Sejumlah petugas pemadam kebakaran dari Pertamina berusaha menangani kebakaran yang terjadi di area RU V Pertamina, Karanganyar, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (4/3/2022). PT Kilang Pertamina Internasional menurunkan empat unit truk pemadam dan siste | ANTARA FOTO/Humas Pertamina/Handout/Novi Abdi

Ekonomi

19 May 2022, 04:47 WIB

Erick Dorong Standardisasi Kilang Pertamina

Insiden Kilang Pertamina Balikpapan menyebabkan terganggunya operasional unit Plant 5.

JAKARTA — Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mendorong adanya standardisasi baku kepada PT Pertamina (Persero) terkait kilang. Hal ini menyusul terjadinya insiden kebakaran di kilang milik Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur, beberapa maktu lalu.

"Saya sudah menelepon direksi Pertamina, tadi juga saya rapat lagi untuk memastikan adanya standardisasi yang baku mengingat hal ini merupakan hal vital," kata Erick di Jakarta, Rabu (18/5).

Erick sudah coba mengingatkan, bahkan mengganti direksi Pertamina. Namun, tentunya mengganti bukan menjadi solusi terus-menerus. "Terus terang saya juga berempati kepada pihak-pihak yang menjadi korban. Ini yang menjadi alasan mengapa kita harus bisa lebih baik lagi," ujar Erick.

Pertamina menyatakan, peristiwa kebakaran di Plant 5 yang merupakan salah satu unit di area Kilang Balikpapan tidak mengganggu suplai bahan bakar minyak ke masyarakat. Pertamina menjamin stok bahan bakar minyak (BBM) di Kilang Balikpapan masih mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan suplai ke Terminal BBM di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Kilang Pertamina Internasional akan mempergunakan komponen Pertamina Patra Niaga yang diambil dari dari Terminal BBM Tanjung Uban. High octane mogas component (HOMC) merupakan komponen yang diperlukan untuk memproduksi BBM beroktan tinggi, seperti Pertamax.

Produksi dan suplai BBM ke masyarakat tetap dapat berjalan normal tanpa ada kendala. Bahkan, Pertamina juga telah mempersiapkan skenario alih suplai, berkoordinasi dengan Grup Pertamina sebagai antisipasi dan untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan BBM masyarakat.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menyebut sebanyak 13 dari 14 unit plant di Kilang Balikpapan beroperasi normal dan tidak terganggu sehingga akan memperkecil potensi impor BBM. "Dengan demikian, potensi impor sangat kecil. Apalagi untuk recovery Plant 5 (yang terganggu), Pertamina sudah menyatakan akan selesai dalam waktu tujuh hari," kata Mamit.

Insiden Kilang Balikpapan, lanjut Mamit, menyebabkan terganggunya operasional unit Plant 5, bukan berisi BBM, melainkan salah satu bahan baku pembuat Pertamax. Menurut dia, selama tujuh hari masa perbaikan Plant 5 tersebut, Pertamina masih memiliki cadangan BBM setidaknya untuk 20 hari ke depan.

"Jadi, menurut saya, cadangan tersebut masih bisa dioptimalkan untuk menjamin ketersediaan bahan bakar. Dan, itu dilakukan tanpa melalui penambahan impor. Apalagi, volume penjualan Pertamax bukan terbesar, hanya sekitar 13 persen,” kata Mamit.

Selain stok cadangan, Mamit mengatakan, Pertamina juga memiliki kilang lain, seperti Balongan dan Cilacap, yang masih bisa dioptimalkan untuk produksi dalam negeri.

Dengan demikian, tidak beroperasinya satu unit di Balikpapan, memang tidak akan serta-merta membuat Pertamina melakukan impor. Terkait rencana pemulihan dalam waktu tujuh hari, Mamit meyakini Pertamina mampu melakukan hal itu. Sebab, sebagai perusahaan migas, BUMN itu tentu sudah memperhitungkan dengan cermat, termasuk terkait penyediaan peralatan, serta vendor melakukan perbaikan tersebut.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by PT Pertamina (Persero) (pertamina)

Area Manager Communication, Relation, and CSR Kilang Balikpapan Ely Chandra mengatakan, saat ini stok BBM dari Kilang Balikpapan masih mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan suplai ke terminal BBM di Balikpapan. Selanjutnya, PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) bersinergi dengan PT Pertamina Patra Niaga (PT PPN) memastikan produksi dan suplai BBM ke masyarakat tetap dapat berjalan normal tanpa ada kendala.

Bahkan, Pertamina juga telah mempersiapkan skenario alih suplai, berkoordinasi dengan Pertamina Group sebagai antisipasi dan untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan BBM masyarakat. "Kami akan mengoptimalkan stok yang terdapat dalam tangki. Namun, kami juga tengah mempersiapkan rencana tambahan bahan baku produk untuk menggantikan kebutuhan komponen HOMC dari Plant 5 yang diperlukan untuk memproduksi BBM," ujar Ely.

Kilang Pertamina Internasional akan mempergunakan komponen Pertamina Patra Niaga yang diambil dari dari Terminal BBM Tanjung Uban. HOMC merupakan komponen yang diperlukan untuk memproduksi BBM beroktan tinggi, seperti Pertamax.

photo
Suasana pengerjaan proyek pengembangan Kilang Balikpapan milik Pertamina di Kalimantan Timur, Sabtu (8/1). Melalui proyek Refinery Development Master Plan, Pertamina mendorong peningkatan kapasitas dan kualitas Kilang Balikpapan. Proyek pengembangan kilang ini terus berjalan sesuai schedule. Hingga akhir 2021, progres pembangunan fasilitas tersebut sudah mencapai 46,92 persen. - (Republika/Edwin Putranto)

Ely menyampaikan, produksi dan suplai BBM ke masyarakat tetap dapat berjalan normal tanpa ada kendala. Bahkan, Pertamina juga telah mempersiapkan skenario alih suplai, berkoordinasi dengan Grup Pertamina sebagai antisipasi dan untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan BBM masyarakat.

"Perbaikan Plant 5 dijadwalkan selesai dalam tujuh hari ke depan. Kami memastikan produksi BBM tetap dapat berjalan dengan aman," kata Ely.

Pertamina juga akan menerapkan teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon atau carbon capture and utilization (CCU) di unit pengolahan Kilang Balikpapan. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, penerapan teknologi itu merupakan salah satu inisiatif untuk mengurangi emisi karbon dari fasilitas kilang yang dimiliki oleh perseroan sekaligus menjadi solusi peningkatan produksi minyak dan gas bumi di era transisi energi.

"Saat ini transisi energi merupakan isu prioritas. Pertamina telah memainkan peran penting dalam memimpin transisi industri energi Indonesia," kata Nicke.  

Pertamina menjalin kerja sama dengan Air Liquide untuk mengembangkan teknologi CCU di Kilang Balikpapan. Kesepakatan kerja sama itu diwujudkan dalam penandatanganan Joint Study Agreement (JSA) oleh Nicke dengan Group CEO Air Liquide François Jackow di Paris, Prancis, Selasa (17/5).

Dalam kerangka kerja sama itu, Pertamina dan Air Liquide akan melakukan studi bersama penerapan teknologi penangkapan syngas dan flue gas dari produksi hidrogen di area Kilang Balikpapan.  ';

Netralitas ASEAN Diuji

Tekanan AS soal Rusia-Ukraina membayangi pertemuan puncak di Kamboja (ASEAN Related Summit), Indonesia (G20), dan Thailand (APEC). Bagaimana respons ketiga negara itu?

SELENGKAPNYA

Bijak Sikapi Pelonggaran Penggunaan Masker

Mobilitas masyarakat yang tinggi tidak diikuti dengan kenaikan kasus Covid-19.

SELENGKAPNYA
×