Sunarsip | Daan Yahya | Republika

Analisis

27 Jun 2022, 03:39 WIB

Bunga Acuan BI Memang Belum Perlu Naik

BI mempertahankan level BI-7DRR yang telah ditetapkan sejak Februari 2021.

OLEH SUNARSIP

Tidak seperti biasanya, saya mengawali analisis dengan judul yang langsung pada kesimpulan. Melalui tulisan ini saya akan banyak menjelaskan mengapa suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau dikenal dengan BI 7-Days Reverse Repo (BI-7DRR) belum perlu naik.

Sebagaimana diketahui, akhir pekan lalu (Kamis, 22 Juni) BI telah menetapkan bahwa BI-7DRR tetap berada di level 3,50 persen. Sebagian kalangan menilai kebijakan BI ini bertentangan dengan arus utama di pasar uang yang menghendaki agar BI menaikkan BI-7DRR.

Alasan mereka, suku bunga acuan di beberapa negara telah naik mengikuti kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat atau the Fed Fund Rate (FFR). Terlebih lagi, dalam beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah berada dalam tren melemah seiring dengan sentimen negatif akibat kenaikan FFR.

Mereka juga menilai inflasi kita dalam tren meningkat sehingga berpotensi mendorong suku bunga riil (suku bunga nominal dikurangi inflasi) negatif bila suku bunga tidak dinaikan. Sehingga, mereka menilai BI seharusnya menaikkan BI-7DRR untuk mencegah berlanjutnya pelemahan nilai tukar dan arus modal keluar (capital outflow).

Namun yang terjadi: BI mengambil kebijakan yang tidak sesuai ekspektasi mereka. BI mempertahankan level BI-7DRR yang telah ditetapkan sejak Februari 2021. Ketika ditanya kawan-kawan BI pada Mei lalu terkait ekspektasi saya terhadap BI-7DRR, saya memang mengusulkan agar BI tidak perlu mengikuti langkah the Fed dan bank-bank sentral negara lain yang telah menaikkan suku bunga acuannya.

 
Namun yang terjadi: BI mengambil kebijakan yang tidak sesuai ekspektasi mereka.
 
 

Mengapa demikian? Pertama, inflasi kita meskipun dalam tren naik, levelnya masih dapat dikendalikan (managaeble). Inflasi kita juga lebih banyak disebabkan oleh faktor supply chain pada beberapa komoditas tertentu, yang sesungguhnya dapat dikendalikan melalui kebijakan sektoral (oleh kementerian sektoral). Ini mengingat, faktor supply chain yang memberikan andil besar pada inflasi kita terjadi pada komoditas yang sebenarnya berada dalam kendali kita seperti energi (batu bara, minyak mentah) dan pangan (minyak sawit, CPO).

Oleh karenanya, kurang tepat bila kenaikan harga akibat faktor supply chain kemudian direspons melalui kebijakan moneter dengan menaikkan BI-7DRR. Kenaikan BI-7DRR biasanya akan cepat direspons oleh kenaikan suku bunga perbankan (suku bunga dana dan kredit).

Bila dilakukan, hal ini dapat berpotensi mengerem laju pertumbuhan kredit yang saat ini dalam tren positif. Bila laju pertumbuhan kredit tertahan, hal tersebut akan berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi yang saat ini juga dalam tren positif. Pada akhirnya, ongkos dari kenaikan BI-7DRR akan menjadi mahal bagi perekonomian.

Kedua, beberapa analis berpendapat kebijakan mempertahankan BI-7DRR akan mendorong terjadinya suku bunga riil yang negatif. Kondisi ini dinilai berisiko mendorong terjadinya capital outflow dan pelemahan nilai tukar.

 
Beberapa analis berpendapat kebijakan mempertahankan BI-7DRR akan mendorong terjadinya suku bunga riil yang negatif.
 
 

Saya berpendapat bisa saja suku bunga riil kita ke depan berpotensi negatif. Namun, kalau kita bandingkan di negara lain, suku bunga riil Indonesia relatif masih lebih baik. Sebagai gambaran sederhana, pada Mei lalu, inflasi kita (year on year) berada di level 3,47 persen. Sehingga, secara riil suku bunga kita masih positif 0,25 persen.

Bandingkan dengan suku bunga riil di negara-negara lain, baik di negara-negara maju (advanced economies) maupun emerging markets yang saat ini sudah banyak yang negatif, bahkan negatifnya cukup besar.

Ketiga, nilai tukar rupiah memang kini melemah akibat sentimen negatif dari kenaikan FFR. Namun demikian, berbekal kekuatan fundamental ekonomi kita saat ini, rupiah memiliki peluang pulih lebih baik dibanding mata uang lainnya. Selain suku bunga riil kita masih positif, berbagai indikator makroekonomi kita juga relatif lebih baik.

Sebagai contoh, bila di negara lain kenaikan harga komoditas lebih banyak menjadi faktor negatif, di Indonesia tidak demikian halnya. Sebagai eksportir, kenaikan harga komoditas turut berkontribusi memperkuat penyangga makro ekonomi kita (macroeconomic buffers).

Kenaikan harga komoditas mempertebal surplus neraca perdagangan. Tahun 2021 lalu, surplus neraca perdagangan kita mencapai 35,33 miliar dolar AS meningkat 63,41 persen dibanding 2020 yang 21,62 miliar dolar.

Surplus neraca perdagangan Januari-Mei 2022 sudah mencapai 19,79 miliar dolar meningkat 88,30 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang 10,51 miliar dolar. Kinerja neraca perdagangan ini tentunya akan memperkuat cadangan devisa dan menjadi penyangga bagi nilai tukar.

Tidak hanya meningkatkan surplus neraca perdagangan, tingginya harga komoditas juga turut memperkuat fiskal kita. Kenaikan harga komoditas memberikan kontribusi bagi APBN baik dari sisi perpajakan maupun nonperpajakan. Selama periode Januari-Mei 2022, penerimaan perpajakan naik 47,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, penerimaan nonperpajakan naik 33,7 persen. Hasilnya, APBN kita mengalami surplus Rp132,2 triliun. Perbaikan sisi fiskal ini semestinya dilihat investor asing (pelaku pasar uang) sebagai faktor positif yang menopang bagi penguatan nilai tukar rupiah.

Keempat, saat ini memang terjadi tren kebijakan kenaikan suku bunga acuan oleh beberapa bank sentral negara lain, mengikuti kenaikan FFR. Namun yang menjadi pertanyaan: seberapa kuat mereka akan mengikuti langkah bank sentral AS (the Fed) tersebut. Banyak analisis menyebutkan, the Fed akan menaikkan FFR-nya sebanyak 4 hingga 5 kali selama 2022.

 
Saat ini memang terjadi tren kebijakan kenaikan suku bunga acuan oleh beberapa bank sentral negara lain, mengikuti kenaikan FFR.
 
 

Itu artinya, meskipun pada 16 Juni lalu FFR telah dinaikkan 0,75 persen (tertinggi sejak 1994), the Fed masih berpeluang menaikkan FFR-nya pada beberapa bulan ke depan. Terlebih lagi, suku bunga riil AS saat ini masih negatif.

Saya memperkirakan, para bank sentral di negara lain (terutama di emerging markets) tidak akan sepenuhnya mengikuti langkah the Fed. Pemerintah dan bank sentralnya diperkirakan tidak akan mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi yang saat ini dialaminya.

Negara-negara tersebut diperkirakan akan membatasi kenaikan suku bunga acuannya. Tujuannya, untuk memproteksi kepentingan ekonomi domestik, khususnya pelaku ekonomi sektor riil. Dalam konteks inilah, BI juga tidak perlu mengikuti sepenuhnya langkah the Fed tersebut.

Dengan demikian, kebijakan BI yang terlihat “wait and see” dan tidak reaktif dengan lebih mencermati dinamika eksternal merupakan langkah yang tepat. BI memang perlu cermat dalam menetapkan BI-7DRR. Ini mengingat, bila BI-7DRR naik, untuk menormalisasikannya kembali (turun kembali) biasanya tidak mudah dan membutuhkan waktu.

Di sisi lain, bila BI-7DRR naik, perbankan biasanya akan cepat meresponsnya dengan menaikkan suku bunga simpanan dan kreditnya. Sebaliknya, bila BI-7DDR telah turun, suku bunga perbankan biasanya lambat respons turunnya.

 
Bila BI-7DRR naik, perbankan biasanya akan cepat meresponsnya dengan menaikkan suku bunga simpanan dan kreditnya.
 
 

Saya berpendapat, pengendalian inflasi memang akan menjadi faktor krusial apakah BI akan mampu mempertahankan arah kebijakan moneternya saat ini. Namun demikian, pengendalian inflasi semestinya tidak terlalu mengandalkan kebijakan moneter.

Pengendalian inflasi perlu lebih diperkuat pada sisi kebijakan sektoral terutama untuk mengatasi problem supply chain. Antara lain dilakukan melalui penguatan efektivitas kebijakan domestic market obligation (DMO) terutama terhadap beberapa komoditas strategis yang diperlukan untuk mengendalikan biaya produksi, seperti di sektor energi dan pangan.

Termasuk pula, pemerintah juga dapat menggunakan windfall di sisi fiskal untuk mengendalikan harga-harga produk di sektor energi dan pangan.


KH Achmad Qusyairi, Teladan dari Pasuruan

Ulama ini dikenal akan wawasannya yang luas dan sifatnya yang tawadhu.

SELENGKAPNYA

Pencuri yang ‘Kecurian’

Malik bin Dinar hanya melihat pencuri dari kamar tempatnya shalat.

SELENGKAPNYA

Dunia Ini Sementara

Dengan perkataan lain, penuhilah kebutuhan hidup di dunia ini sewajarnya.

SELENGKAPNYA
×