Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

06 Jun 2022, 12:35 WIB

Menikmati Takdir Kematian

Nikmati saja jatah hidup ini dengan beramal saleh sampai kematian tiba.

 

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Allah SWT menegaskan, kematian sudah ditetapkan dan pasti datang: “Faidzaa jaaa ajaluhum laa yasta’khiruuna saa’atan walaa yastaqdimuun” (QS al-Araf: 34). Maksudnya, sedikit pun kematian tidak bisa ditunda atau dipercepat. Bukan karena seseorang masih kaya raya atau masih berkuasa lalu ajalnya diperpanjang.

Tidak demikian, panjang tidaknya kehidupan tidak ditentukan oleh banyaknya harta atau kuatnya jabatan: “Kullu nafsin dzzaiqatul maut” (QS al-Anbiya: 35), semua makhluk pasti akan mati. Hanya Allah yang kekal: “Kullu syaiin haalikun illaa wajhahu” (QS al-Qashash: 88). 

Artinya, kita tidak perlu takut mati sebab itu memang pasti akan menjemput kita dengan cara Allah. Sebaliknya, kita tidak perlu berlebihan dalam bersedih sebab kematian pasti akan menimpa setiap makhluk.

Maka, jangan merasa aman dari kematian karena mempunyai fasilitas kehidupan yang sangat lengkap. Sebaliknya, jangan takut berlebihan sehingga menjadi stres dan tidak bisa beramal. Nikmati saja jatah hidup ini dengan beramal saleh sampai ajal tiba.

 
Kisah Nabi Idris menunjukkan kematian terjadi kapan dan di mana saja. 
 
 

Kisah Nabi Idris menunjukkan kematian terjadi kapan dan di mana saja. Suatu hari Nabi Idris meminta malaikat yang menemaninya agar membersamainya ke langit.

Lalu malaikat tersebut menggendongnya sampai ke langit lapis keempat. Di sana malaikat itu bertemu dengan malaikat maut, seraya menceritakan kebingungannya bahwa ia diperintahkan untuk mencabut nyawa Nabi Idris di langit keempat ini. 

Sementara, dalam pengetahuannya Nabi Idris masih di bumi. Malaikat yang menggendong Nabi Idris itu menjawab bahwa ia bersamanya. Maka dicabutlah nyawa Nabi Idris di sana.

Allah berfirman: “Wa rafa’naahu makanan aliyya” (Aku angkat Idris ke tempat yang tinggi). Artinya, ketika sudah tiba saatnya kematian, itu akan terjadi pada waktu dan dan di tempat yang telah ditetapkan (lihat Tafsir ath-Thabari). 

Dalam kisah Nabi Sulaiman pernah terekam kejadian yang sama. Ketika itu, putra Nabi Daud sedang rapat dengan staf-stafnya. Tiba-tiba datang seorang tamu masuk ke dalam ruangan menemui sang nabi. Pandangan tamu itu tiba-tiba terarah kepada salah seorang anggota rapat yang ada. 

Pegawai itu ketakutan. Ia minta tolong Nabi Sulaiman untuk memindahkannya ke India supaya tidak bertemu lagi dengan tamu tersebut. Nabi Sulaiman memerintahkan angin agar membawanya ke India. 

Setibanya di tempat yang ia tuju, bertemulah ia dengan tamu yang ia hindari itu. Tamu tersebut berkata: “Aku malaikat maut, diperintahkan Allah untuk mencabut nyawamu di sini”.

Maka dicabutlah nyawa staf itu di India. Artinya, ketika kematian akan menjemput seseorang di sebuah tempat, Allah SWT buat hajat agar orang tersebut datang ke tempat yang ditentukan. ';

Siklus Ruling Elite Muhammadiyah

Pola untuk mendeteksi siklus ruling elite di Muhammadiyah adalah satu dekade.

SELENGKAPNYA

Ekologi yang Tergadai

Ketidakpahaman perlunya menjaga fungsi dan jasa ekologi memicu penggadaian ekologi.

SELENGKAPNYA

Membantu Saudara

Mencegah kezaliman saudara juga merupakan tugas kita.

SELENGKAPNYA
×