Petugas PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk area Lampung melakukan pengecekan rutin jaringan gas (jargas) pelanggan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Warung Makan Yanto di Kaliawi, Bandar Lampung, Lampung, Kamis (28/1/2021). Pemilik usaha terbantu deng | ANTARA FOTO/Ardiansyah

Ekonomi

20 Apr 2022, 10:02 WIB

PGN Pasok Gas ke Kilang Tuban

Pasokan gas PGN di GRR Tuban nantinya dapat meningkatkan efisiensi Kilang Pertamina.

JAKARTA — PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk siap memasok gas ke Kilang Tuban, Jawa Timur. Emiten pelat merah berkode saham PGAS itu akan menyediakan infrastruktur pendukung penjualan gas ke PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP), baik melalui land-based LNG terminal maupun pipeline & stations.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, keberhasilan proyek Kilang Tuban nantinya memiliki nilai strategis bagi Pertamina dan Indonesia. Menurut dia, Grass Root Refinery (GRR) Tuban akan menjadi integrated refinery and petrochemical pertama di Indonesia.

GRR Tuban akan menghasilkan produk petrokimia yang saat ini masih didominasi oleh impor sehingga akan menjadi salah satu langkah bagi Indonesia untuk memperbaiki neraca perdagangan dengan mengurangi impor petrokimia. “Dengan kita sudah memproduksi petrochemical, maka ini menjadi strategi bisnis Pertamina dalam menghadapi transisi energi ke depan,” kata Nicke, Selasa (19/4).

Nicke mengatakan, pembangunan integrated refinery petrochemical ini membutuhkan investasi yang besar. Pertamina berupaya menurunkan investasi melalui integrasi. Dengan intergasi ini, lanjut Nicke, beberapa utility tidak perlu dibangun karena mengoptimalkan apa yang sudah dimiliki oleh Pertamina Group dan bisa menurunkan capital expenditure (capex).

“Dari sisi Pertamina Group, sinergi ini adalah sinergi yang harus saling menguntungkan. Kita akan menggunakan market price sebagai dasar mengambil keputusan dan competitiveness. Kita juga tetap berharap dapat mendorong efisiensi karena pada akhirnya ketika efisiensi terjadi akan meningkatkan profitability dan dikonsolidasikan ke Pertamina Group. Ini langkah untuk membesarkan Pertamina Group lebih kuat ke depan,” kata Nicke.

Direktur Logistik & Infrastruktur Pertamina Mulyono mengatakan, pembangunan GRR Tuban mengedepankan efisiensi dalam membangun pipa dari GRR Tuban ke TPPN sekitar tiga kilometer (km). Pembangunan pipa ini bisa mengurangi biaya pembangunan tiga tank di GRR Tuban dan dua jetty.

Dengan volume kebutuhan gas sebesar 227 billion British thermal unit per day (BBTUD) pada 2027 dan 351 BBTUD pada 2028-2046, PGN berkomitmen penuh sebagai aggregator pemenuhan energi gas bumi ke GRR Tuban.

GRR Tuban terletak kurang lebih 55 km dari Pipa Transmisi Gresik-Semarang (Gresem). Pipa Gresem terhubung dengan Pipa EJGP, Pipa Hulu di area Jawa Timur, dan Pipa Kalija di Jawa Tengah, sehingga hal ini dapat dilakukan integrasi infrastruktur pipa dan LNG untuk menyalurkan gas ke Kilang Tuban.

Pasokan gas di GRR Tuban nantinya dapat meningkatkan efisiensi Kilang Pertamina dan meningkatkan nilai keekonomian di Pertamina Group dalam menghadapi tantangan ekonomi dan geopolitik global saat ini.

"Terlepas dari perkembangan situasi global saat ini yang cukup berpengaruh terhadap Pertamina Group, kami tetap memastikan no point of return untuk terus mewujudkan pembangunan kilang GRR Tuban yang diproyeksikan akan beroperasi di akhir tahun 2027 mendatang," kata President Director PRPP Reizaldi Gustino.

Reizaldi mengatakan, penandatanganan head of agreement (HoA) antara PGN dan PRPP dapat menjadi langkah nyata sinergi Pertamina Group yang nantinya dapat memberikan dampak positif dari segi optimasi capex maupun operational expenditure (opex), dampak lingkungan, serta terjaganya keandalan Kilang GRR Tuban.

PGN dan PRPP akan mengelola integrasi jadwal penyediaan gas terhadap master schedule project GRR Tuban serta mengidentifikasi skenario pemenuhan gas dengan pasokan LNG portofolio Pertamina dan gas pipa yang paling optimal.

Untuk supply LNG, kilang PRPP telah menyediakan lahan dan akan membangun jetty untuk sandar kapal besar, termasuk Incoming LNGC. Dengan begitu, skenario supply LNG dengan moda land-based LNG terminal lebih feasible.

Pembangunan integrated refinery petrochemical ini juga menjadi mitigasi dari business risk Pertamina ke depan agar makin sustain. Ketika permintaan bahan bakar minyak (BBM) menurun, kilang Pertamina akan memproduksi petrokimia dan dapat membangun infrastruktur turunannya. ';

Habib bin Zaid, Syahid Membawa Pesan Rasulullah

Ketika sakratul maut datang, dalam kepedihan yang tak tertahankan, Habib tetap mempertahankan syahadatnya.

SELENGKAPNYA

Dirjen Kemendag Tersangka Kelangkaan Minyak Goreng

Perbuatan keempat tersangka dinilai sebagai salah satu penyebab kelangkaan minyak goreng.

SELENGKAPNYA

Wapres Ma'ruf Amin Balas Kelakar Soal Penundaan Pemilu

Wapres Ma'ruf Amin tidak melanjutkan pembicaraan terkait usulan penundaan pemilu dari Cak Imin.

SELENGKAPNYA
×