Alwi Shahab | Daan Yahya/Republika

Jakarta

03 May 2022, 08:00 WIB

Hidup pada Masa Kesulitan Pangan

Bung Karno sangat marah ketika pers, terutama pers Barat, memberitakan Indonesia akan bangkrut.

OLEH ALWI SHAHAB

Jakarta akhir 1959 dan memasuki tahun 1960, harga-harga kebutuhan pokok meningkat tajam. Yang sangat merisaukan, yakni harga beras yang kenaikannya tidak terkendali. Demikian juga, kebutuhan pokok lainnya, seperti minyak tanah dan minyak goreng, sulit didapat.

Selain itu, angka inflasi dari hari ke hari terus meningkat hingga mencapai lebih dari seratus persen. Antre beras dari kebutuhan pokok lainnya merupakan pemandangan biasa di Jakarta ketika itu, terutama di pasar-pasar.

Saya pernah merasakan bagaimana sulitnya untuk mendapatkan beras dengan jalan mengantre. Bung Karno sangat marah ketika pers, terutama pers Barat, memberitakan Indonesia akan collapse (bangkrut).

Bung Karno dengan nada marah membantahnya. Bahkan, bantahannya ini diucapkan pada pidato kenegaraan tanggal 17 Agustus. Bung Karno menjadi tidak senang ketika juru potret kantor berita Antara memuat rakyat sedang rebutan menggumpulkan beras yang tercecer di tengah jalan dari sebuah truk.

 
Bung Karno sangat marah ketika pers, terutama pers Barat, memberitakan Indonesia akan collapse (bangkrut).
 
 

Dia langsung memanggil wartawan yang bertugas di Istana untuk memberitahukan kepada pimpinan Antara ketidaksenangannnya terhadap berita foto tersebut.

Bagi Bung Karno, Indonesia tidak mungkin kekurangan bahan makanan. Karena selain beras, kita juga menghasilkan banyak bahan pangan lainnya, seperti jagung, singkong, ubi, dan sagu. Presiden pertama RI tersebut kerap menganjurkan rakyat agar mau memakan jenis makanan lainnya selain beras. Untuk itu, dia kerap mengajak duta besar asing untuk sarapan di Istana dengan hidangan menu singkong dan ubi.

Dia kerap mengajar dubes Amerika Serikat Howard P Jones yang merupakan kawan akrabnya untuk sarapan di Istana. Padahal, pada 1960-an hubungan Bung Karno dengan Amerika Serikat cukup memanas. Dia kerap mencaci maki AS dalam pidato-pidatonya. Salah satu yang paling menonjol ucapannya, yaitu “Go to hell with your aids” (persetan dengan bantuanmu).

Waktu itu,  pemerintah Orde Lama terkenal otoriter. Dalam situasi “politik menjadi panglima”, pers tidak bebas apalagi dibandingkan dengan masa reformasi sekarang ini. Tahun 1960-an, surat-surat kabar harus memuat artikel “Ajaran-ajaran Bung Karno”  di halaman muka. Demikian juga pidato-pidato dan kegiatan-kegiatannya, pers memuatnya di halaman muka.

 
Waktu itu,  pemerintah Orde Lama terkenal otoriter. Dalam situasi “politik menjadi panglima”, pers tidak bebas apalagi dibandingkan dengan masa reformasi sekarang ini.
 
 

Pelayanan transportasi kala itu buruk sekali. Bus-bus umum jumlahnya belum begitu banyak hingga rakyat banyak memilih naik bus dan pick-up omperengan milik ABRI. Untuk pergi dan pulang dari kantor, rakyat kebanyakan memilih naik opelet. Untuk itu, mereka harus mengantre dan sabar menunggu karena jumlahnya tidak seimbang dengan kebutuhan. Bahkan, banyak mobil sedan milik penumpang yang disewakan semacam taksi sekarang ini.

Mengenang kehidupan masyarakat Kota Jakarta tahun 1960-an kala itu, situasi lalu lintas masih didominasi sepeda dan becak. Belum banyak sepeda motor yang sekarang jumlahnya seabreg-abreg.

Kala itu, sepeda motor didominasi buatan Eropa dan jumlahnya belum banyak. Yang terkenal kala itu merek Norton, Triumph, BSA, dan Harley Davidson. Kala itu, belum ada peraturan naik motor harus pakai helm. Sedangkan, sepeda yang terkenal, Fongers buatan Belanda, Raleigh, dan Simplek. Sepeda kesenangan anak-anak muda, yaitu “sepeda jengki” yang sadelnya ditinggikan.

Waktu itu pencurian motor dan sepeda jarang sekali. Belum dikenal kunci T yang dilakukan pencuri motor yang makin sadis dan brutal  dalam aksinya. Becak ketika itu bebas sekali di jalan-jalan raya dan protokol. Kendaraan roda tiga ini baru ditertibkan pada masa gubernur Ali Sadikin.

Lalu lintas kala itu masih lengang dan belum ada lampu lalu lintas seperti sekarang. Polisi masih memberi aba-aba dengan tangan untuk “setop” dan “jalan” serta polisi lalu lintas ini berdiri di sebuah gardu di tengah jalan. Waktu itu, sudah dikenal adanya polisi yang menerima sogokan. Tapi, setahu saya belum dikenal istilah “Pak Ogah” seperti sekarang. N ed: dewi mardiani

Tulisan ini disadur dari Harian Republika edisi Jumat, 15 Agustus 2013. Alwi Shahab adalah wartawan Republika sepanjang zaman yang wafat pada 2020.


Rebutlah Keberkahan Ramadhan

Banyak isyarat dalam Alquran agar kita bersegera dalam melakukan kebaikan.

SELENGKAPNYA

Atiqah dan Kesabaran Istri Syuhada

Atiqah sempat menikah empat kali dengan pria-pria terbaik dari generasi awal Islam.

SELENGKAPNYA

Alquran Kitab Terbuka

Dengan sikap keterbukaannya itu, justru hingga sekarang tidak ada satu pun yang berdaya menandingi Alquran.

SELENGKAPNYA
×