Santri sepuh membaca Alquran sembari menunggu berbuka puasa di Masjid Agung Payaman, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (19/4/2022). | Wihdan Hidayat / Republika

Opini

20 Apr 2022, 04:00 WIB

Puasa Bulan Kemanusiaan

Sebagaimana puasa, demokrasi harus menjadi jalan rohani kebangsaan yang menyatukan bangsa.

YAQUT CHOLIL QOUMAS, Menteri Agama Republik Indonesia

Bulan Ramadhan tengah dijalani umat Islam sekarang. Pada bulan penuh berkah ini, patut kiranya umat Islam melakukan refleksi, sekaligus muhasabah atas pengalaman berpuasa yang beberapa hari ini telah dilakukan.

Setiap Muslim pasti memiliki catatan personal saat menjalankan puasa dan masing-masing orang mungkin memiliki kesan yang tidak sama. Ada yang merasakan puasa tahun ini nikmat sekali, ada yang biasa-biasa saja, dan ada juga yang tak merasakan apa-apa.

Pada dasarnya, berpuasa bukan sekadar merasakan penderitaan orang miskin yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan perut setiap hari. Puasa juga bukan hanya memindahkan ritme dan waktu makan: dari tiga kali sehari menjadi dua kali sehari.

Dari makan pagi, makan siang, dan makan malam diubah menjadi makan sahur (fajar) dan buka puasa (Maghrib). Mengubah pola dan kebiasaan makan seperti ini sangat mudah dilakukan oleh siapa pun.

 
Takwa merupakan potensi yang menjadikan manusia sekelas malaikat. Sebaliknya, nafsu menjadi pendorong manusia nyaris selevel hayawan (binatang).
 
 

Jika mau masuk lebih ke dalam, mengendalikan hawa nafsu menjadi hakikat dan inti berpuasa. Setiap orang diberikan potensi takwa (dikendalikan hati dan akal) dan fujur (didorong oleh hawa nafsu).

Takwa merupakan potensi yang menjadikan manusia sekelas malaikat. Sebaliknya, nafsu menjadi pendorong manusia nyaris selevel hayawan (binatang).

Nafsu (yang berkolaborasi dengan bujukan setan) inilah yang selama 11 bulan lalu bekerja keras menggoda manusia agar menjauh dari Allah SWT. Dan godaan itu sebagian besar berhasil.

Nafsu hayawaniyyat yang berpangkal pada perut dan di bawah perut, telah berkuasa sedemikian rupa dalam diri manusia. Wujud konkretnya, bukan sekadar doyan makan dan mengumbar seks bebas.

Jika hanya hal ini saja, dunia tetap damai dan Indonesia tetap aman. Bukankah perilaku binatang yang paling buruk sekalipun, ia hanya merugikan diri sendiri dan mengganggu sedikit binatang lainnya.

 
Sejahat-jahatnya singa, misalnya, ia memang akan menganibal binatang lainnya, tetapi tidak mungkin meneror binatang lainnya dengan bom atau sejenisnya.
 
 

Sejahat-jahatnya singa, misalnya, ia memang akan menganibal binatang lainnya, tetapi tidak mungkin meneror binatang lainnya dengan bom atau sejenisnya. Singa juga tidak mungkin memakan anak kandungnya sendiri.

Singa juga masih menyimpan rasa takut jika berhadapan dengan binatang yang lebih kuat atau lebih ganas dari dirinya. Manusia yang menuruti hawa nafsu, bisa lebih ganas daripada hewan. Jika sudah kalap, ia tidak punya rasa takut lagi.

Justru, ia suka menakut-nakuti (teror) orang lain. Publik tidak kekurangan cerita, bagaimana orang tua menghilangkan nyawa anaknya atau sebaliknya. Tanpa alasan yang jelas, seseorang bisa menyakiti atau bahkan menghilangkan nyawa orang lain.

Tidak sedikit orang yang mengaku beriman, giat ikut pengajian, dan rajin shalat di masjid, tetapi hatinya menyimpan dendam kesumat kepada saudaranya sendiri. Bahkan, tega menyakiti atau mencelakakan orang lain.

Saudara seimannya dipermalukan atau dianiaya dengan rasa bangga. Bahkan, dengan melafalkan kalimat tayyibah. Lisannya gemar mengecam saudara seimannya sebagai kafir, penista agama, atau musuh Allah SWT.

 
Saudara seimannya dipermalukan atau dianiaya dengan rasa bangga. Bahkan, dengan melafalkan kalimat tayyibah. Lisannya gemar mengecam saudara seimannya sebagai kafir, penista agama, atau musuh Allah SWT.
 
 

Tak ada lagi prasangka baik bahwa orang lain yang dikecamnya mungkin saja lebih takwa dan lebih baik daripada  dirinya. Hanya karena persoalan duniawi (politik), yang Muslim dikafirkan. Itulah sebagian gambaran bila manusia telah kehilangan sifat kemanusiaannya.

Selama sebulan berpuasa, umat Islam dilatih menjadi manusia sejati. Manusia yang betul-betul manusia, bukan manusia jadi-jadian. Manusia yang menolak dikendalikan hawa nafsu. Manusia yang hatinya terus hidup dan dihidupkan dengan zikir kepada Allah.

Berpuasa mengajak manusia kembali menyadari bahwa dirinya adalah manusia, yang harus berperilaku sebagai manusia dan bertindak yang terbaik dan bermanfaat bagi sesama manusia. Ada baiknya kita bersungguh-sungguh mengambil ibrah dari ibadah puasa yang dikerjakan.

Puasa  mengajarkan kita untuk menjadi orang baik, jujur, dan mengasihi sesama. Sifat-sifat buruk, seperti pendendam, pembenci, penyebar fitnah, merasa paling benar, suka menggunakan kekerasan, dan lain sebagainya, harus dibakar dan dihilangkan pada bulan ini.

Intoleran dan suka membid’ahkan amal ibadah orang lain  merupakan sifat syaitaniyyah yang dapat hilang dengan berpuasa. Pendek kata, Ramadhan dapat menjadi sarana (wasilahtarbiah agar Muslim menjadi berwatak santun, moderat, dan memuliakan sesama manusia.

Esensi dan spirit puasa yang melatih pelakunya agar mampu mengendalikan diri, relevan pula diterapkan dalam kehidupan demokrasi. Demokrasi sering dipahami sebagai kehidupan yang bebas untuk melakukan apa saja.

Atas nama demokrasi, seseorang seperti diberikan kunci untuk seenaknya dan terserah melakukan apa saja. Jika demokrasi diidentikkan dengan kebebasan tanpa batas, demokrasi tidak ubahnya seperti kehidupan rimba.

Yang mayoritas dialah yang kuat. Yang menang memegang kendali segalanya.  Sebagaimana puasa, demokrasi juga harus mampu menahan syahwat kebebasan agar tidak kebablasan.

 
Takwa merupakan potensi yang menjadikan manusia sekelas malaikat.
 
 

Kebebasan berpendapat tanpa batas—khususnya di media sosial—sungguh sangat mengkhawatirkan. Tidak berlaku lagi etika pergaulan di antara warganet. Mereka saling merisak, membenci, menghina, dan mencaci maki.

Di antara mereka saling menyebut dan menjuluki dengan sebutan dan julukan berkonotasi negatif. Seseorang, hanya karena visi, pilihan politik, dan mazhab agamanya berbeda, disematkan sebutan dengan nama-nama binatang.

Komentar dan nyinyiran sadis terhadap orang lain, dianggap sekadar bahan candaan. Kebebasan nirsopan santun semacam ini tak layak diteruskan lagi. Di luar konteks kepemiluan, demokrasi harus dimaknai ulang sebagai etika publik untuk pergaulan yang beradab.

Sebagaimana puasa, demokrasi harus menjadi jalan rohani kebangsaan yang menyatukan bangsa.

Demokrasi tak ada artinya bila justru malah menjadi sarana terjadinya perpecahan dan konflik antarmasyarakat. Demokrasi harus mampu membuat pelakunya sabar dan sanggup untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan esensi demokrasi. ';

Jualan, Tapi Nggak Ada Modal

Bisnis tanpa modal atau jualan tanpa modal itu dibolehkan dengan memenuhi ketentuan tertentu.

SELENGKAPNYA

Rebutlah Keberkahan Ramadhan

Banyak isyarat dalam Alquran agar kita bersegera dalam melakukan kebaikan.

SELENGKAPNYA

Atiqah dan Kesabaran Istri Syuhada

Atiqah sempat menikah empat kali dengan pria-pria terbaik dari generasi awal Islam.

SELENGKAPNYA
×