Sejumlah anak bermain pesawat kertas di kompleks monumen Presiden Indonesia ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie di Isimu, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Jumat (13/9/2019). | ANTARAFOTO

Nasional

27 Jun 2022, 05:15 WIB

Habibie Sebagai Jawaban Kehausan Indonesia

Habibie juga menganggap lumrah perbedaan pendapat.

JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani melihat paket lengkap seorang manusia dalam sosok almarhum Presiden ke-3 RI, Bacharuddin Jusuf Habibie. Menurut dia, Habibie adalah seorang teknolog yang mempunyai kompetensi, profesionalisme, reputasi, dan prestasi global. Sederet pencapaian Habibie itu dinilai dapat menjawab kehausan masyarakat Indonesia terhadap prestasi.

"Untuk orang Indonesia (yang) selalu haus terhadap prestasi, kalau ada seseorang bisa memiliki prestasi dan reputasi yang diakui dunia, itu seperti menjawab kehausan masyarakat Indonesia," kata Sri Mulyani dalam peluncuran buku BJ Habibie dalam Kenangan yang disiarkan secara daring, Sabtu (25/6).

Sri mengaku beberapa kali bertemu dengan Habibie secara personal. Banyak hal yang dibicarakan, salah satunya terkait kebutuhan Indonesia akan peningkatan kepercayaan diri. "'Ani, Indonesia perlu suatu boosting confidence. Orang yang bisa bekerja di luar seperti kamu dan saya itu harus menjadi sesuatu yang bisa ditunjukkan kepada rakyat kita, that we are not different than other. Masyarakat kita bisa,'' ujar Sri bercerita.

Menurut Sri, Habibie juga kerap membicarakan tentang pemikirannya dalam membangun sumber daya manusia (SDM). Hal itulah yang sangat menancap di kepalanya hingga saat ini. "Buat saya pemikiran beliau untuk membangun SDM adalah yang paling menancap di dalam kepala saya," kata dia.

Dalam acara itu, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Satryo Soemantri Brodjonegoro, menyampaikan pesan yang pernah disampaikan Habibie, yakni pentingnya Indonesia mempunyai kemampuan kapasitas dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Menurut Satryo, tidak ada satu negara pun di dunia ini yang mampu bertahan tanpa didukung oleh kemampuan iptek.

"Dari awal Pak Habibie itu menyampaikan pentingnya negara ini mempunyai suatu kemampuan kapasitas dalam bidang iptek," ungkap Satryo.

Karena itu, Satryo menerangkan, pada 1990 lahir UU Nomor 8 tentang AIPI. Pada saat itu, Habibie, almarhum Semaun Samadikun, dan almarhum Fuad Hasan yang mewakili Menristek, Mendikbud, dan Ketua LIPI menggagas terbentuknya AIPI. "Indonesia mempunyai akademi seperti ini tahun 1990. Memang terlambat dibandingkan negara lain. Tapi, kata Pak Habibie waktu itu, never say too late. It always better to have something," kata Satryo bercerita.

Wakil Presiden ke-11 RI, Boediono, mengingat sosok Habibie saat bergabung dalam Kabinet Reformasi Pembangunan. Sebagai Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas era Presiden Habibie, Boediono mengaku mendapatkan pengalaman yang mencerahkan, mencerdaskan, dan menyenangkan.

"Latar belakang beliau (Habibie) sebagai ilmuwan yang terbiasa dengan forum-forum diskusi dan diskursus membuat suasana sidang-sidang kabinet sangat khas," kata Boediono menjelaskan.

Boediono menceritakan, sidang kabinet kala itu biasanya dimulai dengan semacam problem setting yang panjang lebar disampaikan Presiden. Habibie juga menganggap lumrah perbedaan pendapat sehingga Boediono merasa tidak canggung menyampaikan pendapat yang berbeda. "Tentu, akhirnya pada beliaulah untuk memutuskan," kata dia

Pada kesempatan itu, Boediono mengungkapkan peninggalan yang dimiliki Habibie yang terekam dalam angka. Dalam masa kerja Kabinet Reformasi Pembangunan yang kurang lebih 17 bulan saja, ekonomi Indonesia bangkit dari krisis. Ekonomi yang semula terjun bebas dapat direm dan diputar arah.

"Bila pada 1998 PDB menciut minus 13 persen, pada 1999 dapat kembali tumbuh dengan plus 0,8 persen. Inflasi dari tingkat yang sangat tinggi, sudah mendekati hiperinflasi, 78 persen, menjadi hanya 2 persen. Kurs rupiah menguat dari Rp 17 ribu per dolar menjadi antara Rp 7.000-8.000 ribu per dolar. Sektor perbankan yang mengalami stroke mulai siuman dan menggeliat kembali," kata dia. 


Turki Kembali ke Lingkungan Arab

Turki mengalami pasang surut dalam hubungannya dengan Arab Saudi dan negara Teluk lainnya.

SELENGKAPNYA

Bunga Acuan BI Memang Belum Perlu Naik

BI mempertahankan level BI-7DRR yang telah ditetapkan sejak Februari 2021.

SELENGKAPNYA

‘Wajah’ Jamaah Kita

Terbatasnya akses masuk ke Raudhah bahkan sempat disiasati oleh beberapa oknum mutawif.

SELENGKAPNYA
×