Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

28 Apr 2022, 03:45 WIB

Meraih Kemenangan

Ramadhan harus menghasilkan satu kondisi hati yang jelas dan konkret, yakni bagaimana ada rasa cinta kepada Allah yang itu dapat dilihat dari kecintaannya kepada saudara seiman.

OLEH IMAM NAWAWI 

Target utama dari syariah puasa oleh Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW pada bulan suci Ramadhan adalah agar umat Islam menjadi pribadi yang bertakwa. Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengatakan, puasa dapat menjadi jalan cepat menuju ketakwaan karena nilai puasa sama dengan seperempat keimanan kepada Allah SWT.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Puasa adalah setengah dari kesabaran." (HR Tirmidzi). Sedangkan pada hadis yang lain ditegaskan bahwa kesabaran adalah setengah dari keimanan.

Secara logis dapat dimengerti bahwa siapa yang berpuasa berarti memiliki peluang besar menjadi insan bertakwa. Karena, orang berpuasa dididik, dilatih, dan ditempa menjadi pribadi yang sabar, taat, dan penuh kasih sayang kepada sesama.

Pertanyaannya kemudian, sejauh mana puasa Ramadhan ini mengantarkan diri benar-benar mampu menjadi pribadi yang bertakwa? Sebab, tidak sedikit orang rajin beribadah, berinfak, dan berbagi kebaikan pada bulan Ramadhan, kemudian lalai dari semua kebaikan itu di luar Ramadhan.

 
Di sinilah target lebih utama harus kita kejar, yakni bagaimana benar-benar menjadi pribadi yang meraih kemenangan. 
 
 

Di sinilah target lebih utama harus kita kejar, yakni bagaimana benar-benar menjadi pribadi yang meraih kemenangan. Pribadi yang baik pada bulan Ramadhan dan baik seterusnya di luar Ramadhan.

Jika merujuk pada ayat Alquran, pribadi yang meraih kemenangan itu ialah sosok yang kian kokoh imannya. Sebagaimana Allah berikan indikasi karakter-karakternya.

"Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan mereka bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela." (QS al-Maidah [5]: 54).

Artinya, Ramadhan harus menghasilkan satu kondisi hati yang jelas dan konkret, yakni bagaimana ada rasa cinta kepada Allah yang itu dapat dilihat dari kecintaannya kepada saudara seiman. Semakin tinggi rasa ingin berbagi dan peduli kepada sesama.

 
Ramadhan harus menghasilkan satu kondisi hati yang jelas dan konkret, yakni bagaimana ada rasa cinta kepada Allah yang itu dapat dilihat dari kecintaannya kepada saudara seiman. 
 
 

Dan, kala memperhatikan ucapan doa atau selamat dalam merayakan Idul Fitri, kita temukan ungkapan, "Kullu ‘aamin wa antum bi khair," yang artinya, semoga sepanjang tahun Anda senantiasa dalam kebaikan, menunjukkan bahwa tidak setiap orang yang berpuasa pasti meraih kemenangan (kembali pada fitrah). Karena itu, kita dianjurkan saling mendoakan.

Dalam konteks Hari Raya Idul Fitri, kemenangan itu ialah kembali fitrah, bersih dari dosa dan noda. Fitrah, Allah hadirkan dalam diri manusia untuk cenderung dan cinta pada sikap hanif (lurus), senang kepada tauhid, cenderung pada kebenaran dan kebaikan.

Oleh karena itu, menjelang detik-detik akhir Ramadhan perlu setiap jiwa bermuhasabah, bagaimana puasa ini benar-benar menjadi puasa yang berkualitas, yang mampu mengantarkan jiwa pada takwa dan kemenangan.


Dugaan Suap Bupati Bogor Terkait Laporan Keuangan

Seluruh pihak yang ditangkap menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK.

SELENGKAPNYA
×