IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

30 May 2022, 03:45 WIB

Secuil Obrolan dengan Buya Syafii Maarif

Menurut Buya, untuk melenyapkan gerakan terorisme tak cukup dengan hard power alias operasi militer, tak kalah pentingnya soft power.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Suatu pagi menjelang siang pada 2009, telepon di ruang kerja saya di Harian Republika berdering. Resepsionis bertanya, saya punya janji dengan Buya Syafii Maarif?  Saya katakan, tidak ada. Mengapa? Ia sampaikan Buya Syafii sudah di resepsionis, ingin bertemu saya.

Saya keluar menjemput Buya. "Tadi malam saya nonton film ‘Ayat-ayat Cinta’, kok tadi sesampai di kantor saya teringat kamu. Saya pun langsung ke Republika," ujar Buya begitu bertemu saya.

Ketika di Jakarta, Buya biasanya ngantor di dua tempat. Kalau tidak di Maarif Institute, Tebet ya di Kantor Pusat Muhammadiyah, Menteng. Waktu itu saya jadi pemimpin redaksi sekaligus direktur pemberitaan media group Republika.

Di ruang kerja saya, kami berdua ngobrol hampir dua jam, diakhiri makan siang. Kata Buya, bagus redaksi Republika dipimpin alumnus Al Azhar (Mesir). "Sepanjang pengetahuan saya, Islamnya Al Azhar dan alumninya itu moderat dan toleran." ujar Buya memberi alasan.

 
Saya keluar menjemput Buya. "Tadi malam saya nonton film ‘Ayat-ayat Cinta’, kok tadi sesampai di kantor saya teringat kamu. Saya pun langsung ke Republika," ujar Buya begitu bertemu saya.
 
 

Waktu itu, berbagai belahan dunia dilanda serangan teroris, termasuk Indonesia. Di AS, 19 teroris Alqaidah membajak empat pesawat jet penumpang pada 11 September 2001.

Pembajak yang hampir semua warga Saudi, menabrakkan dua pesawat ke Menara Kembar World Trade Center, New York. Sekitar tiga ribu jiwa tewas. Pembajak lain menabrakkan pesawat ketiga ke Pentagon di Arlington, Virginia.

Pesawat keempat jatuh di lapangan dekat Shanksville, Pennsylvania dan gagal mencapai target aslinya di Washington DC ketika penumpang berusaha mengambil alih kendali pesawat. Serangan itu dibalas AS dengan menginvasi Afghanistan pada 7 Oktober 2001.

Tujuan utamanya, memburu pemimpin Alqaidah, Usamah bin Ladin dan menghukum Taliban, waktu itu berkuasa di Afghanistan, yang dituduh menyediakan tempat aman bagi Usamah. Dengan dukungan internasional, AS meruntuhkan rezim Taliban.

Namun, Usamah melarikan diri dan baru berhasil dibunuh pasukan AS di Kota Abbottabad, Pakistan, pada 2011. Invasi AS ke Afghanistan dan Irak dua tahun kemudian tak membuat gerakan terorisme musnah. Bahkan, munculnya ISIS, menurut beberapa sumber, secara tak langsung disebabkan invasi AS itu.

 
Menurut Buya, untuk melenyapkan gerakan terorisme tak cukup dengan hard power alias operasi militer, tak kalah pentingnya soft power.
 
 

Indonesia juga menjadi sasaran serangan terorisme. Tercatat hingga 2008 ketika Buya Syafii Maarif mengunjungi saya, negeri ini diguncang empat kali serangan yaitu bom Bali I (2002), bom JW Marriot di Jakarta (2003), bom Bali II (2005), dan Bom Ritz Carlton, Jakarta (2009).

Menurut Buya, untuk melenyapkan gerakan terorisme tak cukup dengan hard power alias operasi militer, tak kalah pentingnya soft power. Di sinilah, kata Buya, alumni Al Azhar bisa berperan.

Interaksi dengan Buya sudah lama dan semakin intens sejak ia Ketua Umum PP Muhammadiyah pada 1998, menggantikan Prof Dr Amien Rais yang mendundurkan diri lantaran mendirikan PAN.

Pada Muktamar ke-44 tahun 2000, Buya terpilih kembali menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2000-2005. Selama menjadi komandan Muhammadiyah, redaksi Republika sering mewawancarai Buya atau menjadikannya narasumber.

Bahkan ia menulis kolom untuk ‘Tekad’, tabloid politik Republika. Hubungan terus terjalin walaupun Buya tak lagi Ketua Umum PP Muhammadiyah, bahkan pada tingkat pribadi. Republika sering bekerja sama dengan Maarif Institute, lembaga yang ia bentuk.

 
Selama menjadi komandan Muhammadiyah, redaksi Republika sering mewawancarai Buya atau menjadikannya narasumber.
 
 

Sebagai pengelola media bernapaskan Islam, sekitar 2003 kami meminta beberapa tokoh dari ormas mainstream menjadi penulis tetap di Republika. Dari NU, Abah Hasyim (KH Hasyim Muzadi) menulis kolom di halaman pertama edisi Ahad.

Dari Muhammadiyah, Buya Syafii  menulis kolom ‘Resonansi’ setiap pekan. Tulisan perdana Buya, 13 Januari 2004, berjudul ‘Bangkit Secara Otentik’. Sejak itu hingga Buya sakit dan wafat pada Jumat (27/5) lalu, ia setia menulis untuk kolom ‘Resonansi’.

Tulisan terakhirnya, 1 Maret 2022, judulnya ‘Serangan Umum 1 Maret 1949’. Tema tulisan Buya beragam, dari sejarah, politik, sosial, agama, dan ekonomi terutama yang menyangkut wong cilik. Tulisannya sangat kritis.

Simaklah cuplikan dari kolom perdana Buya, "… bangsa ini, bangsa yang sering dijuluki sebagai yang berwatak religius, tetapi kelakuan sebagian anaknya ternyata busuk dan menyebalkan.’’

"Sebuah bangsa yang mau belajar secara kritikal pada potret buram masa lalu, bukan bangsa yang masih menggantungkan nasibnya kepada asap kemenyan para dukun dan paranormal yang biasa menebar seribu janji."

 
Di tulisan terakhir, Buya berbicara silang pendapat siapa yang menyusun grand design SU 1 Maret.
 
 

Di tulisan terakhir, Buya berbicara silang pendapat siapa yang menyusun grand design SU 1 Maret.

Kata Buya, "… mari kita rendah hati dengan tidak membesar-besarkan peran tokoh yang kita sukai dan mengecilkan peran orang yang kurang kita sukai. Prinsip ini pernah diteorikan Ibn Khaldun beberapa abad silam."

Hampir dua jam kami ngobrol. Setelah makan siang dan shalat Zuhur, Buya pamit. Saya antar dia sampai ke lobi. Alangkah kagetnya saya saat tahu Buya naik busway dan tanpa pendamping. Saat saya tawarkan untuk mengantar, ia berkeras menolak. "Biar saya ikut merasakan transportasi yang disediakan untuk rakyat," tutur Buya.

Sesederhana itu hidup dan Buya teladan buat bangsa ini. Tentu Buya tak sekadar dimakamkan di pemakaman umum ‘Husnul Khotimah’, tapi saya yakin beliau juga husnul khotimah. Amin. 


Kemenag: Calhaj Tes PCR Sebelum ke Asrama Haji

Selama di asrama haji, kondisi kesehatan jamaah akan langsung diamati dan dikontrol petugas dari dinas kesehatan setempat.

SELENGKAPNYA

Buya yang Jenaka

Buya adalah figur yang tidak suka basa-basi.

SELENGKAPNYA

PKS Siap Kolaborasi

PKS mengaku tak ingin di luar pemerintahan usai Pemilu 2024.

SELENGKAPNYA
×