Syekh Muhammad Jamil Jaho. | DOK MTI Syeikh M Djamil Jaho

Mujadid

Syeikh Jamil Jaho, Sang Penggerak Dakwah Asal Tanah Minang

Ulama dari bumi Minangkabau ini berjasa dalam mendirikan Perti pada awal abad ke-20.

OLEH MUHYIDDIN

Sumatra Barat (Sumbar) merupakan daerah di Nusantara yang melahirkan banyak tokoh Muslim. Reputasinya tidak hanya diakui dalam skala nasional, tetapi juga mancanegara. Mereka turut mengharumkan nama baik bangsa Indonesia.

Di antara orang-orang Minangkabau kenamaan, terdapat sosok alim yang patut diketahui khalayak luas. Dialah Syekh Muhammad Jamil Jaho. Ulama tersebut dikenang antara lain sebagai tokoh pendidikan yang merintis Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti).

Mubaligh itu lahir pada tahun 1875. Ayahnya bergelar Datuk Garang, yang berasal dari Nagari Tambangan, Padang Panjang, Sumbar. Bapaknya itu pernah menjabat sebagai qadi di Tambangan. Adapun ibunya bernama Umbuik, seorang ustazah yang rutin menggelar majelis taklim lokal.

Jaho merupakan nama sebuah desa di Nagari Tambangan. Karena lahir dan tumbuh besar di sana, Muhammad Jamil pun dijuluki sebagai Inyiak Jaho atau Angku Jahu kala sudah dewasa. Sejak kecil, dirinya sudah tekun belajar ilmu-ilmu agama.

Di rumahnya, kedua orang tua menerapkan aturan-aturan yang bernafaskan ajaran agama Islam. Karena itu, masa kecil Muhammad Jamil diisi dengan nuansa religi yang sangat kental. Latar belakang keluarga yang alim itu membuatnya senantiasa haus akan ilmu-ilmu keislaman.

Menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban. Hal itu terpatri betul dalam benak M Jamil sejak belia. Ia pertama-tama belajar mengaji Alquran kepada bapaknya. Dengan penuh disiplin, ia menuntaskan materi-materi pelajaran. Salah satu prestasinya adalah mampu menghafalkan Alquran 30 juz. Waktu itu, usianya masih 13 tahun.

 
Melihat talenta yang ada pada diri putranya, Datuk Garang kemudian mulai mengajarkan kitab-kitab kuning kepada Muhammad Jamil.
 
 

Melihat talenta yang ada pada diri putranya, Datuk Garang kemudian mulai mengajarkan kitab-kitab kuning kepada Muhammad Jamil. Setelah memiliki perbekalan yang memadai dalam disiplin nahwu dan sharaf, ia pun diantarkan oleh ayahnya untuk menimba ilmu kepada Syekh al-Jufri, seorang ulama yang tinggal di Gunung Raja, Batu Putih, Padang Panjang.

Selama belajar kepada Syekh al-Jufri, Jamil kian menunjukkan ketekunan dan kecerdasannya. Beberapa bulan kemudian, murid kesayangan para guru itu menjadi seorang alim kecik. Maksudnya, peranan tersebut adalah ‘anak kecil yang alim’.

Walaupun telah memahami kitab-kitab berbahasa Arab dengan baik, Jamil masih haus akan ilmu pengetahuan agama. Pada 1893, ia melanjutkan rihlah keilmuannya. Tujuannya saat itu adalah berguru kepada seorang ulama fikih yang terkenal, Syekh al-Ayyubi, di Tanjung Bungo, Padang Ganting.

Selama menjadi santri, Jamil berteman akrab dengan Sulaiman ar-Rasuli. Sosok itu di kemudian hari, tepatnya pada 1930, turut mendirikan organisasi Perti. Keduanya terkenal sebagai murid-murid yang pandai serta selalu antusias dalam menerima ilmu.

Enam tahun lamanya Jamil belajar kepada Syekh al-Ayyubi. Sesudah itu, dari Tanjung Buro perjalanan diteruskannya ke Biaro Kota Tuo. Daerah tersebut pada masa itu merupakan tempat berkumpulnya para ulama besar Minangkabau. Pada 1899, ia dan Sulaiman ar-Rasuli kemudian menimba ilmu-ilmu agama dari Syekh Abdullah Halaban.

Gurunya itu dikenal sebagai seorang mubaligh yang menguasai ilmu fikih dan ushul fikih. Syekh Abdullah Halaban juga adalah teman seperguruan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Syekh Muhammad Sa’ad Mungka al-Khalidy.

Di perguruan inilah, Jamil dipercaya untuk menjadi seorang pengajar dan asisten pribadi. Syekh Halaban pun beberapa kali membawanya serta pengajian-pengajian keliling negeri Minang oleh gurunya ini.

Kurang lebih sembilan tahun dia belajar kepada Syekh Halaban. Ia pun menjadi seorang fakih yang dalam ilmunya. Oleh gurunya, ia dipandang mampu berdiri sendiri dan boleh membuka surau atau dayah.

Kendati demikian, Jamil masih merasa belum sampai pada taraf keilmuan seorang pengajar, apatah lagi ulama besar. Ia yakin, masih banyak ilmu-ilmu agama yang mesti dikajinya.

 
Maka pada 1908, dia melaksanakan ibadah haji. Usai pelaksanaan rukun Islam kelima itu, Jamil mengaji kepada sejumlah masyayikh di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
 
 

Maka pada 1908, dia melaksanakan ibadah haji. Usai pelaksanaan rukun Islam kelima itu, suami dari Saidah—seorang wanita asal Tambangan—tersebut mengaji kepada sejumlah masyayikh di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

A Ginandjar Sya'ban mengutip bagian pembuka pada kitab Tadzkirah al-Qulub, karangan Syekh Muhammad Jamil Jaho. Dalam buku tersebut, penulisnya mengungkapkan bahwa saat di Makkah, dirinya menimba ilmu dari Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Dari sesama tokoh Minang itu, terdapat seorang putera daerah yang menjadi imam, khatib sekaligus mufti mazhab Syafi’i di Masjidil Haram.

Selama di Makkah, dia juga bertemu dan belajar bersama Syekh Abdul Karim Amrullah, ayahanda Buya Hamka. Keduanya menjadi murid kesayangan Syekh Ahmad Khatib. Bahkan, mereka dan diberi kehormatan untuk membimbing dan mengajar murid-murid yang lain.

Sekitar 10 tahun Syekh M Jamil Jaho belajar dan mengajar di Makkah. Ia pun telah menjadi alim besar yang diperhitungkan. Selama itu pula, ia memperoleh tiga ijazah ilmiah dari tiga orang ulama besar di Makkah pada zaman itu, yaitu Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (guru besar mazhab Syafi’i), Syekh Alwi al-Maliki (guru besar mazhab Maliki), dan Syekh Mukhtar al-Affani (guru besar mazhab Hanbali).

photo
Pengunjung berada di kawasan Islamic Center, Kota Padangpanjang, Sumatra Barat, Kamis (19/4). Syekh Jamil Jaho lahir pada 1875. Ayahnya bergelar Datuk Garang, yang berasal dari Nagari Tambangan, Padang Panjang, Sumbar. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/aww/18. - (ANTARA FOTO)

Mendirikan Perti

Sekembalinya dari Tanah Suci Makkah, Syekh Muhammad Jamil Jaho sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Mereka menantikan sang syekh menggelar majelis taklim di sana.

Bagi kalangan dai Minangkabau masa itu, Syekh Jamil termasuk ulama yang berpaham pembaharu. Ia menolak pola ijtihad yang selama ini didengung-dengungkan. Dikritiknya pula, sikap menerima taklid yang digelorakan ulama-ulama terdahulu. Sebuah cara berpikir yang bertolak belakang dengan tren berpikir yang digandrungi oleh ulama muda masa itu.

Pada 1922, Syekh Muhammad Jamil kemudian menggagas berdirinya Persatuan Ulama Minangkabau dan pendirian Perguruan Islam Thawalib. Hal itu dilakukannya bersama para sahabat, yakni Syekh Sulaiman ar-Rasuli dan Syekh Abdul Karim Amrullah.

Di kampung halamannya, pada 1924 dia juga mendirikan surau Jaho dan membuka pengajian. Murid-muridnya datang dari beragam daerah. Ada yang berasal dari Aceh, Jambi, Sumatra Utara, atau Lampung.

Dari Surau Jaho inilah, alumnus Haramain itu melakukan kaderisasi banyak ulama. Di antara para santrinya yang akhirnya berjuang di jalan dakwah adalah Syekh Zakaria Labaisati Malaloyang dan Syekh Waly al-Khalidy.

 
Halakah yang didirikannya ini kelak berkembang menjadi Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Jaho.
 
 

Halakah yang didirikannya ini kelak berkembang menjadi Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Jaho, yakni usai bergabung dengan Syekh Sulaiman ar-Rasuli. Menurut Akhria Nazwar dalam bukunya, Syekh Ahmad Khatib (1983), kedua tokoh itu sepaham dalam menolak ijtihad. Mereka juga menolak meninggalkan taklid pada ulama. Namun dalam soal tarekat keduanya berbeda paham.

Menurut Akhria Nazwar, Syekh Jamil bersama Syekh Sulaiman ar-Rasuli, sosok yang sepaham dengannya. Keduanya sama-sama menolak ijtihad. Dan menolak meninggalkan taklid kepada ulama. Namun, dalam soal tarekat keduanya sering menjadi golongan yang di tengah.

Syekh Jamil Jaho dan Syekh ar-Rasuli menjadi simbol utama ulama tradisional pada masa itu. Keduanya mengembangkan Madrasah Tarbiyah Islamiyah itu menjadi sebuah gerakan organisasi Islam berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah (aswaja).

Mereka pun mengakui, nama Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Jadi, inilah madrasah yang bercorak pesantren pertama di Sumatra Barat. Itu pun masih berafiliasi dengan organisasi Perti.

 
Syekh Jamil bersama Syekh Sulaiman ar-Rasuli sama-sama menolak ijtihad dan menolak meninggalkan taklid kepada ulama. Namun, dalam soal tarekat keduanya sering menjadi golongan yang di tengah.
 
 

Syekh Muhammad Jamil Jaho merupakan seorang ulama yang sangat dihormati di Minangkabau. Sebagai fukaha, dirinya tetap mengikuti fatwa para alim dari masa yang lalu. Ia juga menolak ijtihad secara bebas. Seruannya adalah agar masyarakat kembali menelaah turats atau kitab-kitab kuning melalui jalur surau atau pesantren.

Di kalangan masyarakat Minang saat itu, Syekh Jamil Jaho dikenal memiliki sikap netral dalam menghadapi perbedaan pendapat antara kaum tua dengan kaum muda. Kedua belah pihak acap kali berbeda perspektif pada banyak hal. Umpamanya, soal pembaharuan Islam di Sumatra Barat.

Sang syekh tidak pernah menyerang pribadi kelompok. Pola penyebaran syiar Islam yang dilakukannya pun selalu membumi dan memahami konteks zaman. Belakangan, cara itu dipakai oleh Syekh Jamil Jambek, yakni dengan mendatangi kampung-kampung untuk menyampaikan dakwah.

Syekh Jamil mengikuti cara berpikir Syekh Yusuf Nabhani, sosok yang dikenal kerap berseberangan dengan pemikiran para reformis—Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani dan Rasyid Ridha. Tokoh-tokoh pembaruan Islam dari Timur Tengah itu banyak diikuti oleh para alim-cendekia muda saat itu, termasuk di Sumbar.

 
Sang syekh tidak pernah menyerang pribadi kelompok. Pola penyebaran syiar Islam yang dilakukannya pun selalu membumi dan memahami konteks zaman.
 
 

Sosok ulama Minang yang satu ini juga dikenal sebagai orang yang memiliki peran besar dalam kiprah Muhammadiyah di tanah Minangkabau. Hadirnya persyarikatan tersebut di Sumbar tidak lepas dari kontribusinya bersama dengan Syekh Muhammad Zain Simabur.

Namun, kedua tokoh ulama Minang ini di kemudian hari mengundurkan diri dari kepengurusan Muhammadiyah. Alasannya, usai mengikuti Kongres Muhammadiyah ke-16 di Pekalongan pada 1927, ternyata ada perbedaan pandangan. Baginya, masih pada persoalan dalam peluang membuka ijtihad dan menolak taklid kepada ulama.

 

Sosok Penengah Peduli Persatuan

Syekh Muhammad Jamil Jaho merupakan seorang tokoh yang mencuat namanya dalam konteks “pertarungan pemikiran” antara kaum tua dan kaum muda di Sumatra Barat pada awal abad ke-20. Tanah Minangkabau kala itu menjadi ajang perjumpaan dua kelompok yang sama-sama bersemangat islami, tetapi beda cara pendekatan itu.

Kaum tua cenderung tradisionalis. Dalam bidang fikih, misalnya, mereka agak ketat terkait perkara ijtihad. Adapun kaum muda condong pada pemikiran-pemikiran reformisme Islam. Titik tekannya adalah mendorong umat untuk keluar dari kejumudan berpikir sehingga dapat mengejar ketertinggalan dari Barat.

Syekh M Jamil Jaho dalam beberapa literatur kadang kala dikelompokkan bersama kaum tua. Padahal, keberpihakan itu belum tentu tepat adanya. Alim kelahiran Padang Panjang tahun 1875 itu cenderung tampil sebagai penengah polemik.

Penulis buku Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia, Abdul Baqir Zein, mengatakan, pengalaman membuat Syekh Jamil Jaho berwawasan luas. Ulama tersebut memang tidak hanya menuntut ilmu di dalam, tetapi juga luar negeri—tepatnya Tanah Suci Haramain.

Sebuah surau yang merekam jejak perjalanan Syekh Jamil kini telah menjadi Masjid Nurul Falah di Kota Padang Panjang. Tempat itu sekaligus menjadi saksi bisu “konflik pemikiran” antara kaum tua dan kaum muda.

 
Untuk menciptakan suasana saling mengerti itu, Syekh Jamil Jaho menyediakan suraunya menjadi tempat silaturahmi antara tokoh kaum tua dan kaum muda.
 
 

Untuk menciptakan suasana saling memahami, Syekh Jamil Jaho kemudian menyediakan suraunya sebagai tempat silaturahim antara tokohtokoh kaum tua dan kaum muda. Mereka di sana dipersilakan untuk membahas berbagai soal keagamaan, ibadah, dan keumatan.

Bersama-sama dengan Syekh Daud Rasyidi, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli dan Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Jamil Jaho bekerja keras melalui dakwah-dakwahnya, menyadarkan umat akan bahaya berpecah belah. Apalagi pada saat itu umat Islam masih dalam penjajahan.

“Untuk menciptakan suasana saling mengerti itu, Syekh Jamil Jaho menyediakan suraunya menjadi tempat silaturahmi antara tokoh kaum tua dan kaum muda. Selain membahas soal-soal keagamaan, juga soal-soal keumatan,” tulis Abdul Baqir Zein.

Syekh Jamil wafat pada 2 November 1945. Ia meninggalkan banyak karya berharga. Di antaranya adalah Tadzkiratul Qulub fil Muraqabah 'Allamul Ghuyub, Nujumul Hidayah, dan As-Syamsul Lami'ah.

Sumber: Narasi Kata

Emas yang Jadi Mahar, Wajib Zakat?

Apakah mahar yang diberikan seorang pria ke perempuan tersebut wajib zakat atau tidak.

SELENGKAPNYA

Allah Paling Tahu yang Terbaik Untukmu

Kepasrahan dan keikhlasan berkelindan. Allah paling tahu yang terbaik untukmu.

SELENGKAPNYA

Metaverse untuk Pertanian

Metaverse merupakan alternatif bagi peningkatan produktivitas hasil pertanian.

SELENGKAPNYA