Pemain PSG Lionel Messi berupaya mempertahankan bola yang dibawanya yang juga hendak direbut pemain Marseille Pape Gueye di Stadion Princes, Paris Ahad 17 April 2022. | AP Photo/Francois Mori

Olahraga

PSG dan Muenchen Sang 'Aktivis Liga Petani'

PSG dan Muenchen sudah resmi menjadi juara musim ini di liga masing-masing.

PARIS -- Musim ini, bahan lawakan sepak bola Eropa begitu melimpah. Sebelum Manchester United (MU) dan Harry Maguire, lakon menggelitik yang menjadi komoditas bagi penghuni jagat maya adalah kiprah Barcelona yang kehilangan para elite lapangan hijau.

Kemudian, ada istilah untuk kompetisi farmers league alias liga petani di belantara sepak bola Benua Biru. Tanggalkan dahulu sekuel komedi dari kapten MU Harry Maguire dalam beberapa bulan terakhir serta Barcelona yang perlahan mulai menunjukkan grafik meningkat di bawah kendali Xavi Hernandez.

Kini kita merujuk pada term sebelumnya, setidaknya dalam lima atau enam musim ke belakang. Sebutan liga petani atau bahasa kerennya adalah farmers league sudah barang tentu menjadi guyonan abadi yang dilontarkan oleh penggemar sepak bola saat ini.

Sejatinya kita mengenal, bahkan akrab, dengan lima ajang prestisius di Benua Eropa yang terdiri atas Liga Primer Inggris, Seri A Italia, La Liga Spanyol, Bundesliga Jerman, serta Ligue 1 Prancis.

Satire menjengkelkan dijadikan julukan yang sekiranya cocok untuk liga sepak bola suatu negara di mana terdapat ketimpangan yang cukup signifikan antara klub kaya raya yang notabenenya kerap mejeng di pucuk klasemen dengan klub berkantong tipis.

Berkat andil investor dan pemilik klub, alhasil tim-tim tersebut bisa dengan mudah menghegemoni persaingan gelar juara. Lantas, kans untuk klub kecil dari tahun ke tahun adalah tetap bertahan di kompetisi elite negaranya meski terpaksa menjadi lumbung gol para raksasa.

Bait pembuka dari roasting liga petani adalah kedigdayaan Paris Saint-Germain (PSG) di kompetisi Ligue 1 Prancis serta dominasi tiap musim Bayern Muenchen di kancah sepak bola elite Tembok Berlin. PSG dan Muenchen sudah resmi menjadi juara musim ini di liga masing-masing. Keduanya merepresentasikan semua ejekan para penggemar dunia maya.

Paradoks-paradoks tersebut tidak bisa dimungkiri mengapung ke permukaan atas dorongan para penggemar kulit bundar. Khususnya, yang patut digarisbawahi, adalah fan atau tifosi layar kaca, para warganet.

Tanpa mengurangi rasa hormat, predikat-predikat tersebut tentunya hadir dari penggemar Liga Primer Inggris, kompetisi yang sering diklaim sebagai turnamen paling bergengsi di planet ini. Ratu Elizabeth mungkin tersenyum lebar melihat gelaran Liga Primer Inggris adalah siaran sepak bola paling laris, pun terkenal di dunia. Sebabnya bukan hanya faktor banyaknya pemain bintang, melainkan kesetaraan dan keseimbangan keuangan klub yang membuat setiap tim dapat dengan sehat bersaing dengan tim-tim papan atas.

photo
Pemain PSG Kylian Mbappe mencetak gol dalam sebuah penalti melawan Nice di Stadion Parc des Princes di Paris, Prancis, 31 Januari 2022. - (EPA-EFE/YOAN VALAT)

Analogi sederhananya adalah para bintang bersedia berkostum tim Liga Inggris karena banyaknya uang yang beredar di sana. Menukil data Transfermarkt, Liga Inggris menjadi liga yang paling bernilai di antara lima liga top Eropa lainnya.

Tidak hanya itu, secara prestasi pun Inggris kerap menghasilkan juara yang berbeda-beda sejak tahun 2010. Hal tersebut menunjukkan betapa kompetitifnya liga ini jika dibandingkan dengan Liga Prancis, Bundesliga Jerman, La Liga Spanyol atau Seri A Italia.

Kekuatan kompetisi Liga Inggris tiap tahun silih berganti. Manchester City tak melulu nyaman di puncak klasemen dengan Liverpool, Chelsea, ataupun Tottenham Hotspur kerap meneror perlombaan perebutan gelar.

Sedangkan, dari gelaran Negeri Pasta, Italia, Juventus dianggap terlalu superior dibandingkan dengan dua tim asal Kota Mode Italia, AC Milan dan Inter Milan. Sedangkan, Napoli, SS Lazio, serta AS Roma diibaratkan sebagai hidangan pembuka.

Lantas, apa yang membuat deretan keempat liga tersebut dianggap tertinggal dari Inggris. Persoalan penting dari banyaknya pelatih pun pemain bintang hal paling mendasar adalah tentang hak siar.

Kompetisi Liga Inggris disebut telah melakukan pendekatan secara emosional kepada para penggemar di luar Eropa mengenai jam siar atau waktu pertandingan berlangsung. Negara-negara di Afrika, Asia, dan Amerika kini semakin nyaman menyaksikan hiburan olahraga kulit bundar. Hasil itu yang membuat nilai siar mereka meroket.

Mata lensa memang tengah menyoroti Liga Inggris. Kesuksesannya menjual barang dagang dengan segudang aksi yang mereka tampilkan membuat mereka layak disebut sebagai liga paling ditunggu oleh pencinta sepak bola.

Akan tetapi, berbicara tentang siapa yang paling hebat di atas lapangan, tim-tim dari liga petani tentu tak bisa dipandang sebelah mata. Momen tersebut pecah jauh sebelum istilah farmers league mencuat. Kemenangan FC Porto dalam final antah berantah melawan AS Monaco di Liga Champions 2004 menjadi bukti bahwa perangai pendukung sepak bola “garis lunak” alias online belum merasakan gelontoran dana segar Roman Abramovich, Sheikh Mansour, serta Nasser Al-Khelaifi.

Singkat kata, bahwa aksi pun roasting para netizen pencinta sepak bola mendapatkan respons berbalik dari para pemain di liga-liga petani. Kasus yang tak kalah menarik banyak atensi adalah ketika megabintang PSG, Kylian Mbappe, memberikan selamat bernada sarkasme seusai tim Ligue 1 Prancis Olympique Lyon berhasil menyingkirkan Manchester City dari perempat final Liga Champions 2020 lalu.

Teranyar adalah keberhasilan tim semenjana La Liga Spanyol, Villarreal, yang sukses menyingkirkan hegemoni Bayern Muenchen di belantara kompetisi Liga Champions. The Yellow Submarine melalui akun Twitter resminya mengejek Die Bavarian.

Armada Unai Emery mengunggah foto seorang pria yang mengendarai traktor dengan logo Liga Champions yang telah diedit menjadi “UEFA Farmer League” dengan caption “Selamat datang di UEFA Liga Petani”.

Namun, menyerap lebih dalam tentang arti liga petani tentu relevan jika disematkan ke empat liga di atas. Pasalnya, PSG dan Bayern Muenchen baru saja kembali mempertahankan kekuasaannya sebagai kampiun di masing-masing liga.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Bayern de Munique BR

Ummu Saad, Tonggak Hukum Waris dalam Islam

Kematian ayahnya menjadi sebab turunnya hukum waris.

SELENGKAPNYA

STAIDA Sebagai Sumber Keilmuan dan Kemajuan Umat

STAIDA berharap nantinya berkembang menjadi universitas Islam.

SELENGKAPNYA