Warga Muslim membawa poster dalam aksi damai melawan meningkatnya kejahatan terhadap komunitas Muslim di New Delhi, India, Sabtu (16/4/2022). | REUTERS/Anushree Fadnavis

Opini

17 May 2022, 03:45 WIB

Kerudung: Manusia Gurun?

Pertanyaannya, pernyataan Budi Santoso itu benar secara ilmiah atau tidak?

SUKRON KAMIL, Guru Besar UIN Jakarta

Kaum perempuan santri atau kaum abangan yang tampak santri dengan menggunakan kerudung bukan saja tampil menjadi elite sosial politik, melainkan juga terdidik secara modern, openmind, bukan berwatak manusia gurun.

Di antara isu/topik yang belakangan hangat diperbincangkan, baik di medsos maupun di media massa formal adalah isi postingan Rektor ITK (Institut Teknologi Kalimantan), Prof Budi Santoso Purwokartiko, di medsosnya. Ia mengidentikkan kerudung dengan penutup kepala ala manusia gurun yang tak berperadaban.

Katanya, dari 12 mahasiswa calon penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang diwawancarainya, “Tidak satu pun yang menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar openmind, mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju”. Akibatnya, ia dicopot sementara dari reviewer LPDP, dituntut untuk dicopot dari jabatannya sebagai rektor, bahkan disuarakan untuk dibawa ke pengadilan, karena dinilai telah menistakan agama.

Pertanyaannya adalah apakah pernyataan Budi Santoso itu benar secara ilmiah atau tidak? Tulisan ini ingin mengupasnya sekilas dari perspektif ilmu sosial budaya.

 

 
Pertanyaannya adalah apakah pernyataan Budi Santoso itu benar secara ilmiah atau tidak? Tulisan ini ingin mengupasnya sekilas dari perspektif ilmu sosial budaya.
 
 

Jauh dari benar

 

Jika kita analisis melalui ilmu sosial budaya, khususnya sejarah, bahkan politik  di Indonesia, pernyataan Budi Santoso di atas jauh betul dari benar. Bahkan, lebih mencerminkan pandangan kaum Islomofobia, kaum yang memiliki ketakutan terhadap Islam yang berlebihan tanpa alasan/argumen yang kuat.

Sebagai guru besar dan rektor, Budi Santoso boleh jadi sangat ahli di bidang teknik industri, tetapi miskin wawasan sosial politik dan budaya. Bukan hanya yang terkait dengan Indonesia, melainkan juga dunia. Lebih mencerminkan pandangan seorang yang tak punya tradisi interdisiplier, apalagi multidisipliner.  

Pandangan MC  Ricklefs, antara lain, memperlihatkan kesimpulan itu, yang bisa ditemukan juga dalam pandangan Robert Hefner. Menurut Ricklefs, gerakan pendidikan Islam dan dakwah, terutama pada era Orde Baru membuat pendekatan santri-abangan (Islam taat dan Islam nominal) dalam melihat Islam Indonesia periode akhir Orde Baru atau periode kontemporer pasca-Orde Baru tidak lagi relevan.

Bersikap agamis seperti menghadiri pengajian kini tidak lagi akan menghambat prospek karier di lembaga politik seperti di Golkar sekalipun. Kini, Islam telah tumbuh menjadi semacam tren di Indonesia, termasuk di dalamnya penggunaan kerudung yang disebut Budi Santoso penutup kepala ala manusia gurun.

Sejak 1990-an hingga saat ini, kaum santri tidak lagi menjadi minoritas dalam masyarakat Jawa seperti pada 1950-an. Yang menjadi minoritas kini kaum abangan. Namun, bukan berarti, kini kaum abangan menghilang, melainkan tak lagi memiliki signifikansi.

 

 
Sejak 1990-an hingga saat ini, kaum santri tidak lagi menjadi minoritas dalam masyarakat Jawa seperti pada 1950-an.
 
 

 

Tentu saja masih banyak faktor lain yang ikut berpengaruh juga pada realitas itu. Di antaranya, kebijakan depolitisasi Islam yang membuat kalangan santri fokus pada dakwah. Juga  sirkulasi media masa Islam, buku-buku Islam, dan keharusan mata pelajaran agama diajarkan di sekolah umum milik pemerintah. Juga komodifikasi Islam seperti atas kerudung.

Karena itu, sebagaimana yang tampak, antara lain dari fenomena seperti elite di Jawa Timur dan tentu saja di Jakarta,  kini kalangan yang dari latar belakang kaum abangan menjadi santri. Sementara elite masyarakat dari latar belakang kaum santri yang sejak masa Kolonial Belanda mayoritasnya tak terdidik secara modern, menjadi elite, meski dulu pada 1950-an hampir semua diduduki kaum abangan.

Maka itu, mereka kaum perempuan santri atau kaum abangan yang tampak santri dengan menggunakan kerudung bukan saja tampil menjadi elite sosial politik, melainkan juga terdidik secara modern, openmind, bukan berwatak manusia gurun.

Karena pendidikan dan kemampuan kerjanya, mereka banyak menduduki posisi yang dulu hanya diduduki kaum laki-laki. Tokoh seperti Marwah Daud Ibrahaim sebagai elite Golkar dari Sulawesi Selatan yang juga elite di DPR, juga Khofifah Indar Parawansa yang kini menjabat gubernur Jatim,  dan Tri Risamaharani yang kini menteri sosial membuktkan hal itu. Jauh dari apa yang diungkap Budi Santoso.

Itu belum lagi ditambah mereka yang menjadi elite ekonomi seperti Nurhayati Subakat, pengusaha kosmetik merek Wardah yang juga mengenakan kerudung dalam kesehariannya. Juga banyak kaum perempuan Muslim yang mengenakan kerudung yang menjadi guru besar.

 
Sementara elite masyarakat dari latar belakang kaum santri yang sejak masa Kolonial Belanda mayoritasnya tak terdidik secara modern, menjadi elite.
 
 

Kenyataan  di dunia Islam atau dunia secara umum juga memperlihatkan hal yang sama, bukan seperti masyarakat gurun yang perannya hanya di tiga r: di kasur, di sumur, dan di dapur saja. Ada Benazir Butho, mantan perdana menteri (PM) Pakistan, Begum Khaleda Zia, mantan PM Bangladesh, juga Halimah Yacob yang kini menjabat sebagai presiden Singapura. Ada lagi Zara Muhammed, hijaber yang menjabat Sekjen Dewan Muslim Inggris. Semua mengenakan kerudung dalam kesehariannya.

Dalam sejarah Islam klasik juga ada Rufadah al-Aslami, ahli kesehatan Islam pada abad ke-7 dan Sutaita al-Mahamah, ahli matematika abad ke-10 (periode klasik Islam). Juga ada Mariam al-Jilia yang ahli astronomi Islam abad ke-10 juga. Ketiganya tentu saja mengenakan kerudung/jilbab.       

Selain itu, kenyataan sosial Islam yang direkam dalam lagu-lagu populer Islam juga memperlihatkan sesuatu yang sebaliknya dengan pernyataan Budi Santoso di atas.

Paling tidak, ada tiga lagu yang bisa dikemukakan, yaitu: (1) “Aisyah Adinda Kita”, lagu populer religi ciptaan Sam dan Taufiq Ismail yang didendangkan oleh Grup Bimbo yang terbit pada 1984; (2) lagu “Jilbab Putih”, lagu kasidahan yang dipopulerkan oleh Grup Nasida Ria pada 1993; dan (3) lagu “Kerudung putih”, lagu dangdut yang dinyanyikan Rhoma Irama pada era 1980-an juga.

Semua lagu-lagu populer Islam itu bukan hanya merekam kerudung/jilbab sebagai busana Muslimah yang menjadi fenomena budaya Islam di Indonesia era 1980-an dan setelahnya, melainkan juga sisi peradaban para penggunanya, termasuk prestasi akademik, dan fungsi sosial keagamaan kerudung.

Seolah lagu-lagu di atas sedang menggemakan berbagai ayat Alquran bahwa yang sukses dan bahagia adalah mereka yang punya komitmen pada ketakwaaan/integritas, pada kebenaran, dan moralitas, termasuk di dalamnya menjujung tinggi ajaran agama terkait kerudung/jilbab.

Hal ini wajar karena kerudung/jilbab adalah pelaksanaan dari fikih, yang hampir semua ulama memandang aurat perempuan saat di luar adalah seluruh badannya, kecuali muka dan telapak tangan.  Yang mengharuskan pakai cadar atau membolehkan tak mengenakan kerudung hanya amat sedikit ulama yang hampir tiada.

Kerudung/jilbab, karenanya mencerminkan moderasi Islam yang kini menjadi agenda Islam di seluruh dunia. Tentu saja, Islam juga membolehkan tak pakai kerudung jika kedaruratan memaksa. Wallahu a’lam bisshawab.


×