Puasa membuat kepompong itu lahir menjadi makhluk baru, yakni kupu-kupu. Lailatul qadar menjadi grand prize bagi para pemburu Ramadhan. | Reuters

Tuntunan

01 May 2022, 04:38 WIB

Kupu-Kupu Ramadhan

Lailatul qadar menjadi grand prize bagi para pemburu Ramadhan.

 

 

OLEH A SYALABY ICHSAN

Tidak lama lagi, kita akan kembali berpisah dengan Ramadhan. Momentum kemenangan — bagi yang benar-benar menang — pada Idul Fitri 1443 Hijriyah sudah di depan mata.

Tidak terasa, sudah 30 hari kita khusyuk dalam bacaan Alquran, rukuk, sujud hingga beriktikaf pada sepuluh hari terakhir. Tinggallah kita bermohon kepada Allah dengan sifat-Nya yang Rahman dan Rahim menerima semua amal-amal kita. 

Ramadhan tahun ini merupakan momentum kebangkitan. Setelah dua tahun sebelumnya kita menjalani hambarnya puasa tanpa shalat berjamaah, buka bersama dan mudik Lebaran, Ramadhan tahun ini sungguh berbeda. Kita patut bersyukur karena meredanya pandemi bisa menormalisasi kehidupan kita sebelum adanya Covid-19. 

Manisnya pesantren Ramadhan pun bisa kita lalui dengan kekhusyukan. Selama 30 hari itu, Alquran dipelajari, dihafalkan, dan dikhatamkan. Masjid sesak dengan jamaah tarawih. Meski ekonomi belum pulih, masyarakat berlomba-lomba berbagi sedekah.

Momentum Ramadhan paling mengesankan ada pada sepuluh hari terakhir. Pada hari itu, Lailatul Qadar menjadi grand prize bagi para pemburunya. Sebuah ganjaran yang secara definitif dijelaskan dengan kalimat kualitatif yang berpadu dengan kuantitatif. Dalam Alquran, Lailatul Qadar dikatakan merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan.

 
Momentum Ramadhan paling mengesankan ada pada sepuluh hari terakhir. Pada hari itu, Lailatul Qadar menjadi grand prize bagi para pemburunya.
 
 

Mengutip Al Wahdi, Syekh Yusuf Qaradhawi dalam Tafsir Juz’Amma menjelaskan, al-qadr dalam bahasa bermakna ukuran, yaitu menjadikan sesuatu sama dengan lainnya tanpa ada tambahan dan tanpa ada kekurangan. Dinamakan demikian, karena malam itu adalah malam keagungan dan kemuliaan. Malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Disebut mulia karena di dalamnya turun kitab yang mulia (Alquran), melalui lisan malaikat yang memiliki kemuliaan kepada umat yang mulia. Pengagungan terhadap malam ini, baik ukurannya maupun nilainya, ada di sisi Allah. 

Diksi yang digunakan Allah untuk mendeskripsikan malam ini yakni malam yang lebih baik dari seribu bulan. ‘Sedikitnya’ amal ibadah akibat pendeknya usia umat Nabi Muhammad ketimbang umat-umat lain sebelumnya bisa terkejar karena Lailatul Qadar. Dalam tempo semalam, kita bisa meraih lebih banyak ketimbang umat-umat terdahulu. 

Rasulullah SAW sebagai manusia yang paling dekat dengan Allah dan paling mulia di antara makhluk bahkan menghabiskan 20 hari untuk beriktikaf pada tahun beliau SAW wafat. Tahun-tahun sebelumnya, Rasulullah mencukupkan iktikaf dengan sepuluh hari. Rasulullah bahkan mengencangkan ikat sarungnya dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.

Menjadi kupu-kupu

Menjalani Ramadhan, kita dianugerahi bak menjadi kepompong. Selama 30 hari itu, kita fokus untuk beribadah. Atas nama takwa, kita mengharamkan yang halal meski untuk sementara.

Syekh Jamaluddin al Qasimi dalam Saripati Ihya Ulumuddin menjelaskan, puasa merupakan nikmat yang besar dari Allah kepada para hamba. Dengan puasa, kita terhindar dari tipu daya setan dengan satu ilmu bernama kesabaran.

Layaknya apa yang disabdakan Rasulullah SAW, “Puasa itu setengah kesabaran.”  Dalam Alquran, Allah SWT telah berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa penghitungan.” (QS Az-Zumar:10). 

Setelah menjalani hari ke-30, tampaklah perubahan pada diri. Puasa membuat kepompong itu lahir menjadi makhluk baru, yakni kupu-kupu.

Lantas, apa sebenarnya ganjaran bagi orang berpuasa? Pahala orang bepuasa benar-benar melampaui batas penilaian dan penghitungan.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT menjelaskan, “Sesungguhnya ia meninggalkan syahwatnya, makanannya, minumnya karena Aku. Karena itu, puasa adalah milik-Ku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya.”

 
Sesungguhnya ia meninggalkan syahwatnya, makanannya, minumnya karena Aku. Karena itu, puasa adalah milik-Ku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya.
 
 

Pahala orang berpuasa akan dilimpahkan semua tanpa ditakar-takar. Pahalanya pun tak bisa diperkirakan dan tak terhitung nilainya. Begitulah apa yang dimaksud dengan puasa benar-benar untuk Allah dan memuliakan Allah meski ibadah lain juga untuk Allah.

Mengapa demikian? Puasa merupakan ibadah pengekangan diri yang terbilang rahasia. Hanya dirinya yang mengetahui dia puasa atau tidak karena ibadahnya itu tak disaksikan orang lain. Berbeda dengan ibadah lainnya yang bersifat zahir dan tampak oleh makhluk. 

Kedua, puasa menghindarkan diri dari jalan setan yang dipicu oleh syahwat. Sementara, syahwat menjadi kuat dengan makan dan minum. Dengan begitu, kita menaklukkan musuh Allah lewat jalan puasa. Bukan cuma itu, kita bahkan mendapatkan imbas dari amalan kita dengan garansi pertolongan langsung dari Allah SWT jika apa yang kita lakukan diniatkan untuk menolong agama-Nya.

Syekh Al Qasimi menulis, dalam pemberantasan gerakan musuh, terkandung sikap membela agama Allah dan pertolongan Allah tergantung pada pertolongan manusia kepada-Nya. “Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Allah menolong kalian dan mengokohkan kaki kalian (keuddukan kalian).“ (QS Muhammad:7).


Hak Suami Istri dalam Hubungan Intim yang Diatur Agama

Hak-hak dalam hubungan intim tidak tercerabut, baik itu hak suami maupun hak istri.

SELENGKAPNYA

Ummu Haram: Salehah di Darat, Syahidah di Laut

Ummu Haram meminta didoakan oleh Rasulullah agar bergabung dengan pasukan Muslim.

SELENGKAPNYA
×