Nani Zulminarni mengajarkan kepada mereka untuk menyampaikan aspirasi | Facebook

Uswah

01 May 2022, 04:18 WIB

Ketahanan Keluarga dengan Berdayakan Janda

Nani Zulminarni mengajarkan kepada mereka untuk menyampaikan aspirasi

OLEH IMAS DAMAYANTI

 

Perempuan berstatus janda kerap dihadapkan pada stigma buruk. Padahal, para janda memiliki kontribusi besar terhadap ketahanan keluarga. Hal tersebut dirasakan Nani Zulminarni yang sudah 20 tahun menghabiskan waktunya untuk memberdayakan janda.

Dia merekam potret mereka untuk melakukan perubahan positif yang berkelanjutan bagi para perempuan tanpa suami. “Awalnya ketika reformasi dan Komnas Perempuan berdiri, saya yang memang aktif di sebuah organisasi perempuan dan diminta untuk memotret kehidupan para janda di wilayah konflik, seperti Aceh dan Ambon. Waktu itu saya berpikir, wah kalau saya potret kehidupannya (saja), lalu nanti kelanjutannya bagaimana?” kata Nani saat dihubungi Republika, Selasa (18/4).

photo
Nani Zulminarni mengajarkan kepada mereka untuk menyampaikan aspirasi - (Facebook)

Tak mau sekadar melakukan riset, Nani yang memang pegiat kemanusiaan mengajukan usul untuk membuat program pemberdayaan. Pada 2000, Nani pun mendirikan Perkumpulan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka).

Nani menjelaskan, perempuan yang menjadi janda bukan hanya mereka yang bercerai ataupun ditinggal mati suami. Ada pula perempuan yang menjadi janda lantaran ditinggal pergi, ditinggal poligami, suami tiba-tiba menghilang, dan lain sebagainya.

 
Ada pula perempuan yang menjadi janda lantaran ditinggal pergi, ditinggal poligami, suami tiba-tiba menghilang, dan lain sebagainya.
 
 

Saat hendak mendirikan Pekka, rumah tangga Nani juga diuji. Dia juga menghadapi  perceraian. Pada masa itu, Nani mengakui bahwa hidup sebagai seorang janda merupakan hal yang tidak mudah.

Saat melakukan pemberdayaan di berbagai daerah, Nani menemukan sebuah realita yang melecut kembali semangatnya. Dia melihat bagaimana profil janda dengan latar belakang ekonomi, pendidikan, dan bahkan sosial yang minim masih semangat untuk bangun dari keterpurukan.

“Padahal saya lulusan luar negeri, aktif di organisasi, punya pekerjaan yang baik, tapi stigma negatif itu terus menghampiri. Maka saya membayangkan bagaimana dengan para janda yang hidup di daerah-daerah? Yang jika diukur dari aspek apapun rasanya minim, pastinya stigma dan perlakuan sosial banyak menjadi tantangan untuk mereka. Tapi apa yang terjadi? Masya Allah, saya sangat terharu sekali melihat mereka ternyata lebih tegar dan semangat dibanding saya.,” kata Nani.

Pada awal berdiri, pemberdayaan yang dilakukan Nani adalah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Setelah pengembangan kegiatan ekonomi dilakukan, dia kemudian melakukan pengembangan potensi para janda, masuk ke pendidikan anak-anak mereka.

 
Bagaimana profil janda dengan latar belakang ekonomi, pendidikan, dan bahkan sosial yang minim masih semangat untuk bangun dari keterpurukan.
 
 

Nani juga membantu solusi kepastian hukum para janda. Menurut dia, pada 2000-an, ada 60 persen janda yang pernikahan sebelumnya tak tercatat negara. Hal tersebut mempersulit anak-anak mereka mendapatkan akses dokumen diri seperti akta kelahiran.

Nani juga berupaya untuk menyembuhkan trauma dan mengatasi perasaan kesendirian para janda. Dia mengajarkan kepada mereka untuk menyampaikan aspirasi, hingga mengembangkan jiwa kepemimpinannya dalam mengambil keputusan.

Sepanjang 20 tahun lebih membersamai janda, dia melihat visibilitas Pekka sudah cukup masif jika diukur dari kemajuan strukturalnya. Saat ini, organisasi yang dipimpinnya sudah memiliki cabang di 20 provinsi.

photo
Nani Zulminarni mengajarkan kepada mereka untuk menyampaikan aspirasi - (Facebook)

Pekka juga memiliki bibit-bibit cabang di berbagai provinsi lainnya. Meski stigma negatif masih melekat, dia melihat betapa besar kemajuan janda dalam menghadapi stigma tersebut.

Kemudian, perubahan kehidupan para janda dari sisi ekonomi sudah lebih baik. Mereka juga sudah bisa pendidikan anak-anaknya, pun dinilai Nani sudah cukup berkembang dari 20 tahun lalu.

“Saya ini menjadi saksi mata, di mana dulu saat saya melakukan pemberdayaan, ada janda yang anaknya masih kecil. Dan ketika anaknya kini sudah diwisuda, saya menyaksikannya. Alhamdulillah,” kata dia.


Khubaib bin Adi, Menahan Siksa Demi Agama Allah

Setiap hari, Khubaib bin Adi harus menerima siksaan.

SELENGKAPNYA
×