Asma Nadia | Daan Yahya | Republika

Resonansi

16 Apr 2022, 03:45 WIB

Klitih dan Adab di Jalanan

Islam sejak lama mengantisipasi klitih dengan adab bermasyarakat

OLEH ASMA NADIA 

Tidak ada yang menyangka sahur dini hari itu menjadi sahur terakhir bagi Dafa. Sebuah sabetan gir besi menghantam kepala dan merenggut nyawanya.

Bermula dari kejadian sederhana. Deru motor yang dikendarai kelompoknya dianggap menyinggung kelompok motor lain hingga terjadi keributan. Rupanya, bagi kelompok motor penyerang, mempersiapkan diri dengan senjata adalah bagian dari keseharian.

Kelompok pemuda yang pergi sahur tak siap dengan keributan dan menjadi korban. Kejadian ini, satu dari rentetan peristiwa klitih yang marak. Mudah sekali menemukan video seputar klitih.

Video sekelompok remaja dengan pedang mengejar pengendara motor, tangkapan CCTV adegan motor cepat yang dikejar kelompok motor lain, beragam video perundungan atau sekelompok pemuda mengebut secara serampangan, beredar luas.

 
Kelompok pemuda yang pergi sahur tak siap dengan keributan dan menjadi korban. Kejadian ini, satu dari rentetan peristiwa klitih yang marak. Mudah sekali menemukan video seputar klitih.
 
 

Kosa kata klitih sendiri masih asing bagi sebagian orang. Meski makin kerap trending di media sosial, ia tak tercantum di KBBI bahkan di google terjemahan atau padanan kata dari bahasa Jawa ini pun belum masuk kosa kata tercatat.

Dari berbagai literasi  diketahui, klitih berasal dari kata ulang salin suara atau kata ulang berubah bunyi klitah-klitih yang berarti keluyuran yang tak jelas arahnya.

Sederhananya, didefinisikan kegiatan keluar rumah atau jalan mencari udara segar sekadar menghilangkan kepenatan di malam hari. Sementara, istilah nglitih digunakan untuk menggambarkan kegiatan jalan-jalan santai.

Makna yang dulu ramah dan tak membahayakan siapapun jauh bergeser sebab klitih saat ini identik aksi kekerasan bersenjata di malam hari oleh kelompok anak muda.

Aksinya pun beragam mulai dari serangan acak terhadap orang yang dianggap mencari masalah, sasaran tertarget seperti geng lawan atau sekadar bentuk ugal-ugalan demi membuktikan kejantanan.

Sejatinya, klitih populer sejak akhir 2014 untuk menggambarkan aksi kekerasan di kalangan pelajar dan remaja. Para pelaku yang rata-rata berstatus pelajar, menggunakan kesempatan itu untuk berjalan-jalan dan mencari sasaran perundungan.

 
Makna yang dulu ramah dan tak membahayakan siapapun jauh bergeser sebab klitih saat ini identik aksi kekerasan bersenjata di malam hari oleh kelompok anak muda.
 
 

Pada 2016, Polda DIY mancatat klitih sebagai salah satu hal yang harus menjadi perhatian. Selama 2016 aparat kepolisian di Yogyakarta mencatat 43 kasus klitih. Lama tak muncul dalam pemberitaan, klitih kembali menjadi fenomena viral.

Kini, tak hanya di Yogyakarta juga merambah Jawa Tengah. Desember 2021 sempat muncul tagar  #YogyaTidakAman #SriSultanYogyaDaruratKlithih yang menjadi perbincangan ramai di media sosial.

Fenomena meresahkan ini tak berhenti, malah kian menjadi-jadi. Siapa pun prihatin. Apalagi terjadi di wilayah yang terkenal atas keramahan warganya.

Sri Sultan ketika dicegat media telah meminta aparat bertindak tegas termasuk terhadap remaja yang mungkin akan berlindung di balik belia usia mereka. Entah kapan situasi mencekam dan merampas rasa aman warga setempat, akan berakhir. 

Islam sejak lama mengantisipasi klitih dengan adab bermasyarakat, saat nongkrong atau bersantai-santai di ruang publik.

 
Islam sejak lama mengantisipasi klitih dengan adab bermasyarakat, saat nongkrong atau bersantai-santai di ruang publik.
 
 

Dalam sebuah hadis, dari Abu Sa’id al-Khudri RA bahwasanya Rasulullah SAW mengatakan: “Janganlah kalian duduk-duduk di (pinggir-pinggir) jalan!”. Lalu mereka berkata: “Wahai Rasulullah! Kami tidak punya (pilihan) tempat duduk-duduk untuk berbicara (di sana).”

Beliau bersabda: “Bila tidak bisa kalian hindari selain harus duduk-duduk (di situ) maka berilah jalan tersebut haknya!.” Mereka berkata: “Apa hak jalan itu, wahai Rasulullah?”

Beliau bersabda: “Memicingkan pandangan, mencegah (adanya) gangguan, menjawab salam, serta mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.” (HR Muttafaqun ‘alaihi).

Sejak dulu, Rasul memahami potensi buruk kebiasaan nongkrong. Karena itu, Muslim dilarang melakukannya kecuali berkomitmen untuk membantu.

Bayangkan jika mobil yang kita tumpangi mogok dan anak-anak yang bergerombol di pinggir jalan ringan tangan membantu mendorong. Atau jika wajah belia di sana dengan senyum ramah memberi tahu arah ketika pengendara tersasar.

Bukan sebaliknya, membuat pengendara menginjak gas dalam-dalam, panik, dan berupaya melepaskan diri dari kelompok pemuda yang mengejar sambil memain-mainkan senjata tajam di atas motor mereka.

Nongkrong dalam Islam justru menjadi aset bagi keamanan lingkungan, boleh selama menjaga pandangan. Bukan malah mengganggu perempuan yang lalu lalang, yang sering menjadi penyebab keributan lalu menyinggung lelaki lain.

 
Nongkrong dalam Islam justru menjadi aset bagi keamanan lingkungan, boleh selama menjaga pandangan.
 
 

Menjaga pandangan juga berarti menahan kesabaran, menjaga pendengaran, serta rangsangan pancaindra terhadap masalah. Suara keras knalpot, misalnya, tak perlu memicu emosi --dibawa sabar - seharusnya tak sulit khususnya di momen Ramadhan.

Banyak asa agar klitih segera berakhir. Namun masalah klitih tak hanya bertumpu pada persoalan hukum dan penegakannya, juga pengasuhan orang tua di rumah, pendidikan akhlak di sekolah, serta kedekatan anak dan remaja pada nilai-nilai agama.

Semoga tak ada lagi korban kekerasan dan nyawa yang terbang di tangan anak-anak muda pelaku klitih. Semangat bergerombol, semangat menggenggam senjata, seharusnya dikembalikan pada masa dulu sekali.

Ketika pemuda pemudi kita  beramai-ramai menghunus  bambu runcing --bukan untuk menganiaya sesama rakyat-- melainkan melawan penjajah, demi kemerdekaan. 


Lepas Subuh, Israel Kembali Serang Al-Aqsa

Sedikitnya 90 warga Palestina luka-luka akibat serangan militer Israel ke Masjid al-Aqsa.

SELENGKAPNYA

Tol Japek Krusial Hadapi Puncak Arus Mudik Lebaran

Tol Japek dan penyeberangan Merak-Bakauheni diprediksi padat signifikan saat puncak arus mudik.

SELENGKAPNYA

Puasa dan Ukhuwah Kebangsaan

Semangat ukhuwah ini memberi pemantik agar sesama Muslim mampu menjaga keamanan dan ketertiban bersama.

SELENGKAPNYA
×