Prof KH Nasaruddin Umar | Ilustrasi : Daan Yahya

Tausiyah

21 Apr 2022, 11:45 WIB

Mengatasi Stres

Stres bisa memperpendek umur dan mengganggu karier.

PROF KH NASARUDDIN UMAR, Imam Besar Masjid Istiqlal

Stres bisa memperpendek umur dan mengganggu karier. Ada kecenderungan stres di dalam masyarakat semakin meluas. Ini pertanda masyarakat kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak sederhana.

Nilai-nilai kearifan lokal bagaikan tidak sanggup lagi mengatasi rumitnya beban hidup manusia. Hal-hal seperti ini melebarkan fenomena stres di dalam masyarakat. Sumber-sumber stres juga eskalasinya semakin luas dan bagaikan tak terkendalikan lagi.

Sumber utama stres masih berkisar pada manusia yang melalui teknologi modern semakin memudahkan untuk bisa berkomunikasi dengan dunia internasional. Manusia lebih mudah melakukan interaksi dengan dunia global/internasional secara mudah dan murah, terutama dipicu oleh kecanggihan teknologi saat ini.

Masa depan yang datang lebih awal, melampaui kecepatan masyarakat menyiapkan diri, membuat anggota masyarakat mengalami stres. Sumber lain dari fenomena stres ini ialah lingkungan yang semakin rumit dan dipadati dengan pencemaran, bukan hanya polusi udara yang semakin kotor tetapi juga pencemaran sosial budaya yang mengalienasikan manusia dari jati dirinya. Apalagi di sejumlah kota besar di Indonesia setiap hari harus bergelut dengan kemacetan.

 
Sumber utama stres masih berkisar pada manusia yang melalui teknologi modern semakin memudahkan untuk bisa berkomunikasi dengan dunia internasional. 
 
 

Seolah-olah separuh umur harus dihabiskan di jalan-jalan. Lingkungan seperti itu tentu akan menyumbang meluasnya stres di dalam masyarakat. Bahayanya lagi karena stres bisa dialami semua lapisan umur dan golongan masyarakat.

Diri kita sendiri dengan perangkat collective memory yang terakumulasi di dalam benak kita bisa menjadi penyumbang stres. Referensi kehidupan yang penuh dengan cerita unik dan sebagian di antaranya menyedihkan, bahkan tergolong memilukan hati.

Keutuhan jati diri manusia semakin sulit dijadikan referensi karena sedemikian tingginya pergerakan dan mobilitas manusia yang sarat dengan multietnik dan agama, ditambah lagi ketegangan antarprimordial yang makin sering terjadi.

Semua pihak perlu berusaha mencari jalan keluar untuk mengatasi meluasnya fenomena stres ini. Sejauh ini, kiat-kiat yang dilakukan banyak orang untuk mengatasi stres antara lain seperti direkomendasikan Sean Covey sebagai berikut:

Hiduplah sesuai dengan diri Anda, jangan biarkan orang lain mengatur hidup kita. Hiduplah secara mandiri, kembangkan hobi-hobi yang menyenangkan, istirahatlah secara teratur, berekreasi dan berlibur secara teratur, berolahragalah secara teratur, miliki pola makan yang sehat, kalau bisa biasakan puasa Senin-Kamis, khusyuk di dalam beribadah atau melakukan meditasi secara teratur.

 
Yang tak kalah penting ialah membersihkan jiwa dengan cara seperti dilakukan oleh Nabi Nuh. 
 
 

Olahraga secara teratur juga sangat diperlukan, ciptakan filosopi hidup yang positif, optimistis dan realistis di dalam menjalani kehidupan, rasakanlah kehidupan seperti mengalir dan tawakal. Biasakan pula tidur secara teratur, melakukan tadabbur alam secara berkala, katakan ia kalau ia dan tidak kalau tidak, melakukan relaksasi di sela-sela tugas, diusahakan menghindari kebisingan, dan usahakan memecahkanlah persoalan secara  tahap demi tahap.

Memperindah lingkungan kerja dan hunian, jangan terlalu serius, menjauhi hal-hal yang berlebihan, seringlah tertawa, dan yang tak kalah pentingnya jauhi alkohol dan obat-obat penenang, khususnya narkoba.

Cara lain yang direkomendasikan orang ialah mendidik jiwa dengan cara belajar mengelola dunia batin kita sebagai  kunci keberhasilan menyikapi stres, melenturkan jiwa dengan cara melakukan berbagai latihan, terapi, dan meditasi.

Yang tak kalah penting ialah membersihkan jiwa dengan cara seperti dilakukan oleh Nabi Nuh. Jiwa seperti kapal yang memuat berbagai jenis muatan. Perlu latihan membongkar muatan-muatan  jiwa dengan cara sebagai berikut: mencari tempat yang tenang, istirahat dan nyamankanlah diri Anda tetapi  jangan sampai tertidur. Pejamkan mata sambil menghilangkan semua beban pikiran.

Lebih bagus diiringi musik-musik meditasi, memanfatkan dirinya sendiri, melupakan kesewenang-wenangannya. Yang tak kalah menariknya ialah melupakan endapan-endapan kekecewaan masa lampau yang sewaktu-waktu bangkit kembali. ';

Menggapai Titik Ihsan

Di puncak ihsan inilah seorang hamba benar-benar berhati-hati.

SELENGKAPNYA

Fenomena Stres

Siapapun tidak mudah menghindari stres. Yang dapat dilakukan ialah bagaimana mengurangi stres itu sampai dalam batas yang wajar.

SELENGKAPNYA

Habib bin Zaid, Syahid Membawa Pesan Rasulullah

Ketika sakratul maut datang, dalam kepedihan yang tak tertahankan, Habib tetap mempertahankan syahadatnya.

SELENGKAPNYA
×