Founcer Podcast Rukun Sigit Akbar mewawancarai pendakwah di Yogyakarta | Erdy Nasrul/Republika

Khazanah

27 Jun 2022, 16:26 WIB

Perjuangan Dakwah Tidak Sebatas Kajian 

Perjuangan dakwah dalam safari di Yogyakarta menjadi inspirasi bagi Muslim lainnya.

 

YOGYAKARTA – Dakwah merupakan bagian dari perjuangan umat Islam untuk menjadi umat terbaik yang saling mengajak untuk kebaikan dan mengingatkan dalam keburukan.

Begitu juga yang dirasakan saat silaturahmi dan ngonten podcast Rukun Indonesia special bulan Dzulqadah di Yogyakarta. Selama 4 hari (21-25 Juni 2022) bertemu baik sosok maupun secara kelembagaan.

“Kunjungan kami ingin belajar bagaimana perjuangan dakwah dapat menjadi inspirasi dan informasi untuk masyarakat Indonesia yang ditayangkan di rukun podcast,” papar Sigit Akbar, Founder Rukun Indonesia.

Sigit Akbar menjelaskan, hari pertama dimulai dari kunjungan ke Pesantren Jamhariyah, pesantren yang menampung santri tunarungu-tuli yang diasuh oleh Ustadz Randy Abu Balqis.

Berdiri sejak 2019 ini telah menampung puluhan santri dalam satu rumah sebagai pusat kegiatannya. “Kerap kali tunarungu-tuli tidak mendapatkan kesempatan yang sama, baik secara interaksi sosial maupun pendidikan keagamaan. Di sini, santri kita didik untuk bisa beribadah secara totalitas dan mengembangkan bakat untuk di masyarkat,” jelas ustadz Randy.

Kunjungan selanjutnya ke Putri Ariani, pemenang Indonesia Got Talent 2014 ini sedang berjuang dakwahnya melalui dunia tarik suara. Ia ingin menunjukkan bahwa tidak ada lagi stigma negatif bagi tunanetra seperti dirinya dan orang lain. Semua orang memiliki kesempatan yang sama dan mampu berkarir dimana dan apa saja.

“Hari kedua, kami mengunjungi Yayasan AMM Yogyakarta, yayasan yang mengurusi penerbitan Iqra yang dibuat langsung oleh almarhum KH. Asad Humam, pembuat modul Iqra yang selama ini dipakai untuk belajar membaca Al-Quran,” jelas Sigit Akbar.

Bertemu dengan Erweesbe Maimanati, putri kandung pembuat modu Iqra ini menjabarkan bagaimana perjuangan dakwah KH Asad Humam terkait keprihatinan minimnya literasi baca Al-Quran saat itu hingga warisan ilmu yang dipakai masyarakat kini.

Setelahnya, tim Rukun Indonesia bertemu dengan Yohanes Ignatius, seorang mualaf mantan pendeta di Bayat, pelosok desa di Klaten, Jawa Tengah.

Pria yang akrab disapa Pak Yo ini tengah berjuang mendirikan lembaga pelatihan baca Al-Quran, pendidikan akhlak, kepemimpinan dan keislaman di tengah proses banyaknya permutadan dibungkus pendidikan. “Saya memilih dakwah ini karena saya tahu dimana saya bisa bermanfaat bagi orang lain. Di sini, masyarakat sulit sekali mendapatkan pendidikan khususnya agama dengan berbagai faktor. Kemiskinan hingga akses yang cukup jauh dari kota,” papar Pak Yo.

Pak Yo menjelaskan, pendidikan gratis yang diinisiasikan dirinya ini merupakan bentuk wadah anak-anak Muslim belajar. Baginya, generasi harus diselamatkan melalui pendidikan.

Kunjungan Rukun Indonesia di hari selanjutnya, Pondok IT yang diasuh oleh Ustadz Rulli Indrawan. Bincang podcast mengenai visi yang didirikan beliau untuk memaksikmalkan ruang ibadah dan pengembangan bakat secara gratis dari semua lini pendidikan. 

Puncak kunjungan tim Rukun Indonesia ke Ukhwah Mualaf Indonesia (Umi) bertemu dengan Dosmauli, mualafah yang dulu benci Islam justru saat ini mengabdikan hidupnya menjadi pejuang dan pendakwah.

Bermukim di Muntilan, Yogyakarta, wanita yang akrab disapa Bu Uli ini aktif setiap hari mengajar dan mendidik keislaman masyarakat setiap desa yang dapat ia tempuh. Mulai dari lereng Merapi hingga lereng Merbabu.

“Jika ditotal, jamaah yang kami ajarkan mencapai 1500 orang. Kami berharap, perjuangan kami ini dapat bermanfaat bagi mereka yang bahkan sudah berusia 80 tahun masih istiqomah mau belajar membaca Al-Quran kepada kami,” terang Bu Uli.

Sigit Akbar berharap, perjuangan dakwah dalam safari di Yogyakarta menjadi inspirasi bagi Muslim lainnya. Sebagaimana Islam mengajarkan, bahwa Allah menurunkan kita agar menjadi umat terbaik. 

“Kita harus saling mensupport sesame Muslim di bidang dakwah apapun, karena berdakwah tidak hanya sebatas kajian, berdakwah bagaimana kebermanfaatan kita bagi orang lain dengan bertakwa,” jelas Sigit.


×