Seorang mualaf, Susian Khairunnisa, sudah mengenal Islam sejak masih usia anak-anak. | DOK IST

Oase

17 Apr 2022, 06:09 WIB

Hidayah Bagi Susian Khairunnisa dari Kitab Ihya

Hati mualaf ini tersentuh setelah membaca kitab Ihya karya Imam al-Ghazali.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

Ada banyak hal yang dapat mengeraskan hati manusia. Di sisi lain, kalbu pun bisa menjadi lembut. Penyebabnya berkaitan dengan jauh atau dekatnya diri insan tersebut dari Allah SWT.

Seorang mualaf, Susian Khairunnisa, mengaku bersyukur karena hatinya ditakdirkan Allah Ta’ala untuk menerima cahaya iman dan Islam. Ia menduga, dirinya mudah menyambut hidayah Illahi karena terbiasa dengan ajaran tauhid sejak dini. Barangkali, tanpa disadarinya kalbu perempuan tersebut sudah condong pada kebenaran.

Wanita yang kini berusia 39 tahun itu menuturkan lika-liku perjalanan hidupnya hingga berislam. Susian berasal dari Singkawang, Kalimantan Barat. Di kota yang terkenal akan kemajemukan itu, ia tinggal bersama kakeknya. Sebab, ayah dan ibunya telah lama pergi merantau. Bahkan, kedua orang tuanya itu akhirnya “menghilang” tanpa kabar berita.

Sang kakek memeluk Buddha. Dalam keseharian, Susian kecil pun mengikuti agama kakeknya itu. Gadis berdarah Tionghoa ini diajarkan tentang pelbagai ritual keagamaan, termasuk yang dilakukan secara rutin di Wihara.

Susian dimasukkan ke sekolah umum. Di sana, ia mulai mengenal banyak agama selain yang dipeluk kakeknya. Sebagai agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia, Islam tentunya diajarkan kepada para murid setempat.

 
Susian dimasukkan ke sekolah umum. Di sana, ia mulai mengenal banyak agama selain yang dipeluk kakeknya.
 
 

Sejak kelas tiga Sekolah Dasar, Susian memilih untuk ikut mendengarkan pelajaran agama Islam. Padahal, para siswa-siswi yang non-Muslim diperbolehkan untuk meninggalkan kelas setiap jam matapelajaran itu. Akan tetapi, ia lebih suka mengikuti materi tersebut.

Susian ingat, guru matapelajaran agama Islam biasa memulai kegiatan belajar dengan membaca al-Fatihah. Pembacaan surah tersebut dipimpin ketua kelas. Para murid dengan sikap tenang melafalkan ayat-ayat suci itu.

Awalnya, Susian sama sekali tidak bisa mengikuti bacaan al-Fatihah itu. Namun, lama kelamaan dirinya terbiasa mendengarkan kawan-kawannya. Ia akhirnya mampu meniru pelafalan ayat demi ayat surah tersebut.  

Bahkan, Susian bertindak lebih jauh lagi. Setiap pagi, guru agama Islam menyarankan para murid yang Muslim untuk mengikuti shalat Dhuha. Maka masjid sering kali penuh oleh siswa atau siswi yang melaksanakan ibadah sunah tersebut.

Seakan-akan tidak mau ketinggalan dari kawan-kawannya, Susian kecil juga ikut-ikutan shalat Dhuha. Beberapa teman menganggapnya sedang bercanda. Namun, kebanyakan tidak begitu menghiraukannya.

Bagi Susian sendiri, praktik shalat menjadikannya lebih menghayati keseharian seorang Muslim. Sebab, belakangan ia mengetahui bahwa ibadah tersebut justru wajib dikerjakan lima kali dalam sehari. Berbeda dengan shalat dhuha, amalan rutin itu adalah shalat lima waktu.

 
Bagi Susian sendiri, praktik shalat menjadikannya lebih menghayati keseharian seorang Muslim.
 
 

Kemampuannya dalam membaca al-Fatihah serta menghafalkan gerakan-gerakan shalat, barangkali, melunakkan hatinya untuk menerima hidayah Allah SWT. Hingga beranjak dewasa, simpatinya terhadap Islam kian tumbuh.

Hikmah al-Ghazali

Saat berusia remaja, Susian bersekolah di sebuah SMA umum. Seperti dahulu, dirinya pun masih suka mengikuti matapelajaran agama Islam. Bahkan, kini mulai tumbuh rasa cinta terhadap ajaran Nabi Muhammad SAW ini.

Kebimbangan pun menggelayuti hatinya. Secara resmi, agamanya masih Buddha—sama seperti kakeknya. Akan tetapi, kalbunya condong pada Islam.

Karena tidak ingin terus terombang-ambing, Susian muda memutuskan untuk mempelajari berbagai agama di Indonesia—tidak hanya Islam dan Buddha. Keputusannya itu ditunjang dengan hobinya yang gemar melahap banyak buku.

Tiga tahun berlalu, Susian lulus dari SMA. Sebagaimana tradisi keluarganya, ia pun mulai bekerja. Dengan niat mencari pekerjaan, ia merantau ke luar Kalimantan untuk mencari nafkah secara mandiri.

Jakarta menjadi pilihannya. Di Ibu Kota, Susian sempat mengalami krisis spiritual. Hatinya kian gamang dalam memilih tambatan iman. Pada akhirnya, wanita ini mengeklaim dirinya tidak beragama.

 
Jakarta menjadi pilihannya. Di Ibu Kota, Susian sempat mengalami krisis spiritual. Hatinya kian gamang dalam memilih tambatan iman.
 
 

Di kota metropolitan tersebut, ia memiliki sejumlah sahabat. Di antara mereka adalah Muslimah. Beberapa malahan cukup taat dalam beribadah.

Antara Susian dan sahabatnya memiliki kesamaan hobi, yakni membaca buku. Pada suatu hari, perantauan asal Singkawang itu ingin berburu buku di Jakarta. Oleh kawan Muslimnya, ia disarankan untuk mendatangi daerah Kwitang, Senen.

“Saya bertanya tempat membeli buku yang murah, lalu ditunjukkan untuk ke Kwitang. Di sana, ternyata banyak juga buku-buku agama,” ujar Susian kepada Republika beberapa waktu lalu.

Menjumpai deretan buku bertema religi, dahaganya muncul lagi untuk mendalami agama-agama. Ia pun memilih sejumlah buku untuk dibeli. Salah satunya adalah buku terjemahan Ihya Ulum ad-Din karya Imam al-Ghazali.

Saat itu, dia tidak mengetahui siapa dan bagaimana latar belakang penulis kitab tersebut. Bahkan, belum pernah didengarnya seorang tokoh yang dijuluki sebagai Hujjatul Islam itu.

Di kamar indekosnya, Susian membuka buku karya al-Ghazali. Kitab terjemahan itu memiliki banyak bab. Yang paling awal berujudl thaharah, yang berarti ‘bersuci'.

Dalam bab tersebut dijelaskan mengenai wudhu. Al-Ghazali menerangkan, amalan tersebut dapat membersihkan kotoran, baik yang tampak maupun tidak. “Saya membaca kalimat selanjutnya bahwa sebagaimana wudhu, tobat bisa membersihkan diri kita dari dosa-dosa,” kata Susian mengenang.

Kalimat tersebut membuat Susian semakin penasaran untuk membaca keseluruhan terjemah //Ihya Ulum ad-Din// itu. Ada satu bab yang kemudian menarik hatinya. Judulnya adalah dosa.

 
Saya membaca kalimat selanjutnya bahwa sebagaimana wudhu, tobat bisa membersihkan diri kita dari dosa-dosa
 
 

Menurut al-Ghazali, ternyata ada kaitan antara dosa dan doa. Munajat akan dikabulkan Tuhan apabila hati seorang manusia bersih. Dalam arti, bertobatlah terlebih dahulu, untuk kemudian memohonkan permintaan kepada-Nya.

Saat membaca bab tersebut, benak Susian seketika membayangkan sosok ayah dan ibunya. Rindu betul dirinya akan sebuah pertemuan dan kehangatan dari kedua orang tuanya. Sejak masih kecil, ia selalu berdoa, semoga suatu hari dapat berjumpa dengan mereka.

Bahkan, kepindahannya ke Jakarta sesungguhnya merupakan ikhtiar untuk menemukan bapak dan ibunya. Kata-kata yang ditulis al-Ghazali pun selaras dengan panggilan jiwanya. Dengan begitu saja, timbul perasaan sadar sekaligus optimistis dalam dirinya.

Ia menyadari, selama ini dirinya jauh dari agama. Sampai-sampai sempat mendeklarasikan diri sebagai seorang agnostik. Ia pun ingin segera bertobat, kembali pada jalan yang diridhai-Nya.

“Kalimat di buku itu mengandung hikmah, bahwa tobat akan membersihkan dosa-dosa. Maka hati saya pun tergerak untuk segera menjadi Muslimah,” katanya.

photo
Susian Khairunnisa mengingat, buku Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali menjadi jalan baginya memperoleh hidayah. - (DOK IST)

Berislam

Tepat pada 22 Februari 2002, Susian kembali ke kampung halamannya. Tanpa menunggu waktu lama, ia pun lekas mendatangi sebuah masjid di Singkawang. Setelah mengutarakan maksud kedatangannya, imam masjid setempat kemudian mempersilakannya untuk mengikuti prosesi syahadat.

Pada hari itu juga, Susian mengikrarkan dua kalimat tauhid nan agung: “Asyhaduan laa Ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah.” Usai itu, hatinya terasa plong. Ada rasa lega yang luar biasa dalam batinnya. Ia pun menangis terharu.

Oleh ulama setempat, ia disarankan memilih nama baru. Maka dipilihlah nama Khairunnisa. “Saya tidak menghilangkan nama yang diberikan kakek saya sejak lahir yakni Susian. Kini, saya tetap memakai nama Susian dan ditambah nama baru, menjadi Susian Khairunnisa,” jelasnya.

 
Saya tidak menghilangkan nama yang diberikan kakek saya sejak lahir yakni Susian
 
 

Dalam mempelajari ibadah-ibadah wajib bagi seorang pemeluk Islam, Susian tidak mengalami banyak kendala. Sebab, sejak kecil dirinya telah terbiasa dengan bacaan atau praktik-praktik ibadah Islam, semisal shalat lima waktu. Demikian juga dengan pengalaman puasa pertama pada bulan suci Ramadhan.

Kesulitan cukup sukar yang dirasakan Susian terjadi ketika dirinya belajar membaca Alquran. Baginya saat itu, membaca tulisan Arab bukanlah perkara yang mudah. Apalagi, jika membacanya harus benar, sesuai aturan tajwid.

Butuh waktu lama untuknya lancar membaca Alquran. Setiap sore, ia selalu mengaji dengan seorang ustazah. Di samping tadarus, ia pun mendapatkan pengetahuan ihwal fikih sehari-hari.

Dalam hal ibadah, Susian tidak mengalami kesulitan yang begitu berarti. Bagaimanapun, kegetiran sempat dirasakannya karena minimnya dukungan dari keluarga. Bahkan, paman dan bibinya murka begitu mengetahui kabar keislaman dirinya.

Saat itu, kedua orang itu singgah di rumah kakeknya. Pada siang hari, Susian ingin melaksanakan shalat Zhuhur. Sebelumnya, ia pun mengambil wudhu. Langsung saja, sang paman mencibirnya dengan kata-kata kasar.

“’Air di rumah ini bukan untuk Susian nungging-nungging (merujuk pada gerakan rukuk dalam shalat –Red),’ begitu kata paman saya waktu itu,” kenangnya.

Sang paman bertindak lebih jauh. Mukena dan sarung milik Susian dirampas dan lalu dibakarnya. Lelaki itu tidak suka apabila dalam rumah terdapat pemeluk agama yang berbeda. Akan tetapi, wanita ini tetap tegar. Dirinya istiqamah untuk terus mendirikan shalat serta ibadah-ibadah wajib lainnya.

 
Sang paman bertindak lebih jauh. Mukena dan sarung milik Susian dirampas dan lalu dibakarnya.
 
 

Bahwa apapun yang Susian lakukan, dia meyakini bahwa Allah akan menolongnya. Karena yang saat ini dia lakukan adalah hanya untuk beribadah dan menyembah Allah SWT.

Kebulatan tekad Susian dalam berislam pun dibuktikan antara lain dengan kemantapan berhijab. Dengan keterbatasan ekonomi yang ada, ia berusaha untuk selalu menutup aurat. Baginya, mengenakan kain penutup aurat terasa lebih nyaman dan terlindungi. Kini, ia juga telah rutin memasang niqab.

Hidupnya kemudian berangsur-angsur mulai membaik. Beberapa tahun sejak keislamannya, Susian memutuskan untuk menikah dengan seorang pria Muslim. Pasangan tersebut kini telah dikaruniai dua anak.

Susian dengan setia dan kesungguhan selalu mendampingi suami. Sang kepala keluarga mencari nafkah dengan jalan wiraswasta. Sang istri pun dengan sabar membantu usaha suaminya di tengah kesibukan mengurus rumah tangga.

Merenungi perjalanan hidupnya, Susian tak henti-hentinya memanjatkan rasa syukur. Ia sangat bahagia karena Allah menakdirkannya untuk berislam.

Ada satu ayat dalam Alquran yang ia coba maknai. Firman Allah SWT yang terus dia ikhtiarkan dalam penerapan serta penghayatan di kehidupan sehari-hari. Dalam surah al-Baqarah ayat 153, Dia berfirman, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”

“Maka ketika menghadapi kesulitan, saya akan tetap bersabar dan memperbaiki shalat saya. Yakinlah, Allah pasti akan menolong hamba-hamba-Nya,” kata dia.


An-Nawar, Madrasah Sang Pencatat Wahyu

Kecerdasan dan keimanannya yang kuat membentuk sosok pribadi berkualitas.

SELENGKAPNYA

Lepas Subuh, Israel Kembali Serang Al-Aqsa

Sedikitnya 90 warga Palestina luka-luka akibat serangan militer Israel ke Masjid al-Aqsa.

SELENGKAPNYA

Rusia: Serangan Kiev Kian Gencar

Kapal berpandu rudal milik Rusia, Moskva, dilaporkan tenggelam, Kamis (14/4).

SELENGKAPNYA
×