Bank BRI | Youtube

Ekonomi

25 May 2022, 10:48 WIB

Kinerja BRI di Atas Rata-Rata Bank BUMN 

BRI berada di posisi yang tepat sehingga menunjukkan kinerja yang baik pada kuartal I 2022.

JAKARTA —  PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menunjukkan kinerja di atas rata-rata bank pelat merah lainnya pada kuartal I 2022. Bagusnya performa BRI akan terus berlanjut mengingat fondasi bisnis dan market yang besar serta tranformasi digital yang on the track.

Ekonom dan Financial Market Specialist LBP Enterprises Internasional Lucky Bayu Purnomo mengatakan, sejumlah bank termasuk BRI telah menunjukkan performa perbaikan kinerja yang signifikan lebih awal. "Dalam jangka pendek, BRI sudah menunjukkan performa yang baik. Memang, marketshare BRI di retail banking dan konsumer yang masih memiliki posisi tersendiri dibanding bank lain, dia punya captive market,” kata Lucky di Jakarta, Selasa (24/5).

BRI berada di posisi yang tepat sehingga menunjukkan kinerja yang baik pada kuartal I 2022. BRI mencatat laba Rp 12,2 triliun pada tiga bulan pertama 2022, tumbuh 78,13 persen secara tahunan. Sementara untuk aset, pada akhir Maret 2022 tercatat aset BRI Group tumbuh sebesar 8,99 persen (yoy) menjadi Rp 1.650,28 triliun. 

Kondisi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mulai pulih saat ini mendorong penyaluran kredit BRI tumbuh 7,43 persen (yoy) menjadi sebesar Rp 1.075,93 triliun. Lucky mengatakan, UMKM adalah captive market yang paling mampu bertahan dan bangkit sangat cepat di masa pandemi.

 

Menurut Lucky, dibandingkan korporasi yang sulit bergerak, UMKM lebih tahan banting dan bisa bergerak cepat. "Jadi BRI ini saya menyebutnya sustainable bank karena berada di segmen konsumer, marketshare UMKM-nya lebih baik," kata dia.

Lucky mengatakan, sebagai bank dengan kapitalisasi sangat besar, BRI perlu terus mendorong digitalisasi untuk mempertahankan kinerja cemerlangnya. BRI harus gencarkan program digital banking yang homogen dengan fokus usaha, yakni di segmen UMKM.

Transformasi digital yang lebih masif akan berdampak positif juga pada kinerja emiten di pasar modal. Kata Lucky, market cap bank-bank digital yang kini lebih tinggi dengan pamor yang melesat di pasar modal terjadi karena peran digital.

Bank digital dapat bergerak lebih luwes dengan kapitalisasinya sebagai bank kecil. Maka, BRI perlu terus mendorong akselerasi digital agar pergerakannya bisa diatur untuk melaju dengan kecepatan tinggi.

Kinerja keuangan perbankan masih memiliki prospek yang baik dan menarik untuk jangka panjang. Lucky menyampaikan, gejolak ekonomi yang terjadi saat ini masih menempatkan perbankan di posisi netral untuk jangka pendek dan menengah. 

Meski demikian, sudah ada bank yang punya prospek positif dengan kinerjanya yang signifikan di kuartal I 2022. "Masih ada tekanan ekonomi yang memberikan dampak ke sentimen kinerja sektor perbankan, saat ini posisinya jadi masih netral," kata dia.

Pemulihan ekonomi yang diproyeksi terus berlanjut akan membawa prospek positif untuk kinerja jangka panjang perbankan. Namun, saat ini, untuk jangka pendek, perbankan belum dapat ikut serta dalam sentimen positif salah satunya karena rupiah yang tertekan.

Kinerja bank juga akan tergantung pada status pandemi atau endemi. Sinyal kuat sudah dirasakan pasar dari meningkatnya mobilitas serta pelonggaran kebijakan pembatasan dari pemerintah. 

"Industri sudah berfungsi, sudah ada banyak pertunjukan, hiburan, perbankan yang tadinya mengalami tekanan karena restrukturisasi kredit mendapatkan angin segar untuk jangka panjang," katanya. 

Pemulihan aktivitas tersebut menjadi energi baru perbaikan pertumbuhan industri. Menurut Lucky, sejumlah bank telah menunjukkan performa perbaikan kinerja yang signifikan lebih awal. Salah satunya adalah BRI.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, pencapaian laba BRI tak lepas dari pulihnya perekonomian nasional serta menggeliatnya aktivitas pelaku UMKM yang merupakan core business BRI. Kondisi UMKM yang mulai pulih saat ini mendorong penyaluran kredit BRI tumbuh 7,43 persen (yoy) menjadi sebesar Rp 1.075,93 triliun. "Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan penyaluran kredit perbankan nasional di kuartal I 2022 sebesar 6,65 persen," kata Sunarso. 

Secara umum, portofolio kredit UMKM BRI tercatat tumbuh sebesar 9,24 persen (yoy) dari Rp 826,85 triliun pada akhir Maret 2021 menjadi Rp 903,29 triliun pada akhir Maret 2022. Hal ini menjadikan proporsi kredit UMKM dibandingkan total kredit BRI terus merangkak naik menjadi sebesar 83,95 persen. 

Apabila diperinci, penyaluran kredit kepada seluruh segmen UMKM tercatat tumbuh positif dengan penopang utama yakni segmen mikro yang tumbuh 13,55 persen, segmen konsumer tumbuh 4,56 persen, dan segmen kecil dan menengah tumbuh 3,96 persen. Sunarso menambahkan, keberhasilan BRI dalam menyalurkan kredit di atas rata-rata industri perbankan nasional diiringi dengan manajemen risiko yang baik. 

Hal tersebut tecermin dari rasio non performing loan (NPL) BRI secara konsolidasian yang tercatat sebesar 3,09 persen pada akhir Maret 2022. Angka ini tercatat menurun apabila dibandingkan dengan NPL pada periode yang sama tahun lalu, yakni sebesar 3,30 persen. 

Selain itu, kualitas kredit yang membaik tersebut juga disebabkan oleh restrukturisasi kredit terdampak covid yang saat ini terus menurun secara gradual. Hingga akhir kuartal I 2022 tercatat restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 sebesar Rp 144,27 triliun atau telah turun sebesar Rp 103,75 triliun apabila dibandingkan dengan total akumulasi restrukturisasi yang mencapai Rp 248,02 triliun.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BANK BRI (bankbri_id)

';

Menpan RB: KPK Minta Pegawainya Dapat Tunjangan Khusus

MAKI mengkritik KPK yang meminta tunjangan khusus bagi pegawai mereka.

SELENGKAPNYA

Kasus Suspek Hepatitis Akut Bertambah

Sosialisasi pencegahan kasus hepatitis akut terus digencarkan di berbagai daerah.

SELENGKAPNYA

Si Anak Perang yang Kembali Pimpin WHO

Tedros adalah kepala WHO pertama yang berasal dari Afrika.

SELENGKAPNYA
×