Tajuk
Kendalikan Harga Kebutuhan Pokok
Melonjaknya harga berbagai komoditas kebutuhan pokok saat Ramadhan ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Setiap kali bulan suci Ramadhan tiba, masyarakat di Tanah Air selalu dihadapkan dengan meroketnya harga-harga kebutuhan pokok. Bahkan, jauh hari sebelum Ramadhan datang menyapa, masyarakat, terutama kaum ibu, sudah dibuat pusing dengan lonjakan harga minyak goreng kemasan dan langkanya minyak goreng curah.
Selain minyak goreng, komoditas yang paling melejit harganya di pasar-pasar tradisional adalah daging sapi. Di pasar tradisional Kota Bandar Lampung, misalnya, harga daging sapi naik dari Rp 130 ribu per kilogram menjadi Rp 150 ribu per kilogram. Bahkan, di pasar tradisional Depok, Jawa Barat, daging sapi naik hampir 20 persen dari Rp 120 ribu per kilogram menjadi Rp 150 ribu.
Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Depok juga menemukan lonjakan harga ayam broiler yang mencapai 6o persen, yakni dari Rp 30 ribu per kilogram menjadi Rp 50 ribu per kilogram. Berdasarkan pantauan Republika, harga komoditas kebutuhan pokok lain yang juga mengalami kenaikan, antara lain, bawang putih dari Rp 25 ribu menjadi Rp 27 ribu per kilogram.
Harga telur ayam, cabai merah, cabai rawit, dan aneka sayuran yang menjadi kebutuhan masyarakat di bulan suci Ramadhan juga turut terkerek. Harga minyak goreng kemasan di Pasar Sukatani, Depok, berada dikisaran Rp 26 ribu hingga Rp 27 ribu per liter. Bahkan, di Solok Selatan, Sumatra Barat, masyarakat masih kesulitan untuk mendapatkan minyak curah. Di berbagai pasar di wilayah itu, minyak curah masih langka.
Melonjaknya harga berbagai komoditas kebutuhan pokok saat Ramadhan ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Bahkan, seharusnya pemerintah telah mengantisipasi lonjakan harga kebutuhan pokok ini sejak jauh-jauh hari. Apalagi, fenomena meningkatnya permintaan terhadap komoditas kebutuhan pokok selalu terjadi setiap datangnya Ramadhan dan Lebaran.
Melonjaknya harga berbagai komoditas kebutuhan pokok saat Ramadhan ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Terkait harga-harga komoditas kebutuhan pokok selama Ramadhan, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Suhajar telah meminta para sekretaris daerah (sekda) melakukan update harga bahan pangan. Para sekda harus melaporkan perkembangan harga tersebut kepada gubernur serta pejabat terkait.
Sekjen Kemendagri juga mengingatkan kepada daerah-daerah yang mengalami kenaikan atau penurunan harga komoditas yang ekstrem untuk melakukan intervensi kestabilan dan ketahanan pangan. Kemendagri meminta para sekda untuk memastikan stabilisasi ketersediaan dan harga 12 bahan pokok. Intinya, Kemendagri meminta para sekda sebagai ketua satuan tugas pangan daerah memastikan stok kebutuhan pokok aman dan harga terkendali.
Instruksi Sekjen Kemendagri ini tentu sudah tepat. Namun, apakah setiap pemerintah daerah memiliki kemampuan untuk memastikan stok kebutuhan pokok tersedia dan harganya terjangkau. Dalam kasus minyak goreng, misalnya, pemerintah daerah justru sangat tergantung dengan kebijakan pemerintah pusat. Apalagi, tak semua daerah memiliki anggaran yang cukup untuk mengintervensi harga dan ketersediaan.
Karena itu, penting bagi pemerintah pusat dan daerah untuk memberi perhatian terhadap ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok. Saat ini, beban masyarakat kian bertambah berat. Pandemi yang mulai mereda belum sepenuhnya memulihkan kondisi ekonomi kita. Bahkan, akhir-akhir ini masyarakat justru berturut-turut mendapat kado kenaikan harga, seperti bahan bakar Pertamax, gas elpiji, serta kenaikan PPN.
Ketika terjadi kelangkaan dan harga sudah tak wajar, pemerintah harus segera melakukan operasi pasar melalui bazar murah Ramadhan.
Agar masyarakat bisa khusyuk menjalankan ibadah puasa, pemerintah pusat dan daerah harus bersama-sama meningkatkan pasokan dan ketersediaan bahan pokok. Distribusi bahan pokok juga harus mendapat perhatian serius. Jangan sampai truk-truk pengangkut bahan pokok, misalnya, kesulitan mendapatkan solar.
Ketika terjadi kelangkaan dan harga sudah tak wajar, pemerintah harus segera melakukan operasi pasar melalui bazar murah Ramadhan. Sudah menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dan pusat untuk menjamin tersedianya bahan kebutuhan pokok secara melimpah dengan harga terjangkau. Kuncinya, pemerintah daerah dan pusat harus memperkuat komunikasi dan koordinasi.
Kita juga berharap masyarakat makin bijak dalam berbelanja. Berbelanjalah sesuai kebutuhan. Hindari panic buying atau memborong kebutuhan pokok secara berlebihan.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
