Petugas memberi minum sapi-sapi yang ditampung di kadang milik Karantina Hewan Kupang sebelum dikirim ke Banjarmasin dan DKI Jakarta di Kupang, NTT,Selasa (10/5/2022). Sapi-sapi NTT yang dikirim menggunakan kapal kargo dan melewati Jawa Timur terancam tid | ANTARA FOTO/Kornelis Kaha

Nusantara

11 May 2022, 03:45 WIB

Cegah Penyakit Mulut Kaki, Pasar Hewan di Lamongan Ditutup

Daerah lain di Jawa Timur mewaspadai penularan penyakit mulut kaki pada hewan ternak.

SURABAYA – Penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak ditemukan empat kabupaten di Jawa Timur (Jatim). Empat kabupaten tersebut adalah Lamongan, Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto.

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi meminta masyarakat tidak panik menghadapi penyakit yang menyerang hewan berkuku belah seperti sapi dan kambing. "Kami telah mencegah masuknya ternak baru dan keluarnya ternak yang sakit, saya harap masyarakat tetap tenang dan tidak panic selling, Insya Allah semua akan baik-baik saja," kata Yuhronur, Selasa (10/5).

Di Lamongan kasus ini berawal dari deteksi sapi di Dusun Pilanganom Desa Balungwangi Kecamatan Tikung. Gejala tersebut muncul pada sapi yang baru dibeli yang nampak hipersalivasi, nafsu makan turun, terengah-engah, dan suhu tubuh agak demam.

Pemkab Lamongan, kata dia, telah melakukan pelacakan dan pengujian melalui tim Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan hingga 6 Mei 2022. Hasilnya empat dari 27 kecamatan di Lamongan terserang suspek PMK, yakni Kecamatan Tikung, Kembangbahu, Sarirejo, dan Turi. "Total populasi yang terjangkit di Kabupaten Lamongan yakni 215 ekor dari 23 peternak," katanya.

Selain itu juga telah dilakukan edukasi pada peternak untuk menahan ternak yang sakit untuk tidak dijual, melakukan pengobatan simtomatik dan suportif pada kasus, serta melakukan kerjasama lintas sektoral. "Saat ini, sementara pasar hewan dilakukan penutupan, ini dimaksudkan untuk menghindari penularan yang lebih besar lagi di Lamongan," kata Yuhronur.

photo
Petugas memeriksa sapi-sapi yang ditampung di kadang milik Karantina Hewan Kupang sebelum dikirim ke Banjarmasin dan DKI Jakarta di Kupang, NTT,Selasa (10/5/2022). - (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha)

Temuan PMK di Lamongan membuat daerah lain di Jawa Timur mengambil langkah antisipasi. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya Antiek Sugiharti mengatakan, melakukan pengetatan pengawasan dan monitoring di lapangan untuk mencegah masuknya virus PMK.

"Langkah-langkah yang kita lakukan yakni melakukan pengawasan di Rumah Potong Hewan dengan para jagal. Ini untuk memastikan bahwa (hewan ternak) yang masuk ke RPH itu memiliki surat keterangan sehat dari daerah asal," kata Antiek, Selasa (10/5).

Selain di RPH, kata Antiek, pengawasan juga dilakukan DKPP Surabaya pada daerah keberangkatan. Termasuk pula melakukan monitoring kepada setiap hewan ternak yang ada di Surabaya. Setidaknya, ada sekitar 600 peternak sapi daging dan sapi perah di Kota Pahlawan.

Sedangkan peternak kambing dan domba ada sekitar 996. "Yang lebih penting adalah arus masuk hewan ternak yang dari luar Surabaya, khususnya yang dari daerah terjangkit itu sebisa mungkin kita hindari," ujarnya.

Dinas sedang menyiapkan Surat Edaran (SE) kepada masyarakat agar turut serta memiliki kepedulian yang sama dalam mencegah masuknya virus PMK. SE tersebut bakal disebar ke RPH, para jagal, hingga pasar-pasar tradisional.

 
Selain di RPH, kata Antiek, pengawasan juga dilakukan DKPP Surabaya pada daerah keberangkatan. 
 
 

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dispangtan Kota Malang Anton Pramujiono juga sudah melakukan surveilans ke peternak di empat kecamatan demi mengantisipasi penyebaran PMK. Mengenai kasus PMK di Kota Malang, Anton mengaku, sejauh ini belum menerima laporan dari masyarakat.

Di Bandung, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Gin Gin Ginanjar mengatakan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan ke beberapa kelompok peternak di Kota Bandung. “Secara umum Kota Bandung masih relatif terkendali karena memang sejak 1986 kasus PMK di kota bandung sudah tidak ada. Jadi kasus PMK di Jawa Timur itu masih bersifat lokal lah, hanya memang sekarang yang perlu didorong adalah bagaimana upaya pemerintah pusat untuk melakukan lockdown agar penyakit ini tidak menyebar,” ujarnya. 

Tak menular ke manusia

Kementerian Pertanian bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur berupaya mencegah penyebaran penyakit mulut dan kuku pada hewan (PMK). Meski memiliki tingkat penyebaran yang cepat pada hewan, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan, penyakit ini tidak menular ke manusia.

Syahrul meminta agar jangan ada kekhawatiran dan kepanikan yang berlebihan. “Kita harus maksimal melakukan sosialisasi kepada masyarakat, bahwa penyakit ini tidak menular pada manusia, dan pernyataan ini diperkuat oleh Menteri Kesehatan rapat terbatas bersama Presiden dan ini menjadi hal yang sangat penting” kata Syahrul, dalam pernyataan resminya, Selasa (10/5).

Kementan melalui Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) di Surabaya tengah melakukan penelitian lanjutan untuk memastikan tingkat dan jenis serotype PMK yang teridentifikasi di sejumlah daerah di Jatim.

“PMK ini masih dalam penelitian lab veteriner kita di Surabaya secara maksimal, sehingga kita bisa identifikasi ini pada level berapa, jenisnya seperti apa,” kata dia.

Lewat hasil laboratorium, pemerintah akan lebih mudah menentukan vaksin yang tepat. Ia berharap penentuan vaksin dapat memanfaatkan sumber daya di dalam negeri agar penanggulangan PMK dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turut meminta agar media membantu upaya pemerintah untuk mengedukasi masyarakat terkait PMK. Hal ini agar tidak ada kekhawatiran berlebih yang akan menimbulkan kepanikan.

“Pak Mentan dan Pak Menkes bilang tidak menular ke manusia. Saya seringkali bilang, pendekatan pentaheliks, maka media dan pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dan private sector tolong bantu disampaikan bahwa PMK tidak menular ke manusia” tegasnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by DKPP Kota Surabaya (dkppsurabaya)

Khofifah menegaskan, bersama dengan Kementan akan melakukan sejumlah langkah komprehensif untuk memastikan penyebaran PMK tidak meluas di Jatim. Pemerintah menerapkan isolasi berbasis kandang dan menggandeng banyak pihak lainnya agar bantuan obat-obatan yang diberikan Kementan dapat tersalurkan maksimal.

“Isolasinya berbasis kandang, karantina berbasis kandang. Jadi yang sudah ada symptomatic gejalanya jangan dibawa keluar kandang. Kita koordinasikan dengan Pak Mentan supaya ketersediaan obat-obatan, analgesik, antibiotik, dan vitamin tercukupi. Saya minta ke ikatan alumni FKH Unair turunkan tim lebih banyak supaya penyuntikan lebih masif,” katanya.

Virus yang menyerang hewan ini berbeda dengan SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang ditularkan hewan kalelawar ke manusia, maupun flu babi dan flu burung. “Khusus untuk mulut dan kuku, virus ini memang adanya hanya di hewan yang berkuku dua. Sangat jarang yang meloncat ke manusia. Jadi tidak perlu khawatir dari sisi kesehatan manusianya,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Tanda klinis PMK

- Demam tinggi (39-41 derajat celcius), keluar lendir berlebihan dari mulut dan berbusa, terdapat luka-luka seperti sariawan pada rongga mulut dan lidah.

- Gejala lainnya, hewan ternak tidak mau makan, kaki pincang, luka pada kaki dan diakhiri lepasnya kuku, sulit berdiri, gemetar, napas cepat, produksi susu turun drastis, dan menjadi kurus.

Sumber: DKPP Kota Surabaya


Salam Abu Zar yang Terus Diikuti

Di saat orang lain beristirahat, Abu Zar kesulitan memejamkan mata. Dia terus memikirkan siapakah nabi pembawa wahyu? Seperti apa rupanya? Benarkah wahyu yang dibawanya?

SELENGKAPNYA

Pesan Perpisahan Ramadhan

Kepergian Ramadhan meninggalkan pesan perpisahan berharga.

SELENGKAPNYA

Risiko Ekonomi Pasca-Lebaran

Pascamudik, ada beberapa risiko ekonomi yang bersumber dari luar maupun dalam negeri.

SELENGKAPNYA
×