Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional RI, Rizaludin Kurniawan. | DOK IST

Hiwar

22 May 2022, 03:19 WIB

Peluang dan Tantangan ZIS Masa Kini

Zakat infak sedekah (ZIS) merupakan amal ibadah yang memiliki nilai sosial.

Zakat infak sedekah (ZIS) merupakan amal ibadah yang memiliki nilai sosial. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) terus meningkatkan kualitas kelembagaan demi mewujudkan potensi ZIS dan wakaf di Indonesia.

Pimpinan Baznas Rizaludin Kurniawan mengatakan, ada berbagai peluang dan tantangan dunia perzakatan kini, khususnya dalam konteks melandainya pandemi Covid-19. “ZIS berperan cukup strategis dalam mendukung program pemulihan ekonomi nasional,” ujar lelaki kelahiran Garut, Jawa Barat, itu.

Direktur LazisMU Bidang Fundraising dan Kerjasama itu menjelaskan, kesempatan untuk mengoptimalkan ZIS dan wakaf terbuka lebar. Sebab, keandalan teknologi digital dapat memudahkan berbagai urusan, baik antara amil dan muzakki maupun dengan mustahik. Di sinilah, antara lain, letak pentingnya basis data.

Lantas, bagaimana dengan tantangan perzakatan nasional? Bagaimana Baznas menjawab dan mengatasi segala hal yang perlu ditanggulangi itu? Untuk menjawabnya, berikut ini wawancara lengkap wartawan Republika, Muhyiddin, dengan dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut beberapa waktu lalu.

Bagaimana Anda menyikapi pertumbuhan penghimpunan ZIS dari Ramadhan 1443 H lalu?

Fenomena ini cukup menggembirakan. Memang, setiap bulan Ramadhan terjadi puncak pengumpulan zakat. Namun, tren kenaikan pengumpulan zakat secara year on year merupakan dampak dari meningkatnya kesadaran orang untuk berzakat, infak dan sedekah melalui lembaga-lembaga amil resmi.

Hal itu juga menunjukkan adanya dorongan dari pemulihan ekonomi pascapandemi. Ini tampak dari membaiknya indikator-indikator makroekonomi secara nasional

Menurut Anda, bagaimana pemanfaatan ZIS untuk mendukung pemulihan ekonomi rakyat seiring melandainya pandemi?

ZIS berperan cukup strategis dalam mendukung program pemulihan ekonomi nasional. Sebab, ini merupakan safety net atau jaring pengaman sosial, khususnya bagi mereka yang masuk dalam kategori rentan miskin. Pada saat maupun pascapandemi, penyaluran ZIS terus dioptimalkan ke dalam beberapa program unggulan, baik yang mencakup ranah sosial maupun ekonomi.

Di Baznas, dalam program sosial, bantuan kebutuhan darurat—seperti sembako, obat dan fasilitas kesehatan—menjadi prioritas. Begitu pula dengan program bantuan beasiswa bagi yatim dan sebagainya. Dalam program ekonomi, ada cash for work yang di dalamnya kami melibatkan masyarakat yang pekerjaannya terdampak pandemi.

Mereka diberi upah dalam keterlibatan dengan program-program kami. Ada juga program jaga usaha. Kami memberikan dukungan materiel dan nonmateriel bagi usaha mikro dan kecil yang terdampak pandemi.

Baru-baru ini, kami bersama dengan Wakil Presiden RI meluncurkan program 5.000 santripreneur di seluruh pesantren di Indonesia. Ini sebagai bagian upaya untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Apa saja tantangan untuk mewujudkan 'filosofi' zakat, yakni mengangkat mereka yang tadinya mustahik menjadi muzakki?

Pertama-tama, tantangan optimalisasi pengumpulan zakat. Jangkauan OPZ (organisasi pengelola zakat) formal masih terbatas. Muzakki masih punya preferensi sendiri dalam menunaikan zakatnya. Misalnya, langsung kepada pihak mustahik atau melalui tokoh agama.

Kemudian, tantangan meningkatnya jumlah mustahik. Berdasarkan data dari BPS (Badan Pusat Statistik), pada Agustus 2020 tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 7,07 persen. Ada kenaikan sebesar 1,84 persen dibanding bulan Agustus 2019 yang sebesar 5,23 persen.

Lebih detail lagi, pekerja yang terdampak Covid-19 pada Agustus 2020 sebanyak 29,12 juta jiwa. Sebanyak 2,56 juta orang di antaranya menjadi pengangguran.

Maka seiring dengan peningkatan angka kemiskinan, jumlah mustahik-baru diprediksi akan ikut meningkat. Sementara, meningkatnya jumlah mustahik berbanding terbalik dengan angka muzakki yang diprediksi akan menurun.

Apa saja strategi Baznas dalam meningkatkan penghimpunan ZIS dan wakaf untuk tahun ini?

Rata-rata pertumbuhan pengumpulan ZIS per tahun secara nasional adalah 25-30 persen. Target pengumpulan zakat untuk tahun ini sebesar 50 persen. Ini tentunya lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Peningkatan dipandang optimistis dan sekaligus realistis. Mengingat, setiap tahunnya pengumpulan zakat selalu mengalami peningkatan. Namun, dengan strategi yang tepat, diyakini target tersebut akan tercapai.

Di antara strateginya adalah meningkatkan kekuatan komunikasi promosi, baik luasan jangkauan, frekuensi, dan kualitas konten dengan menyasar segmen yang tepat. Kemudian, melakukan aktivasi kanal atau saluran-saluran kemudahan berzakat, khususnya channel digital melalui multiplatform digital fundraising.

Selanjutnya, menghadirkan inovasi layanan pascadonasi yang akan membangun pengalaman terbaik untuk muzakki dalam berzakat. Dari sana, membangun loyalitas dan mendorong muzakki untuk mereferensikan kepada koleganya agar berzakat melalui Baznas.

Bagaimana Baznas memanfaatkan teknologi digital untuk kemudahan berzakat?

Baznas berkomitmen dalam mengembangkan media pembayaran zakat dan layanan muzakki yang terbaru sesuai perkembangan zaman. Ini untuk memudahkan muzakki serta menjangkau Generasi Z (generasi yang lahir antara tahun 1997-2012) untuk menunaikan zakatnya. Maka kami memanfaatkan teknologi digital.

Adapun saluran-saluran digital yang digunakan Baznas dalam pembayaran digital adalah non-commercial platform, seperti Kitabisa.com dan lain-lain. Kemudian, ada juga commercial platform, seperti Shopee, Bukalapak, Blibli, Lazada, dan lainnya. Tidak hanya itu, kita juga menggunakan innovative platform, seperti Dana, ShopeePay, Gopay, OVO, dan Link Aja Syariah.

Seperti apa tantangan digitalisasi di dunia perzakatan?

Digitalisasi itu penting dalam pengelolaan zakat. Manfaatnya beragam, seperti untuk inovasi kampanye zakat dan lain-lain. Namun, SDM (sumber daya manusia) untuk digitalisasi zakat masih rendah.

Dalam penelitian disebutkan bahwa salah satu alasan sistem informasi Baznas belum berjalan baik adalah lantaran sumber daya manusianya belum andal dalam mengoperasikannya. Permasalahan ini tidak hanya dialami Baznas, tetapi juga LAZ-LAZ (lembaga amil zakat) lain. Dalam survei FOZ (Forum Zakat) pada 2020 ditemukan, terdapat 39 LAZ yang masih belum memiliki divisi khusus teknologi informasi. Sebesar 36 persen dari total LAZ yang diteliti juga masih belum memiliki divisi khusus digital marketing.

Bagaimana Baznas membangun basis data?

Baznas membangun basis data dengan menghimpun dan mengintegrasikan data registrasi muzakki, data transaksi, dan data interaksi komunikasi. Seluruh data sources yang ada kemudian terintegrasi melalui sistem informasi yang disebut SimBA dan juga Nomor Identifikasi Mustahik (NIM).

Dengan melalui basis data yang integrated seperti ini, Baznas dapat mengetahui profiling muzakki secara menyeluruh. Implementasinya pada pelayanan pascadonasi, muzakki engagement dan aktivasi campaign.

Terkait basis data mustahik, selain NIM kami juga memakai Basis Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (BDTKS). Ini utamanya digunakan dalam kerja sama kami dengan Kementerian Sosial (Kemensos). Namun, BDTKS juga masih mengalami beberapa tantangan. Misalnya, data ganda dari satu mustahik dan data yang tidak update. Terbarukan itu penting karena, misalnya, ada kematian atau kelahiran dan perubahan kesejahteraan dari mustahik.

Bagaimana mendorong realisasi potensi zakat nasional yang besarnya kira-kira Rp 327 triliun?

Pertama-tama, untuk memaksimalkan potensi zakat perlu meningkatkan literasi zakat kepada masyarakat. Maka tingkatkan sosialisasi mengenai berbagai macam zakat. Peningkatan literasi juga harus diiringi dengan peningkatan literasi berzakat melalui lembaga zakat, khususnya Baznas. Masyarakat harus diberikan sosialisasi mengenai penting serta manfaatnya berzakat melalui Baznas.

Dalam perzakatan nasional, perlu juga adanya penguatan SDM, yakni amil. Masih banyak amil yang rangkap jabatan. Mereka menjadi tidak optimal dalam menjalankan fungsinya. Masalah sertifikasi juga. Jumlah amil yang sudah tersertifikasi kini masih rendah. Dari total 4.547 amil se-Indonesia, baru 16 persen yang tersertifikasi.

Bagaimana Baznas mendorong girah berzakat, khususnya di tengah generasi millenial dan Gen-Z?

Generasi milenial dan Gen-Z sangat tertarik dengan output (hasil) yang berdampak signifikan kepada masyarakat. Karena itu, sosialisasi zakat menjadi perlu ditingkatkan lebih masif lagi.

Sosialisasi dengan menekankan pada program-program pendistribusian dan pendayagunaan zakat yang telah dilakukan oleh Baznas. Itu bisa dilakukan antara lain melalui berbagai macam platform online.

photo
ILUSTRASI Seorang jamaah melakukan zakat fitrah melalui Baznas di Jakarta pada Ramadhan 1443 H lalu. Menurut Rizaludin Kurniawan, tren penghimpunan zakat oleh Baznas terus positif sejak 2017 - (DOK REP PUTRA M AKBAR)

Tren Positif Perzakatan Nasional

Pengumpulan zakat yang dilakukan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI tumbuh dari tahun ke tahun. Berdasarkan data yang dihimpun //Republika//, penghimpunan-zakat yang dijalankan lembaga tersebut terus mengalami kenaikan, yakni sejak tahun 2017 (Rp 154 miliar), 2018 (Rp 187 miliar), 2019 (Rp 281,2 miliar), 2020 (Rp 385 miliar), hingga 2021 (Rp 516 miliar).

Salah satu momen yang mendorong pertumbuhan itu adalah datangnya bulan suci. Sebagai contoh, pada Ramadhan 1443 H/2022 M lalu institusi tersebut menargetkan pengumpulan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) sebesar Rp 300 miliar Pimpinan Baznas RI Rizaludin Kurniawan mengatakan, angka itu lebih tinggi daripada Ramadhan tahun sebelumnya, yaitu Rp 200 miliar.

Peningkatan tersebut, lanjutnya, masih realistis karena adanya tren peningkatan pengumpulan zakat tiap tahun di Baznas. “Alhamdulillah, Ramadhan tahun 2022 ini telah mengalami peningkatan pengumpulan dana ZIS hingga 70,83 persen. Tentunya hal ini dikarenakan tingkat kesalehan masyarakat kian meningkat. Jiwa gotong royong juga yang telah tertanam di sanubari masyarakat Indonesia,” ujar Rizaludin Kurniawan kepada Republika, baru-baru ini.

Ia menuturkan, Baznas selalu optimistis pada tumbuhnya ZIS nasional. Terlebih lagi, potensi zakat Muslimin Tanah Air sangat besar, yakni mencapai Rp 327 triliun. Untuk mewujudkannya secara optimal dan menyeluruh, lembaga itu terus membuat terobosan dan inovasi. Termasuk di antaranya, memanfaatkan kecanggihan teknologi digital.

Rizaludin meyakini, ZIS dan wakaf (ziswaf) merupakan sumber dana yang efektif guna penyelesaian masalah kemiskinan. Dalam konteks Indonesia, ada pula sumber tanggung jawab perusahaan atau corporate social responsibility (CSR). Menurut dia, negara perlu berperan untuk konsolidasi kedua sumber dana sosial tersebut.

 
Dana Ziswaf dan CSR perusahaan ada yang mengonsolidasikan agar lebih efektif dan efisien dalam pengelolaannya, tidak tersebar atau tercecer kecil-kecil. Negara perlu hadir untuk itu.
 
 

“Harapan saya ke depan, dana Ziswaf dan CSR perusahaan ada yang mengonsolidasikan agar lebih efektif dan efisien dalam pengelolaannya, tidak tersebar atau tercecer kecil-kecil. Negara perlu hadir untuk itu,” kata Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni UIN Syarif Hidayatullah itu.

Rizal telah lama berkecimpung dalam dunia perzakatan di Tanah Air. Di luar Baznas, dirinya merupakan direktur fundraising dan kerja sama LazisMU, lembaga yang berafiliasi ke Persyarikatan Muhammadiyah.

Profesionalismenya tidak diragukan lagi. Ia pernah menerima penghargaan “TOP Leader on CSR Commitment” 2022. Dirinya dinilai berhasil dalam turut mendukung berjalannya program- program CSR yang efektif dan berkualitas. Menurut Rizal, penghargaan itu sesungguhnya menandakan, reputasi Baznas telah diakui publik dalam hal pengelolaan dana CSR.

Pria kelahiran Garut, 26 Juni 1976, ini menghabiskan masa muda dengan banyak belajar dan mengembangkan diri melalui organisasi. Keaktifannya bermula dari Persyarikatan. Ia mengaku, dari sanalah mulai tertarik pada dunia perzakatan.

“Saya terinspirasi oleh gerakan Muhammadiyah sendiri dalam pengembangan zakat KH Ahmad Dahlan,” ucapnya.


DMO Minyak Sawit Diberlakukan Lagi 

Kebijakan pencabutan larangan ekspor akan diikuti pemberlakuan DMO dan DPO.

SELENGKAPNYA

Keajaiban Syukur

Tanpa hidup bersyukur, sejatinya kita akan gagal dan jauh dari kesuksesan hidup.

SELENGKAPNYA
×