jaga KKHI Madinah Faizuna Hayanti Mochtar mengungkapkan, tiga pasien tersebut harus dievakuasi ke Makkah dengan ambulans pada Selasa (27/6) pagi. Kondisi mereka tidak memungkinkan untuk bergabung dengan kloternya masing-masing.

Isnaeni Daeng misalnya. Pasien yang menderita penyakit diabetes melitus tersebut sulit berjalan karena kakinya bengkak. Untuk Siti Zuhroh, baru saja menjalani operasi pemasangan ring jantung di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS). Sebelumnya, Siti Zuhroh sempat pingsan di sekitar Masjid Nabawi karena mengalami gangguan irama jantung. Petugas KKHI pun melakukan tindakan pertama lewat restitusi.

Sementara itu, Masmu'ah baru saja menjalani operasi di RSAS. Pasien ini mengalami patah kaki karena terjatuh di lubang. Karena itu, pasien asal tersebut harus dievakuasi dengan ambulans.

Menjelang keberangkatan, satu pasien lagi masuk ke KKHI untuk dievakuasi. Pasien atas nama Agus Dwi Prasetyo dari Kloter Solo (SOC) 21 yang rencananya berangkat bersama kloternya ke Makkah pada Selasa pagi harus dilarikan ke KKHI.

Dr Rifky Mubarok yang menangani pasien tersebut menjelaskan, Agus mengalami gangguan batu pada saluran air seni. "Dia juga harus dievakuasi ke Makkah dengan ambulans,” kata dia.  ';

Surga Dunia dan Tabungan Akhirat Sadio Mane

Mane, dalam balutan keluarga Muslim, betul-betul menjadikan teladan arti asal usul tempatnya berdiri.

SELENGKAPNYA

Penanganan PMK Dianggarkan Rp 4,6 Triliun

Anggaran PMK dimasukkan dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional.

SELENGKAPNYA
×