Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

Kisah Dalam Negeri

Melebur Dosa di Masa Lalu dengan Membakar Mercon

Tak ada suara nyinyir terhadap tindakan boros merayakan Lebaran dengan cara membakar mercon.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Koran De Indische Courant menuding pelaksanaan shalat Id di tanah lapang pada 1934 adalah demonstrasi melepaskan kelas sosial dan ekspresi nasionalisme. Padahal, shalat itu diadakan atas dasar sunah Nabi yang hanya menunaikannya di masjid jika cuaca sedang buruk.

Tapi, tak ada suara nyinyir terhadap tindakan boros merayakan Lebaran dengan cara membakar mercon/kembang api. Untuk tindakan ini, orang Eropa dan Cina di Hindia Belanda juga membakar mercon/kembang api pada saat mereka merayakan tahun baru. Ketika pribumi juga membakar mercon/kembang api pada malam Lebaran, orang-orang Eropa menganggapnya sebagai perayaan tahun baru pribumi.

Pesta mercon/kembang api sudah ada di masa lalu di Eropa. Biasanya untuk menyambut komandan pasukan dari medan perang yang pulang membawa kemenangan. Lalu, waktu mengubahnya untuk pesta tahun baru.

Di Indonesia, pesta mercon ini sudah cukup lama ada. Koran tahun 1900 memuat iklan toko di Medan yang menjual mercon/kembang api. Harganya 10-25 gulden per blek.

 
Koran tahun 1900 memuat iklan toko di Medan yang menjual mercon/kembang api. Harganya 10-25 gulden per blek.
 
 

Kehadiran mercon tak selamanya aman-aman saja. Kebarakan sering terjadi di toko mercon atau di rumah produksi mercon. Toko mercon di Tanah Abang pernah mengalami kebakaran pada pagi hari, Mei 1922.

“Hal itu menimbulkan kekhawatiran besar, tidak terkecuali di antara penduduk setempat, karena rumah-rumah ada dibangun berdekatan satu sama lain. Suara keras mercon, besar dan kecil, meledak satu per satu…,” tulis Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie edisi 24 Mei 1922.

Mercon, kata Muljadi Martosudarma di Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie edisi 21 Desember 1935, berasal dari kata mercu, yang artinya puncak. Membakar mercon berarti menggapai puncak kehormatan setelah sebulan penuh berpuasa. “Ngelebur dosa” bahasa Jawanya. Maka, halaman rumah harus penuh dengan pecahan kertas dari mercon yang meledak.

 
Membakar mercon berarti menggapai puncak kehormatan setelah sebulan penuh berpuasa. “Ngelebur dosa” bahasa Jawanya.
 
 

Kebiasaan membakar mercon/kembang api ini telah menghabiskan uang yang banyak. Uang muka gaji Lebaran separuhnya dihabiskan untuknya. Di Bogor, misalnya, seperti dilaporkan De Sumatra Post edisi 20 Mei 1924, biaya belanja mercon diperkirakan mencapai 40 ribu – 50 ribu gulden pada Lebaran 1924.

Ini angka belanja yang gila untuk kota tempat tinggal Gubernur Jenderal Hindia Belanda itu. Satu perusahaan saja, ada yang membagikan uang muka gaji Lebaran mencapai 10 ribu gulden.

Masalah uang muka gaji Lebaran berlanjut setelah Indonesia merdeka. Pada 1953, pekerja kereta api di Deli mogok karena perusahaan akan memberikan uang muka gaji Lebaran hanya setengah dari gaji kotor per bulan dengan masa pelunasan enam bulan.

Mereka menuntut satu gaji penuh. Komisi Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat memutuskan perusahaan wajib memberikan uang muka gaji Lebaran sebesar 1/12 dari total gaji kotor setahun (yang diberikan dari Lebaran sebelumnya hingga Lebaran berikutnya). Pekerja menerima keputusan ini.

Pada 1950, buruh pabrik mesin menolak kebijakan pemberian uang muka gaji Lebaran yang hanya Rp 40 per pekerja. Pada 1955, pegawai pemerintah di Semarang, juga menolak uang muka gaji Lebaran yang ditentukan pemerintah pusat yang harus dilunasi selama enam bulan. Peraturan Pemerintah Nomor 27/1954 menyebutkan, uang muka gaji Lebaran 1955 ditetapkan sebesar setengah dari gaji bersih bulanan.

Pada 1953, Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) sudah pernah menuntut pemerintah agar pekerja menerima tunjangan mandiri Lebaran, berupa tunjangan hari raya. “SOBSI memandang perlu diadakan pengaturan pemberian tunjangan hari raya yang harus dibayarkan kepada umat Islam menjelang Lebaran, kepada umat Nasrani selambat-lambatnya 1 Januari, dan sebagainya,” tulis Java Bode edisi 20 Mei 1953.

 
Larangan membakar mercon juga mengalami pasang surut sejak awal 1900-an. Motifnya bukan soal pemborosan, tapi soal bahaya kebakaran dan kebisingan.
 
 

Di tengah peliknya pemberian uang muka gaji Lebaran itu, orang-orang tetap membeli mercon. “Seluruh halaman rumah harus ditutupi dengan potongan-potongan kertas dari petasan, suar, dan lain-lain, dan lain-lain, karena ini adalah tanda kemakmuran, tanda kekayaan,” tulis Muljadi Martosudarma di Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie.

Larangan membakar mercon juga mengalami pasang surut sejak awal 1900-an. Motifnya bukan soal pemborosan, tapi soal bahaya kebakaran dan kebisingan. Pada 1938, misalnya, Surabaya melarang bakar mercon hanya di sekitar gereja atau tempat pertemuan. Yaitu dari setengah jam sebelum kebaktian/pertemuan sampai setengah jam setelah kebaktian/pertemuan. Pada 1938 ini pula, Karukunan Rakjat Srabaja mengampanyekan pelarangan bakar mercon selama Lebaran.

Sarekat Islam pada Agustus 1913 melarang anggotanya membakar mercon pada Lebaran yang jatuh pada 1 September 1913. Enam tahun kemudian, pada 1919, menurut De Preanger-Bode edisi 23 April 1919, anggota Sarekat Islam di Serang ditangkap karena menyimpan mercon.

 
Masyarakat Cina di Surabaya dan Batavia pada 1912 melakukan kerusuhan karena ada pelarangan pengibaran bendera dan pembakaran mercon menjelang Imlek.
 
 

Ia membelinya jauh sebelum Lebaran, sebelum ada larangan membakar mercon. Pengurus Sarekat Islam pun menilai, penangkapan ini dilakukan polisi karena yang bersangkutan adalah aktivis Sarekat Islam, organisasi yang saat itu dicurigai pemerintah kolonial.

Pelarangan yang sering mendadak ini tentu membuat rugi orang-orang Cina yang berjualan mercon. Untuk bisa memproduksi/menjual mercon, mereka harus membayar pajak di muka.

Pada 1926, misalnya, pajak mercon di Banten mencapai 200 gulden. Di Priangan 50 gulden dan di Batavia 20 gulden. Untuk pedagang asongan, pajaknya 10 gulden. Masyarakat Cina di Surabaya dan Batavia pada 1912 melakukan kerusuhan karena ada pelarangan pengibaran bendera dan pembakaran mercon menjelang Imlek.

Samarkand Era Gemilang

Kota Samarkand menjadi pusat kekuasaan Dinasti Timuriyah pada abad silam.

SELENGKAPNYA

Telusur Sejarah Kota Samarkand

Samarkand dikuasai pelbagai dinasti sebelum mencapai masa keemasan.

SELENGKAPNYA

Rusia: Serangan Kiev Kian Gencar

Kapal berpandu rudal milik Rusia, Moskva, dilaporkan tenggelam, Kamis (14/4).

SELENGKAPNYA