Petugas Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang memeriksa kesehatan hewan sapi di salah satu lokasi peternakan di Periuk, Kota Tangerang, Banten, Jumat (13/5/2022). | ANTARA FOTO/Fauzan

Nusantara

17 May 2022, 03:45 WIB

Lalu Lintas Sapi Diperketat

Ternak dilarang keluar dari kapal saat transit di Tanjung Perak.

JAKARTA -- Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak membuat lalu lintas sapi di sejumlah daerah tersendat. Pemerintah daerah mengantisipasi wabah tersebut menjangkit lebih luas di wilayahnya dengan memperketat hingga menghentikan akses keluar masuk sapi.

Salah satu provinsi penghasil sapi potong, Nusa Tenggara Barat (NTB) menyetop lalu lintas perdagangan sapi baik yang keluar dan masuk daerah itu. "Semua produk tata niaga peternakan yang masuk melalui transportasi darat dari Pulau Jawa, Bali ke Lombok begitu juga dari Pulau Sumbawa ke Lombok kita setop dan tutup dulu sampai batas waktu yang belum ditentukan," kata Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, Rahmadin, Ahad (15/5).

Namun, NTB tetap membolehkan pengiriman sapi melalui tol laut. Sebab, NTB memiliki kuota 16.500 ekor sapi yang harus dikirim ke DKI Jakarta untuk memenuhi kebutuhan daging sapi pada Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriah. "Yang boleh dikirim itu dari Bima saja. Itu pun melalui tol laut, jumlahnya ada 16.500 ekor," ujarnya.

photo
Petugas Dinas Pertanian Kota Padang memeriksa kesehatan sapi di salah satu peternakan di Padang, Sumatera Barat, Jumat (13/5/2022). Pemeriksaan tersebut guna mencegah penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di daerah itu. - (ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi)

Rahmadin menyebutkan, hingga saat ini jumlah kasus PMK di NTB mencapai 300-an kasus, yaitu di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur. "Makanya selain kita tutup, seluruh kandang sapi kita isolasi. Begitu juga dengan pasar hewan kita tutup supaya penyebaran tidak semakin meluas," kata Rahmadin.

Pada Rabu Rabu (11/5), Kementerian Pertanian (Kementan) mengumumkan penguncian enam kabupaten di Aceh dan Jawa Timur yang terjangkit virus PMK pada sapi.

Langkah itu ditempuh guna menghentikan penyebaran PMK lebih luas karena tingkat penularan yang sangat cepat. Data Kementan per tanggal tersebut menyatakan, sebanyak PMK 3.205 sapi di Jatim terjangkit PMK, sementara di Aceh ada 2.226.

Kepala Dinas Pertanian DIY, Sugeng Purwanto mengatakan, DIY tidak akan menerima hewan ternak dari enam daerah tersebut. Penjagaan lalu lintas hewan ternak ini dilakukan bersama dengan instansi lainnya seperti kepolisian, termasuk petugas dari masing-masing kabupaten yang berada di wilayah perbatasan. "Kita akan menjaga lalu lintas ternak di posko bersama tim gabungan, Polda DIY," ujar Sugeng, kemarin.

DIY memilih tetap menerika sapi dengan sistem yang ketat. Sebab, 50 persen kebutuhan daging sapi di wilayah itu harus dipasok daerah lain. "Dari internal DIY masih belum bisa mencukupi kebutuhan daging atau hewan untuk DIY sendiri," kata Sugeng.

Pemerintah Banten juga mewaspadai PMK dengan pengawasan dan cek poin hewan ternak di perbatasan. Kepala Dispertan Banten, Agus Tauchid menjelaskan, tiga titik yang harus diawasi adalah Pelabuhan Merak, perbatasan Banten dan DKI Jakarta, serta antara Banten dan Jawa Barat.

“Harus dipastikan hewan ternak yang dibawa sudah melalui proses cek kesehatan yang akurat dengan menunjukkan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH),” ujar Agus.

Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum mengatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah upaya mencegah PMK. Satuan Tugas PMK dan para bupati/wali kota terus memantau pergerakan hewan ternak di Jawa Barat. Apalagi hewan kurban mulai beredar menjelang Hari Raya Idul Adha 1443 H tahun ini.

"Agar diperiksa apakah sudah lulus kesehatan dari tempatnya berangkat atau tidak. Kalau tidak, kami dengan berat hati akan memulangkannya kembali ke daerah asalnya," ujar Uu.

photo
Petugas Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Ciamis memeriksa kesehatan hewan sapi di UPTD Perbibitan, Desa Cigembor, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (13/5/2022). Pemeriksaan tersebut untuk mengantisipasi penyebaran wabah virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak. - (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

Ditolak sandar

Kemarin, Karantina Pertanian Surabaya menolak 736 ekor sapi asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang hendak transit di Surabaya melalui Pelabuhan Tanjung Perak. Penolakan itu terkait Jatim sebagai daerah wabah PMK.

Dokter hewan Tanjung Perak, Tri Endah menjelaskan, tujuan akhir ratusan ekor sapi itu Bekasi yang dimuat menggunakan KM Calypso. Kapal ternak tersebut kemudian diminta mengalihkan trayeknya menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

"Kapalnya hanya boleh berlabuh saja, tidak boleh bersandar dan sapi-sapi tidak boleh diturunkan," ujar Endah, Senin (16/5).

Endah menjelaskan, selama tiga hari di dalam kapal, sapi diperiksa oleh pejabat karantina. Menurut Tri, mereka terus siaga melakukan pengawasan memastikan kapal tidak sandar dan tidak ada sapi yang diturunkan.

"Kami sudah terbitkan berita acara penolakan terhadap pemasukan sapi-sapi tersebut. Berkat kerja sama dengan instansi terkait, KM. Calypso dapat melanjutkan berlayar menuju Pelabuhan Tanjung Priok setelah mendapatkan port clearance (persetujuan berlayar) dari Syahbandar,” ujarnya.

Sumber : antara


Tantangan dan Peluang Pendidikan Islam

Kita harus membangun lebih banyak lembaga pendidikan Islam.

SELENGKAPNYA

Jenderal Kompeni Mandi di Kali

Para budak juga berfungsi untuk menjaga gengsi. Makin banyak memiliki budak, makin tinggi status sosial seseorang.

SELENGKAPNYA

Abu Ubaidah Sang Penolak Jabatan Khalifah

Rasulullah memberi Abu Ubaidah bin Jarrah gelar “orang kuat yang terpercaya”.

SELENGKAPNYA
×