Sejumlah pedagang ketupat asal Pandeglang saat berjualan di kawasan Pasar Ciputat, Tangsel, Jumat (29/4/2022) | Eva Rianti/Republika

Bodetabek

Berkah Jualan Ketupat di Pasar Ciputat

Para pedagang ketupat di Pasar Ciputat datang jauh-jauh dari Pandeglang.

OLEH EVA RIANTI

Momen Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriyah dan Lebaran Syawal selalu diidentikkan dengan makan ketupat. Pedagang musiman pun menjelang Lebaran hingga sepekan setelahnya biasanya menjamur di Pasar Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Provinsi Banten.

Udin (30 tahun) termasuk pedagang yang berjualan ketupat dengan duduk di pinggir Jalan Aria Putra, Kecamatan Ciputat, belum lama ini. Bersama empat rekannya, Udin menggelar tikar plastik sebagai alas sekaligus sebagai atap untuk berteduh.

Sesekali tangan Udin dan teman-temannya secara cepat membuat anyaman dari setangkai daun janur menjadi kotak berbentuk ketupat. Setiap 10 ketupat yang sudah berbentuk sempurna dijadikan satu ikatan untuk dijual kepada pembeli dengan banderol Rp 10 ribu hingga Rp 12 ribu. Hanya, tidak sedikit konsumen yang berani menawar anyaman ketupat dengan harga Rp 6.000 sampai Rp 8.000. Total, ia memiliki 3.000 buah ketupat yang dijual kepada calon pembeli.

Udin mengaku sengaja berjualan menjelang Lebaran. Dia datang bersama rekan-rekannya dari Kabupaten Pandeglang. Alasannya satu, karena Pasar Ciputat ramai. Sehingga, dagangannya lebih cepat laku jika dipasarkan di pinggir jalan.

"Setiap menjelang Lebaran Idul Fitri memang saya selalu jualan ketupat dari Pandeglang ke sini bersama rombongan. Itu bisa dibilang termasuk budaya sebagian orang Pandeglang juga kalau Lebaran Idul Fitri sama Lebaran Haji," kata Udin ketika ditemui di lokasi berdagang pada Jumat (29/4) siang WIB.

Udin mengaku, ia bersama empat temannya sudah berjualan ketupat di kawasan Pasar Ciputat sejak 2018. Udin sengaja berjualan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Nanti ia berdagang lagi di lokasi yang sama menjelang Hari Raya Idul Adha.

photo
Sejumlah pedagang ketupat asal Pandeglang saat berjualan di kawasan Pasar Ciputat, Tangsel, Jumat (29/4/2022) - (Eva Rianti/Republika)

 

Udin menuturkan, para pedagang ketupat asal Pandeglang biasanya berombongan berjualan memenuhi area pasar di Jabodetabek. Mereka sekaligus membawa bahan anyaman dari daun kelapa muda yang diambil dari kampung asal di Pandeglang. "Tujuannya enggak cuma ke sini (Pasar Ciputat), juga ada yang ke (Pasar) Serpong, (Pasar) Kebayoran, dan lain-lain," ujar Udin.

Dia menjelaskan, Lebaran menjadi momen yang dimanfaatkan oleh sejumlah warga Pandeglang untuk mendapatkan pemasukan tambahan. Dengan berjualan ketupat menjelang Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha, harga jualnya bisa dinaikkan sedikit. Hal itu jelas menjadi tambahan pemasukan bagi mereka yang rela meninggalkan kampung halaman untuk berdagang di beberapa pasar ramai di Jabodetabek.

Udin yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan memilih balik ke Pandeglang pada malam takbiran. Dia ingin memaksimalkan pendapatan di Pasar Ciputat untuk digunakan memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

"Setiap ada kesempatan ya dilakukan, termasuk Hari Raya ada peluang jualan ketupat ya sudah jualan saja daripada enggak ada kerjaan," kata laki-laki yang memiliki dua anak ini.

 
Setiap ada kesempatan ya dilakukan, termasuk Hari Raya ada peluang jualan ketupat ya sudah jualan saja daripada enggak ada kerjaan
 
 

Tidak jauh dari Udin berjualan yang masih sederetan jalan, Agi Sumanto (20) juga menjajakan ketupat. Dia menggelar dagangannya di Jalan Dewi Sartika, tepat di depan pintu masuk Pasar Ciputat. Dia juga memiliki alasan serupa dengan berjualan ketupat, yaitu mendapatkan penghasilan tambahan.

Agi termasuk rombongan bersama Udin yang berjualan di sekitar Pasar Ciputat. Keduanya juga membawa bahan janur dari kampung halaman. Aktivitas itu sudah dilakoninya selama empat tahun terakhir. Selama berdagang di Ciputat, mereka tidak menyewa atau mengontrak rumah karena bisa tidur di emperan atau pinggir jalan.

"Bawa dari Pandeglang sama rombongan teman-teman satu mobil ada 12 orang. Perjalanan enam jam naik mobil soalnya lewat pinggir tol. Jadi, enggak masuk tol. Terus sampai sini (Tangsel) tidur di mana saja yang penting enggak kehujanan. Itu sudah rutin setiap tahun," kata Agi.

Dia menjelaskan, pedagang ketupat musiman muncul karena banyak permintaan dari masyarakat. Karena Ciputat masuk kawasan bisnis, banyak warga yang bekerja dan tak sempat membuat anyaman ketupat sendiri, selain bahannya yang sulit didapatkan. Hal itu berbeda dengan di kampung halamannya, yang para tetangganya bisa membuat ketupat sendiri.

"Alasan jualan di sini karena di sini banyak peminatnya. Kalau di kampung kan banyak pohon (janur) sendiri, bisa buat sendiri. Kalau di sini ada yang enggak punya daunnya atau ada yang enggak bisa biki-nya (ketupat)," ujar Agi.

Udin dan Agi sepakat bakal konsisten berjualan ketupat dari Pandeglang ke Tangsel pada momen jelang Idul Fitri dan Idul Adha, selama permintaan masih tinggi. Kegiatan itu diyakini menjadi peluang untuk menambah penghasilan serta mengalirkannya kepada keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Apa Saja Persiapan Berhaji 2022?

Jamaah haji harus mempersiapkan kesehatannya di tengah pandemi yang masih mengancam.

SELENGKAPNYA

Profil Lulusan Ramadhan

Lulusan Ramadhan taat beribadah dan gemar memakmurkan masjid dengan mendirikan shalat berjamaah.

SELENGKAPNYA

Percepatan Pemulihan Ekonomi

Kita berharap, pemulihan ekonomi nasional bergerak cepat dengan mobilitas warga sepanjang libur Lebaran.

SELENGKAPNYA