Warga mengantre untuk berbelanja kebutuhan pangan dengan harga murah saat program pangan bersubsidi di RPTRA Shibi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (10/6/2022). | Republika/Thoudy Badai

Kabar Utama

13 Jun 2022, 03:55 WIB

Antisipasi Ancaman Krisis Pangan Global

Diversifikasi ke pangan lokal menjadi salah satu solusi ancaman krisis pangan bagi Indonesia.

JAKARTA -- Ancaman krisis pangan yang membayangi dunia harus diantisipasi oleh pemerintah. Langkah-langkah yang komprehensif dibutuhkan agar Indonesia tak terkena dampak besar dari permasalahan rantai pasok global.

Presiden Joko Widodo telah mewanti-wanti ihwal permasalahan pangan yang sedang dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia. Jokowi pada akhir pekan lalu mengatakan, saat ini ada semakin banyak negara yang menghentikan ekspor bahan pangannya untuk kebutuhan di dalam negerinya sendiri.

Sementara, Indonesia masih membutuhkan pasokan impor. "Hati-hati yang namanya urusan pangan, produksi pangan," kata Jokowi di Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (11/6).

Jokowi mengungkapkan, pada Januari lalu hanya terdapat tiga negara yang melarang ekspor bahan pangan. Namun, kini jumlah negara yang menerapkan kebijakan pelarangan ekspor sudah mencapai 22 negara. Padahal, Indonesia juga masih mengimpor bahan pangan, seperti gandum, jagung, dan kedelai.

Sementara untuk beras, Jokowi menyebut sudah tiga tahun Indonesia tak melakukan impor sama sekali. "Hati-hati yang urusan beras, yang biasanya kita impor dua juta ton, sudah tiga tahun ini kita tidak impor beras sama sekali," kata dia.

Menurut dia, meningkatnya produksi beras berkat banyaknya bendungan yang telah dibangun pemerintah. Hingga saat ini, sebanyak 29 bendungan telah selesai dibangun. Pemerintah menargetkan akan membangun hingga 65 bendungan.

Jokowi mengatakan, rata-rata harga beras di Indonesia masih Rp 10 ribu. Sedangkan di Amerika Serikat, kata Jokowi, telah mencapai Rp 52 ribu. Jokowi menyebut, kenaikan sejumlah harga pangan saat ini salah satunya disebabkan perang di Ukraina dan Rusia.

Pengamat Pertanian Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menyatakan, tidak ada resep tunggal untuk mengatasi permasalahan pangan yang terjadi saat ini. Dibutuhkan langkah yang berbeda untuk setiap komoditas.

"Masing-masing komoditas itu unik, berbeda karakteristiknya, dan karena itu perlu langkah yang berbeda-beda untuk mengatasinya," kata Khudori kepada Republika, Ahad (12/6).

photo
Warga berbelanja kebutuhan pangan dengan harga murah saat program pangan bersubsidi di RPTRA Shibi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (10/6/2022). Program pangan bersubsidi tersebut digelar oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) bersama Dinas Sosial DKI Jakarta untuk memberikan kemudahan akses pangan bergizi bagi warga menengah kebawah. - (Republika/Thoudy Badai)

Untuk komoditas pangan impor, kata Khudori, sepanjang harga pangan impor naik maka harga itu akan merembet ke pasar domestik. Menurut dia, tak banyak yang bisa dilakukan pemerintah terkait hal itu. "Paling-paling memberi subsidi untuk menolong masyarakat/warga pengguna komoditas itu, seperti pada kedelai," katanya.

Khudori menambahkan, menangani persoalan pada komoditas diproduksi sendiri dan mengalami surplus pun tidak mudah. Ia kemudian menyinggung persoalan minyak goreng. Berbagai kebijakan sudah dibuat pemerintah sejak awal tahun, namun belum juga bisa membuat harga minyak goreng turun.

"Di luar itu, untuk produk-produk yang memang kita impor baik komoditas pangan maupun pakannya, harga naik dipicu oleh ongkos transportasi yang naik akibat kenaikan harga BBM," ujarnya.

photo
Pedagang telur ayam melayani pembeli di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Kamis (9/6/2022). Pedagang di pasar tersebut menyatakan, harga telur ayam mengalami kenaikan dari Rp 25 ribu menjadi Rp 30 ribu, harga cabai rawit dari Rp 60 ribu menjadi Rp 100 ribu dan harga cabai merah keriting dari Rp 50 ribu menjadi Rp 80 ribu serta cabai tanjung dari Rp 60 ribu menjadi Rp 90 ribu. - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Terkait komoditas musiman seperti cabai dan bawang merah, Khudori mengingatkan agar pemerintah dan para petani bisa mengatur pola tanam dan panen. Sedangkan untuk komoditas yang mudah rusak/busuk seperti cabai, sebaiknya beralih ke olahan. "Untuk beralih ini, memang perlu edukasi ke konsumen."

Hal yang tak kalah penting dilakukan adalah terkait perencanaan impor komoditas. Pemerintah harus bisa mengkalkulasi secara tepat kebutuahan impor. Izin impor juga harus diberikan sejak jauh-jauh hari. "Ini agar importir punya keleluasaan untuk mengimpor, termasuk keleluasaan untuk membeli saat harga lebih rendah," ujar dia.

Kepala Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Pertanian Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi mengatakan, diversifikasi ke pangan lokal menjadi solusi agar Indonesia terhindar dari krisis pangan global.

"Solusinya adalah kita mesti genjot pangan lokal, kita harus diversifikasi pangan impor menjadi pangan lokal. Ganti gandum dengan umbi-umbian, dengan singkong, dengan lobak, dan lain sebagainya," kata Dedi.

Dedi menyebutkan, harga-harga pangan yang meningkat signifikan pada saat ini merupakan gejala dari krisis pangan yang mulai terjadi. Krisis pangan tersebut diakibatkan oleh kurangnya pasokan pangan di dunia karena perubahan iklim.

Naiknya permukaan air laut yang membanjiri lahan pertanian, kemarau panjang, kebakaran hutan, dan serbuan hama pada lahan pertanian menyebabkan penurunan produksi komoditas pertanian. Hal ini berakibat pada minimnya pasokan dan melonjaknya harga pangan.

Menurut Badan Pangan Dunia (FAO), kata Dedi, Indonesia adalah salah satu negara yang terdampak dari krisis pangan global dikarenakan jumlah penduduknya yang banyak. Oleh karena itu, menurut Dedi, Indonesia harus bisa memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri dan tidak tergantung dengan komoditas pangan impor.

photo
Pekerja memproduksi tahu di pabrik tahu Cangkiang, Ampek-Angkek, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Jumat (10/6/2022). Pengusaha tahu mengaku terkendala bahan baku kacang kedelai yang harganya terus naik dari Rp 320 ribu per 50 kilogram kini mencapai Rp 700 ribu per 50 kilogram, sehingga mereka harus menaikkan harga jual tahu. - (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

"Umbi-umbian, pangan lokal itu berlimpah sesungguhnya di negara kita. Tapi sayangnya kenapa orang Indonesia kok sukanya mi yang berasal dari gandum, padahal gandum itu pangan subtropis," kata Dedi.

Oleh karean itu, ia menilai Indonesia bisa mendiversifikasi pangan dari mi yang terbuat dari gandum, menjadi mi yang berbahan dasar dari pangan lokal, seperti singkong dan sagu.

"Ganti gandum dengan umbi-umbian dengan singkong, dengan sagu, dengan pisang. Ganti jeruk mandarin dengan jeruk Medan, jeruk Pontianak, dan lain sebagainya. Itu yang harus kita lakukan," kata Dedi.

Dia menekankan agar Indonesia menggenjot pangan lokal dari hulu sampai hilir, yaitu meningkatkan produktivitas, hilirisasi, dan olahannya. "Karena olahan inilah yang akan mendorong dari produksinya," katanya. 

Merangkak naik

Di berbagai daerah, harga-harga bahan pokok terus mengalami kenaikan. Di Banten, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tangerang menyebut kenaikan tersebut terjadi karena faktor cuaca buruk yang memengaruhi hasil panen petani dan akhirnya berimbas pada harga.  

photo
Pedagang cabai melayani pembeli di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Kamis (9/6/2022). Pedagang di pasar tersebut menyatakan, harga telur ayam mengalami kenaikan dari Rp 25 ribu menjadi Rp 30 ribu, harga cabai rawit dari Rp 60 ribu menjadi Rp 100 ribu dan harga cabai merah keriting dari Rp 50 ribu menjadi Rp 80 ribu serta cabai tanjung dari Rp 60 ribu menjadi Rp 90 ribu. - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Data Disperindag Kabupaten Tangerang mencatat, berdasarkan pantauan yang dilakukan, harga komoditas cabai merah keriting dan cabai merah besar melonjak 150 persen dari harga normal sekitar Rp40 ribu per kilogram (kg)  menjadi Rp 100 ribu per kg, bawang merah naik nyaris 100 persen menjadi Rp 63 ribu per kg dari harga normal Rp 32 ribu per kg. Lalu harga bawang putih dari harga normal Rp 25 ribu per kg menjadi Rp 40 ribu per kg atau naik sekitar 65 persen. 

Sementara itu, harga daging sapi menjadi Rp 140 ribu per kg dari harga normal Rp 110 ribu per kg dan daging ayam ras mencapai Rp 50 ribu per kg dari harga normal Rp35 ribu per kg. Untuk harga telur ayam boiler mengalami kenaikan dari harga normal Rp 24 ribu per kg menjadi Rp 28 per kg.

Kepala Bidang Perdagangan pada Disperindag Kabupaten Tangerang Iskandar Nordat menuturkan, saat ini masih berlangsung musim penghujan, padahal memasuki Juni 2022 seharusnya sudah musim kemarau. Kondisi musim penghujan yang berkepanjangan hingga bulan ini membuat kualitas sejumlah komoditas mengalami penurunan.

photo
Petani menunjukkan cabai merah yang terserang hama di persawahan Desa Setrokalangan, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (7/6/2022). Menurut petani cuaca yang tidak menentu mengakibatkan cabai mudah terserang hama dan gampang rontok sehingga produksinya menurun dan menyebabkan harga naik menjadi Rp 45.000 per kilogram ditingkat petani. - (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)

“Cuaca kurang baik ini sangat memengaruhi produktivitas petani. Cuaca yang tidak menentu menyebabkan banyak masalah, seperti distribusi hasil panen yang dipengaruhi masalah transportasi, keterlambatan pengiriman menyebabkan kerusakan hasil panen, sehingga berpengaruh pada kestabilan harga,” ujar Iskandar, Ahad.

Menurunnya kualitas hasil panen juga dipengaruhi penyakit buah atau tanaman yang melanda. Faktor-faktor itu secara nyata mengerek harga bahan pangan.

Iskandar mengatakan, untuk dapat menekan kenaikan harga bahan pangan, dia memastikan akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang untuk stabilisasi harga. Diharapkan upaya stabilisasi harga bisa segera terealisasi agar masyarakat tidak merasa terus-terusan tercekik dengan kenaikan harga pangan.

“Kita akan berupaya menekan kenaikan harga bahan pokok yang terjadi saat ini dengan melakukan koordinasi bersama instansi terkait lainnya,” kata dia.


×