Pegawai Bank Syariah Indonesia (BSI) Kantor Cabang Mayestik menjelaskan fitur gadai dan cicil emas di BSI Mobile Banking kepada nasabah pemilik toko emas pada kegiatan Grebek Pasar BSI di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan, Rabu (15/12/2012). PT Bank Syariah | ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/hp.

Ekonomi

05 May 2022, 11:17 WIB

Saham Dwiwarna dan Peluang BSI Menembus Pasar Dunia

BSI mendapat dukungan untuk menjadi bagian dari BUMN.

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dinilai perlu mendapatkan dukungan negara secara penuh dengan menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Anggota Komisi VI DPR, Achmad Baidowi, mengatakan, dengan adanya penerbitan saham dwiwarna, BSI akan memiliki peluang yang lebih besar untuk menembus daftar 10 bank syariah terbesar di dunia.

"Dengan menjadi BUMN, pemerintah memiliki kendali atas BSI sehingga negara dapat menyokong bank syariah terbesar di Indonesia itu untuk melebarkan sayap bisnis dan merealisasikan visi tersebut," kata Baidowi kepada wartawan, akhir pekan lalu.

Pada 2025, BSI menargetkan memiliki jumlah nasabah mencapai 40 juta dengan aset di atas Rp 500 triliun. Berdasarkan data kinerja kuartal I 2022, aset perseroan saat ini mencapai Rp 271,29 triliun atau tumbuh 15,73 persen (yoy).

Sementara itu, laba BSI tumbuh 33,18 persen menjadi Rp 987,68 miliar (yoy). Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), kapitalisasi pasar BSI sudah mencapai Rp 65,35 triliun. BSI saat ini telah menempati urutan ke-13 bank syariah terbesar di dunia.

"Ketika BSI menjadi BUMN, maka pemerintah bisa langsung kendalikan untuk mencapai kebutuhan menjadi top 10 bank syariah global," katanya.

Saat ini, BSI telah melebarkan sayap bisnisnya ke luar negeri dengan membuka kantor cabang di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Selain itu, pemerintah juga membuka peluang kerja sama BSI dengan Islamic Development Bank (IsDB).

Kehadiran BSI di UEA menandai rekam jejak pertama BSI di pasar global sekaligus di salah satu pusat keuangan syariah dunia. Harapannya, hal itu mampu mendongkrak nilai perusahaan hingga meningkatkan kapitalisasi pasar dan posisi di dunia internasional.

Menurut Baidowi, capaian-capaian strategis itu perlu diperkuat dengan dukungan langsung dari pemerintah. Mengutip laporan keuangan perseroan per Desember 2021, saham BSI saat ini dimiliki PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sekitar 50,83 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 24,85 persen, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI sekitar 17,25 persen.

Selanjutnya, terdapat saham publik sebesar 7,08 persen dan pemegang saham lain dengan kepemilikan di bawah 5 persen. Achmad mengatakan, dengan kondisi saat ini, ruang gerak bank untuk memacu kinerja akan terbatas karena dapat berbenturan dengan keinginan dari masing-masing pemilik.

Meski begitu, setahun setelah merger, BSI mampu membukukan catatan apik. Posisi aset BSI berada tipis di bawah CIMB Niaga yang memiliki aset Rp 271,61 triliun pada periode yang sama. Hal itu menempatkan BSI sebagai bank ketujuh terbesar di Indonesia.

Peneliti ekonomi syariah dari Indef, Fauziah Rizki Yuniarti, mengatakan, apabila menjadi BUMN, BSI akan semakin lincah dan menjadi bank syariah yang kuat di pasar domestik maupun global. BSI akan memiliki akses kerja sama dengan berbagai pihak baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Fauziah menilai, rencana menjadi raksasa bank syariah juga dapat dilakukan dengan ekspansi anorganik. Menurut dia, membeli unit usaha syariah (UUS) juga bisa menjadi langkah yang baik karena dapat memperluas portofolio BSI. Selain penambahan saham dwiwarna, BSI juga disebut akan membeli portofolio UUS Bank BTN. BSI juga akan melakukan rights issue untuk memperkuat permodalan.


Tiga Pasien Meninggal tak Punya Riwayat Hepatitis

Didorong upaya masif pelacakan hepatitis akut bergejala berat di setiap daerah.

SELENGKAPNYA

WHO: Ada Dua Subvarian Baru Omikron

Menteri Luar Negeri AS dinyatakan positif Covid-19 dengan gejala ringan.

SELENGKAPNYA
×